Disamping seorang sufi, Abu Yazid al-Busthami juga seorang ulama besar ahli tasawuf di masanya. Diantara jamaahnya ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak. Karena telah memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang menunjukkan keshalehannya, seperti baju putih, sorban dan wewangian.
Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Abu Yazid gurunya: “Tuan Guru, saya sudah beribadah 30 tahun lamanya. Saya shalat setiap malam dan puasa setiap harinya. Tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman ruhani yang Tuan Guru ceritakan. Saya tidak pernah menyaksikan apapun yang pernah Tuan Guru gambarkan.”
Abu Yazid menjawab: “Sekiranya kamu beribadah selama 300 tahun sekalipun, kamu tidak akan mencapai satu butir pun debu mukasyafah (tersingkapnya hijab) dalam hidupmu.”
Murid itu menjadi terheran, lalu bertanya kembali: “Mengapa bisa begitu Tuan Guru?”
“Karena kamu tertutup oleh dirimu,” jawab sang Guru.
“Bisakah kamu obati aku agar hijab itu tersingkap?” pinta sang murid.
“Bisa, tapi kamu tidak mungkin akan melakukannya”, jawab Abu Yazid
“Tentu saja akan aku lakukan,” sanggah sang murid itu.
“Baiklah kalau begitu, sekarang tanggalkan pakaianmu. Sebagai gantinya pakailah baju yang lusuh, sobek dan compang-camping. Gantungkan di lehermu kantung berisi kacang, pergilah ke pasar dan kumpulkan sebanyak mungkin anak-anak kecil di sana. Katakan pada mereka, “Hai anak-anak, barangsiapa di antara kalian yang mau menampar aku satu kali, aku beri satu kantung kacang”. Lalu datangilah tempat dimana jamaah kamu sering mengagumimu. Katakan juga pada mereka, “Siapa yang mau menampar mukaku, aku beri satu kantung kacang”, pinta Abu Yazid.
“Subhaanallah, Maasyaa Allah, Laailaaha ilallaah”, kata murid itu terkejut.
“Jika kalimat-kalimat suci itu diucapkan oleh orang kafir, ia berubah menjadi mukmin. Tapi kalau kalimat itu diucapkan oleh seorang sepertimu, kamu berubah dari mukmin menjadi kafir”, kata Abu Yazid.
Murid itu kembali keheranan: “Mengapa bisa begitu?”
Abu Yazid menjawab: “Karena kelihatannya kamu sedang memuji Allah, padahal sebenarnya kamu sedang memuji dirimu. Ketika kamu mengucapkan “Subhanallah”, seakan-akan kamu mensucikan Tuhan padahal kamu menonjolkan kesucian dirimu.”
“Kalau begitu, berilah saya nasihat yang lain”, pinta sang murid.
Abu Yazid menjawab: “Bukankah aku sudah bilang, kamu takkan mampu melakukannya?”
*******************
Kisah ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Abu Yazid mengajarkan bahwa orang yang sering beribadah mudah terkena penyakit ujub dan takabur.
“Hati-hatilah kalian dengan ujub,” pesan Iblis. Dulu Iblis beribadah ribuan tahun kepada Allah. Tetapi karena takaburnya terhadap Adam, Tuhan menjatuhkan Iblis ke derajat yang serendah-rendahnya.
Takabur dapat terjadi karena amal atau kedudukan kita. Kita sering merasa menjadi orang yang penting dan mulia. Abu Yazid menyuruh kita menjadi orang hina agar ego dan keinginan kita untuk menonjol dan dihormati segera hancur, yang tersisa adalah perasaan tawadhu’ dan kerendah-hatian. Hanya dengan itu kita bisa mencapai ke hadirat Allah Swt.
Orang-orang yang suka mengaji juga rentan jatuh kepada jurang ujub. Mereka merasa telah memiliki ilmu yang banyak.
Suatu hari, seseorang datang kepada Nabi Saw.: “Ya Rasulallah, aku rasa telah banyak mengetahui syariat Islam. Apakah ada hal lain yang dapat kupegang teguh?”
Nabi Saw. Menjawab: “Katakanlah “Tuhanku Allah, kemudian beristiqamahlah kamu.”
Ujub seringkali terjadi di kalangan orang yang banyak beribadah. Orang sering merasa ibadah yang ia lakukan sudah lebih dari cukup sehingga ia menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan. Ia menganggap ibadah sebagai investasi.
Orang yang gemar beribadah cenderung jatuh pada perasaan tinggi diri. Ibadah dijadikan cara untuk meningkatkan statusnya di tengah masyarakat. Orang itu akan amat tersinggung bila tidak diberikan tempat yang memadai statusnya. Sebagai seorang ahli ibadah, ia ingin disambut dalam setiap majelis dan diberi tempat duduk yang paling utama.
