Senin, 17 September 2012

Ukhuwah Islamiah Beginikah

Cara menyatukan umat Islam

Ada beberapa kelompok yang mengaku aku sebagai Salafi

1. Pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab (Salafi Wahabi) yang mengharamkan demo dan pergerakan (harakah). Mereka menyebut salafi yang berseberangan dengan mereka sebagai hizbiyyun atau sururi


2. Pengikut ulama seperti ust Abu Bakar Ba'Asyir yang bependapat jihad hanya di daerah konflik

3. Pengikut yang menamakan diri mereka mujahidin, rela bom bunuh diri di manapun dan bunuhlah orang kafir di manapun seperti yang mereka sampaikan pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2012/09/indoktrinisasi-jihad.pdf

Kesimpulannya untuk menegakkan Ukhuwah Islamiyah atau menyatukan umat Islam maka seluruh umat Islam sebaiknya meninggalkan pola pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah dari ke dua jalur yakni

Jalur ulama Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya yang dinamakan Salafi Wahabi

Jalur ulama Jamaluddin Al-Afghani dengan ulama Muhammad Abduh dan para pengikutnya yang dinamakan Salafi Haraki, Salafi Jihadi, Salafi Sururi, Quthbiyun dan lain-lain. Jalur inilah yang diikuti oleh warga ormas Muhammadiyah maupun warga PKS dan lain lain

Kaum muslim untuk menegakkan Ukhuwah Islamiyah sebaiknya kembali hanya mengikuti Imam Mazhab yang empat secara murni , kalau di negara kita mengikuti Imam Syafi'i ra

Agama Islam terdiri dari tiga pokok yakni

Tentang Islam diuraikan dalam ilmu fiqih

Tentang Iman diuraikan dalam akidah atau i’tiqod atau ushuluddin

Tentang Ihsan diuraikan dalam tasawuf

Laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia berkata, ‘Kamu benar.’ Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan serta beriman kepada takdir semuanya’. Dia berkata, ‘Kamu benar’. Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu. (HR Muslim 11)

Tentang Islam atau perkara syariat atau Ilmu fiqih, kita tinggal mengikuti Imam Mazhab yang empat dan para pengikutnya. Tidak perlu menyibukkan diri atau membuang-buang waktu mengulang kembali apa yang telah dikerjakan oleh Imam Mazhab yang empat

Tentang Iman atau akidah atau i’tiqod atau ushuluddin, kita tinggal mengikuti Imam Asy’ari (bermazhab Imam Syafi’i) dan Imam Maturidi (bermazhab Imam Hanafi) dan para pengikutnya. Dalam masalah i’tiqod diantara mazhab yang empat tidak ada perbedaan karena i’tiqod bukanlah masalah yang bersifat furu’iyyah. Kesalahpahaman dalam i’tiqod menyebabkan terjerumus kedalam kekufuran dalam i’tiqod

Tentang Ihsan atau tasawuf / akhlak, kita tinggal mengikutii ulama-ulama tasawuf yang mutakbaroh dan bermazhab dengan Imam Mazhab yang empat.

Imam Syafi’i ~rahimahullah menasehatkan kita agar mencapai ke-sholeh-an sebagaimana salaf yang sholeh adalah dengan menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih sekaligus menjalankan tasawuf untuk mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan

Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]

Imam Malik ~rahimahullah menasehatkan agar kita menjalankan perkara syariat sekaligus menjalankan tasawuf agar tidak menjadi manusia yang rusak (berakhlak tidak baik).

Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (menjalankan syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fiqih (menjalankan syariat) tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar“

Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”

Imam Nawawi ~rahimahullah berkata : “Pokok-pokok metode ajaran tasawuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawuf halaman : 20, Imam Nawawi)

Salah satu pelopor tasawuf dari kalangan Tabi’in , Al Hasan al-Basri ra (Madinah,21H/642M – Basrah,110 H/728M) , berkata: ”Barangsiapa yang memakai tasawuf karena tawaduk (kepatuhan) kepada Allah akan ditambah Allah cahaya dalam diri dan Hatinya, dan barang siapa yang memakai tasawuf karena kesombongan kepadanya akan dicampakkan kedalam neraka”.

Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.