Selasa, 20 Januari 2015

Diantara Kisah Tauladan Abu Yazid Albustomi

Disamping seorang sufi, Abu Yazid al-Busthami juga seorang ulama besar ahli tasawuf di masanya. Diantara jamaahnya ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak. Karena telah memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang menunjukkan keshalehannya, seperti baju putih, sorban dan wewangian.

Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Abu Yazid gurunya: “Tuan Guru, saya sudah beribadah 30 tahun lamanya. Saya shalat setiap malam dan puasa setiap harinya. Tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman ruhani yang Tuan Guru ceritakan. Saya tidak pernah menyaksikan apapun yang pernah Tuan Guru gambarkan.”

Abu Yazid menjawab: “Sekiranya kamu beribadah selama 300 tahun sekalipun, kamu tidak akan mencapai satu butir pun debu mukasyafah (tersingkapnya hijab) dalam hidupmu.”

Murid itu menjadi terheran, lalu bertanya kembali: “Mengapa bisa begitu Tuan Guru?”

“Karena kamu tertutup oleh dirimu,” jawab sang Guru.

“Bisakah kamu obati aku agar hijab itu tersingkap?” pinta sang murid.

“Bisa, tapi kamu tidak mungkin akan melakukannya”, jawab Abu Yazid

“Tentu saja akan aku lakukan,” sanggah sang murid itu.

“Baiklah kalau begitu, sekarang tanggalkan pakaianmu. Sebagai gantinya pakailah baju yang lusuh, sobek dan compang-camping. Gantungkan di lehermu kantung berisi kacang, pergilah ke pasar dan kumpulkan sebanyak mungkin anak-anak kecil di sana. Katakan pada mereka, “Hai anak-anak, barangsiapa di antara kalian yang mau menampar aku satu kali, aku beri satu kantung kacang”. Lalu datangilah tempat dimana jamaah kamu sering mengagumimu. Katakan juga pada mereka, “Siapa yang mau menampar mukaku, aku beri satu kantung kacang”, pinta Abu Yazid.

“Subhaanallah, Maasyaa Allah, Laailaaha ilallaah”, kata murid itu terkejut.

“Jika kalimat-kalimat suci itu diucapkan oleh orang kafir, ia berubah menjadi mukmin. Tapi kalau kalimat itu diucapkan oleh seorang sepertimu, kamu berubah dari mukmin menjadi kafir”, kata Abu Yazid.

Murid itu kembali keheranan: “Mengapa bisa begitu?”

Abu Yazid menjawab: “Karena kelihatannya kamu sedang memuji Allah, padahal sebenarnya kamu sedang memuji dirimu. Ketika kamu mengucapkan “Subhanallah”, seakan-akan kamu mensucikan Tuhan padahal kamu menonjolkan kesucian dirimu.”

“Kalau begitu, berilah saya nasihat yang lain”, pinta sang murid.

Abu Yazid menjawab: “Bukankah aku sudah bilang, kamu takkan mampu melakukannya?”

*******************
Kisah ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Abu Yazid mengajarkan bahwa orang yang sering beribadah mudah terkena penyakit ujub dan takabur.

“Hati-hatilah kalian dengan ujub,” pesan Iblis. Dulu Iblis beribadah ribuan tahun kepada Allah. Tetapi karena takaburnya terhadap Adam, Tuhan menjatuhkan Iblis ke derajat yang serendah-rendahnya.

Takabur dapat terjadi karena amal atau kedudukan kita. Kita sering merasa menjadi orang yang penting dan mulia. Abu Yazid menyuruh kita menjadi orang hina agar ego dan keinginan kita untuk menonjol dan dihormati segera hancur, yang tersisa adalah perasaan tawadhu’ dan kerendah-hatian. Hanya dengan itu kita bisa mencapai ke hadirat Allah Swt.

Orang-orang yang suka mengaji juga rentan jatuh kepada jurang ujub. Mereka merasa telah memiliki ilmu yang banyak.

Suatu hari, seseorang datang kepada Nabi Saw.: “Ya Rasulallah, aku rasa telah banyak mengetahui syariat Islam. Apakah ada hal lain yang dapat kupegang teguh?”

Nabi Saw. Menjawab: “Katakanlah “Tuhanku Allah, kemudian beristiqamahlah kamu.”

Ujub seringkali terjadi di kalangan orang yang banyak beribadah. Orang sering merasa ibadah yang ia lakukan sudah lebih dari cukup sehingga ia menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan. Ia menganggap ibadah sebagai investasi.

Orang yang gemar beribadah cenderung jatuh pada perasaan tinggi diri. Ibadah dijadikan cara untuk meningkatkan statusnya di tengah masyarakat. Orang itu akan amat tersinggung bila tidak diberikan tempat yang memadai statusnya. Sebagai seorang ahli ibadah, ia ingin disambut dalam setiap majelis dan diberi tempat duduk yang paling utama.

Dari kisah ini pula kita dapat mengambil hikmah bahwa ujub dan takabur menjadi penghalang naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Penawarnya hanya satu, belajarlah menghinakan diri kita serendah mungkin seperti yang dinasehatkan Abu Yazid al-Busthami kepada muridnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.