Dari kisah ini pula kita dapat mengambil hikmah bahwa ujub dan takabur menjadi penghalang naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Penawarnya hanya satu, belajarlah menghinakan diri kita serendah mungkin seperti yang dinasehatkan Abu Yazid al-Busthami kepada muridnya.
Iman Ilmu Amal ...... Karena yg berhak bicara adalah yang diamnya menganiaya agama dan bicaranya dapat menyingkirkan kezaliman. Ingat Kebodohan itu obatnya ilmu, bukan iman. Beriman tanpa pengetahuan ya tetap bodoh. Makanya, ayat pertama ke Nabi dimulai dgn "Bacalah!"
Selasa, 20 Januari 2015
Diantara Kisah Tauladan Abu Yazid Albustomi
Jumat, 16 Januari 2015
Poligami sunnah Nabi ?
[ Cuplikan Buku KMM ] ~ Monogami juga Sunnah Nabi ~
_
Seringkali isu poligami dijadikan alat untuk menyerang ajaran agama Islam oleh “orang luar”, dan dijadikan legitimasi “orang dalam” untuk menyakiti hati para muslimah.
Saya sungguh berharap para pembaca sekalian, terutama yang muslimah, untuk tetap mantap beragama Islam. Masalah poligami akan coba saya bahas dengan perspektif yang mungkin belum pernah Anda sekalian tahu.
Untuk mengawalinya, saya sengaja pakai metode bercerita, agar Anda lebih mudah mengenal inti agama Islam. Syukur-syukur Anda bisa jadi tangguh membela kanjeng nabi dari aneka fitnahan.
Maka dari itu, agar kita makin cinta pada beliau dan tidak berprasangka negatif lagi tentang poligami yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, kita lakukan bedah potongan "ayat poligami" dulu.
Fankihuu maa thaaba lakum minannisa-i matsnaa wa tsulaatsaa wa rubaa’a fa in khiftum al laa ta’diluu fa wâhidah. Kira-kira terjemahannya seperti ini; Maka nikahilah apa yang baik menurut kalian, daripada wanita-wanita; dua-dua-dua, tiga-tiga, atau empat-empat, (tetapi) jika kalian takut tidak dapat bersikap adil, maka (sebaiknya) hanya seorang (istri) saja.
Inilah bunyi dan terjemahan potongan Surat An-Nisaa ayat ke-3 yang bisa kita jadikan kunci memahami poligami dalam Islam. Sebenarnya ayat tersebut agak panjang, tapi kita ambil inti ayatnya saja, karena kita hanya akan fokus membahas syarat poligami.
Memang menimbulkan kontroversi hati, kalau kita hanya berhenti di terjemahan bahasa Indonesianya saja. Kalau kita menafsirkan potongan ayat tersebut hanya mengandalkan terjemahan bahasa Indonesia saja, maka wajah agama Islam jadi seolah kejam dan tidak “perempuaniawi”.
***
Kalau menurut ulama Ahlussunah wal Jama'ah, potongan ayat tersebut justru adalah anjuran untuk monogami. Hal ini didasari oleh sifat dari struktur kalimat potongan ayat tersebut yang cenderung bukan bunyi kalimat perintah.
Potongan Surat An-Nisaa ayat 3 tersebut lebih ditafsiri sebagai kalimat "perkenan". Sama sekali bukan kalimat bernada anjuran untuk poligami. Bingung bedanya antara istilah perkenan dengan istilah anjuran?
Agar lebih paham bedanya, saya kutipkan lagi pendapat alim ulama dari kalangan sufi saja, karena cara membedakan kedua nada potongan firman Allah tersebut lebih jelas bila melalui metode olah batin. Maksudnya, meresapi bunyi ayat tersebut memakai sistem perasaan yang paling halus.
Potongan Surat An-Nisaa ayat 3 tersebut pada dasarnya adalah cara Allah SWT untuk mengajak umat Islam berdiskusi dari hati ke hati.
Bisa kita mulai dengan melihat sejarah dan konteks turunnya ayat tersebut, yang tentu adalah zaman kanjeng nabi. Dahulu, saat ayat ini hendak diturunkan, banyak orang Arab melecehkan kaum perempuan yang miskin dengan cara menikahinya.
Seorang bangsawan yang kaya raya waktu itu biasa menikah sampai puluhan kali. Malah ada orang Arab di zaman dahulu itu punya istri hingga 300 orang. Sedangkan salah satu misi besar kanjeng nabi adalah mengubah kultur masyarakat Jazirah Arab yang kurang memanusiakan kaum hawa.
Allah SWT pun membekali baginda rasul dengan sebuah ayat yang sangat revolusioner; umat Islam hanya boleh punya istri maksimal sampai 4 saja.
Kalangan sufi menilai bahwa redaksi asli ayat tersebut, bila dicecapi memakai olah batin, akan jadi berubah "bunyinya". Ayat poligami tersebut justru adalah anjuran kepada umat Islam untuk senantiasa tidak melampaui batas.
Poligami itu boleh, tapi harus dibatasi, dan justru sebaiknya malah meninggalkan praktik poligami sama sekali. Bukankah jelas terlihat Gusti Allah memberikan anak kalimat, bahwa kalau takut tidak bisa berbuat adil, maka cukup satu istri saja?
Ini titik kecil tapi sangat rawan.
Istilah "adil" bagi tiap orang berbeda-beda, maka juga akan menimbulkan reaksi yang berbeda. Sebagian orang tetap poligami, karena sangat percaya diri bisa berbuat adil. Sebagian orang memilih monogami, karena memiliki kesadaran pribadi bahwa Gusti Allah sedang "menyindir".
Tidak ada manusia yang bisa berbuat adil kepada semua istri. Istilah "adil" di sini, menurut tafsir para ulama Ahlussunah wal Jama'ah, adalah tentang keadilan pembagian kasih sayang. Bukan masalah keadilan aspek duniawi, cuma masalah pembagian jadwal menginap, dan masalah nafkah lahiriah.
Hal inilah yang membuat para ulama ahli fikih cenderung lebih memilih monogami saja. Para ahli fikih sudah dapat membaca jelas adanya sentilan dari Gusti Allah di ayat tersebut.
Diksi in (jika) dalam ayat ketiga Surat An-Nisaa, berbeda dengan diksi idza, yang secara sastrawi memberikan kesan sesuatu yang sulit, bahkan cenderung mustahil terjadi.
Adil membagi cinta itu luar biasa sulit. Para alim ulama hanya mau berpoligami kalau ada alasan darurat, itupun masih memakai metodenya kanjeng nabi. Keliling ditawarkan ke banyak orang lain dulu, dan baru dinikahi kalau memang tidak ada yang mau.
***
Poligami ala Rasulullah SAW bukanlah poligami yang asal-asalan. Ada ilmu dan metodenya, juga disertai syarat yang sangat berat. Misalnya, sedang terjadi peperangan yang membuat jumlah janda meningkat drastis, seperti zaman Rasulullah SAW dahulu.
Struktur sejarah hidup kanjeng nabi sendiri sebenarnya bisa dijadikan dalil agama. Kalau mau menang-menangan durasi, Nabi Muhammad SAW (hanya) beristri Bunda Khaddijah r.a. bisa selama 25 tahun, sementara masa poligami beliau kurang dari 10 tahun saja.
Mohon Anda sekalian jangan lantas memfitnah saya anti-poligami, karena saya sebenarnya sudah berdiri di luar isu poligami-monogami.
Mohon kita jangan terpaku pada “bungkus”. Mohon kita beragama secara cerdas dan arif. Agama Islam disebut agama anugerah, karena tujuannya adalah memberikan kemashlahatan umum.
Kalau memang sudah bahagia dengan satu istri, tidak mampu berbuat adil, dan tidak ada alasan darurat, lantas kenapa cari-cari lagi? Bukankah lebih baik memberdayakan energi yang tersisa untuk melakukan sunnah-sunnah nabi lainnya?
Diperbaiki puasa sunnah Senin-Kamisnya dulu, dirutinkan shalat malamnya dulu, atau coba dimulai kebiasaan membaca Al-Qur’an satu hari minimal satu juz dulu.
Sebagai penutup, saya menyatakan mendukung praktik-praktik poligami yang sesuai sunnah nabi, yaitu menikahi para janda yang sudah tua dan punya tanggungan anak banyak. Atau menikahi perempuan-perempuan cacat fisik yang sudah yatim-piatu.
Kalau tidak mau dan tidak mampu, alangkah baiknya bila berbahagia dengan satu istri saja.
[ dikutip dari Bab 2, halaman 58-64, buku "Kembali Menjadi Manusia", dan bisa di dapatkan di jaringan toko buku GRAMEDIA atau TOGAMAS. Selain itu, bagi yang tinggal di daerah pinggiran atau luar negeri, bisa pesan via online. Ilustrasi oleh Ibu Irawati. ]
Pesan terakhir: Semua ilmu yang ada di tulisan ini belum tentu benar, tapi Allah tahu kita sedang mencari kebenaran. Masih sangat jauh dari sebuah tulisan yang baik, tapi Allah tahu kita sedang mencari kebaikan. Insya Allah, meski kalian membacanya sambil mengantuk, meski kalian membacanya sambil tidak setuju, bahkan meski kalian membacanya tanpa berpikir, asal kalian tulus ingin cari ilmu, maka ubun-ubun kalian akan dibukakan Malaikat Jibril, untuk bisa menerima ilmu-ilmu yang sejati.
Senin, 12 Januari 2015
Wanita Karier
Jadikan ini sebuah renungan
Sore itu sembari menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Kulihat seseorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan tertutup sedang duduk disamping masjid. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang juga. Aku mencoba menegurnya dan duduk disampingnya, mengucapkan salam, sembari berkenalan.
Dan akhirnya pembicaraan sampai pula pada pertanyaan itu. “Anti sudah menikah?”.
“Belum ”, jawabku datar.
Kemudian wanita berjubah panjang (Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?”
Pertanyaan yang hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih hendak melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan.
“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.
“Menunggu suami” jawabnya pendek.
Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “Mbak kerja di mana?”
Entah keyakinan apa yang membuatku demikian yakin jika mbak ini memang seorang wanita pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah PINTU AWAL kita wanita karir yang bisa membuat kita lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
Saudariku, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah hanya ingin didatangi oleh laki-laki yang baik-baik dan sholeh saja.
“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari dan es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Kamu tahu kenapa ?
Waktu itu jam 7 malam, suami saya menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Setibanya dirumah, mungkin hanya istirahat yang terlintas dibenak kami wanita karir. Ya, Saya akui saya sungguh capek sekali ukhty. Dan kebetulan saat itu suami juga bilang jika dia masuk angin dan kepalanya pusing. Celakanya rasa pusing itu juga menyerang saya. Berbeda dengan saya, suami saya hanya minta diambilkan air putih untuk minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendiri lah !!”.
Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya.
Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya (kami memang berkomitmen untuk tidak memiliki khodimah)? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.
Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air putih saja saya membantahnya. Air mata ini menetes, air mata karena telah melupakan hak-hak suami saya.”
Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.
“Kamu tahu berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 rb/bulan. Sepersepuluh dari gaji saya sebulan. Malam itu saya benar-benar merasa sangat durhaka pada suami saya.
Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya dengan ikhlas dari lubuk hatinya. Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho”, begitulah katanya. Saat itu saya baru merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong dan durhaka pada nafkah yang diberikan suami saya, dan saya yakin hampir tidak ada wanita karir yang selamat dari fitnah ini”
“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu sering begitu susah jika tanpa harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.
“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya justru tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Sesuai dugaan saya, mereka malah membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain.”
Aku masih terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
“Kak, bukankah kita harus memikirkan masa depan ? Kita kerja juga kan untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini mahal. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah.
Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali mengalir, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.
“anti tau, saya hanya bisa menangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, Demi Allah bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya sudah DIPANDANG RENDAH olehnya.
Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan ?
Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan ?
Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya.
Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.
Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya.
Saya berharap dengan begitu saya tak lagi membantah perintah suami saya. Mudah-mudahan saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan seperti itu.
Disaat kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tetapi suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.
Suatu saat jika anti mendapatkan suami seperti suami saya, anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku.
Kulihat dari kejauhan seorang laki-laki dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, wanita itu meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.
Ya Allah….
Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling berkesan dalam hidupku. Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..Subhanallah..Walhamdulillah..Wa Laa ilaaha illallah…Allahu Akbar
Semoga pekerjaan, harta dan kekayaan tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.. (womags.com)
Istri Durhaka
10 Perilaku Durhaka Istri Terhadap suami
1. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna
Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam sinetron-sinetron.
Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya.
Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan.
Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.
Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.
2. Nusyus (tidak taat kepada suami)
Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.
Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:
Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
Lalai dalam melayani suami
Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
Keluar rumah tanpa izin suami
Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.
Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.
3. Tidak menyukai keluarga suami
Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.
Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.
Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.
Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar keluarga’. Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.
4. Tidak menjaga penampilan
Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.
Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.
5. Kurang berterima kasih
Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.
Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.
Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
6. Mengingkari kebaikan suami
“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.” Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.
Ajaib!! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?
“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?
Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).
Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!
Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita, kita saling introspeksi, apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?
Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.
Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya, maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat, satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan, masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?
Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu, bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?
“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)
Wahai saudariku, mari kita lihat, apa yang telah kita lakukan selama ini , jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi diri, jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.
Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.
“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)
7. Mengungkit-ungkit kebaikan
Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]
Abu Dzar radhiyallahu’Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.”
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]
8. Sibuk di luar rumah
Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.
Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.
Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika hni terjadi terus menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.
9. Cemburu buta
Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.
Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang tercela.
Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa nyaman ketika ada di rumah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara melakukan apa yang disangkakan istri kepada dirinya.
10. Kurang menjaga perasaan suami
Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.
Demikian beberapa kesalahan-kesalahan istri yang terkadang dilakukan kepada suami yang seyogyanya kita hindari agar suami semakin sayang pada setiap istri. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah.
Amiin