Jumat, 29 April 2016

SUJUD SUJUDMU

ATSARIS SUJUD

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasul SAW bersabda: 


أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ


Keadaan paling dekat seorang hamba dari (rahmat)rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyak doa (di dalamnya). [HR. Muslim].

Catatan :

Sujud secara bahasa berarti tunduk dan merendah. Pada saat sujud, wajah - yang merupakan bagian tubuh yang paling tinggi dan paling terhormat - diletakkan di bawah sehingga sederajat dengan telapak kaki untuk tunduk dihadapan Allah SWT. Sujud adalah sarana yang Allah buat agar manusia melepaskan kesombongan dan keangkuhan dari dirinya, dengan menyadari bahwa asal manusia diciptakan dari tanah dan ia tidak bisa keluar dari asalnya. Tanah adalah lambang kehinaan dan kerendahan diri manusia dihadapan Allah, sehingga sujud akan menjadikan manusia seakan-akan kembali pada asalnya. Demi menghinakan diri dihadapan Allah yang maha mulia, dikisahkan bahwa Umar bin Abdul Aziz sujud di atas tanah tanpa alas. Oleh karena itu sujud menjadi ruang meditasi yang paling intim antara makhluk yang hina dina dan khalik yang maha mulia.

Sujud selain mempunyai manfaat secara psikologis, ternyata bermanfaat pula secara medis. Pose sujud yang menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai dimana posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak sehingga berpengaruh pada daya pikir seseorang. Sujud yang dilakukan dengan tenang (tuma'ninah) menyebabkan aliran darah ke otak menjadi optimal dan mencukupi kapasitasnya. Dr Fidelma O'Leary, PhD. Seorang Neuroscience dari St Edward's University, menjadi mu'allaf karena mendapati fakta dalam kajiannya bahwa ada beberapa urat syaraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki darah dan urat ini baru bisa dimasuki darah ketika manusia bersujud.


Itulah manfaat sujud yang diistilahkan oleh al-Quran dengan “atsaris sujud”. Diriwayatkan dari Manshur, ia bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka karena ATSARIS SUJUUD (bekas sujud)’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau,


لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.


“Bukan, sesungguhnya ada salah seorang dari mereka yang ‘kapalen’ di antara kedua matanya itu mirip kapalen pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Maksud dari “Atsaris sujud” itu adalah khusyu’ [HR Baihaqi]


Bahkan as-Shawi mengatakan :


وليس المراد به ما بصنعه بعض الجهلة المرائين من العلامة في الجبهة فانه من فعل الخوارج وفي الحديث اني لابغض الرجل واكرهه اذا رايت بين عينيه اثر السجود


“Atsaris Sujud yang dimaksudkan oleh ayat bukanlah tanda hitam yang ada di dahi yang dilakukan oleh orang-orang bodoh yang suka pamer (riya’) karena hal itu adalah ciri khas khawarij” dalam sebuah hadits disebutkan sungguh saya benci seseorang yang saya lihat diantara kedua matanya terdapat bekas sujud [Hasyiah ash-Shawi]

Maka dari itu perbanyaklah sujud dengan memperbanyak sholat layaknya Sayyidina Ali Zainal Abidin Ibn Husein Ibn Ali bin Abi Thalib RA, yang bergelar Assajjad karena ia sujud setiap malamnya sebanyak 1000X sujud (sholat 500 rakaat). Ya, perbanyaklah sujud namun jagalah wajahmu supaya tetap tampak tampan, jauhi kapalan pada dahi yang menjelekkan wajah. Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata:


قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.


“Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” [HR Baihaqi]

Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya :


مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟


“Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bersahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” [HR Baihaqi]

Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata :


يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.


“Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” [HR Baihaqi] Wallahu A’lam. Semoga Allah menjadikan kita ahli sujud kepada-Nya dan mendapati doa mustajabah dalam sujud-sujud kita.

Rabu, 27 April 2016

~ Gus Mus; Ra'is 'Aam Para Suami Idaman


Pada saat tulisan ini dibuat, Ra’is ‘Aam NU periode ini adalah Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri. Kalau Anda tidak kenal, mungkin panggilan “Gus Mus” lebih populer bagi Anda.

Sebutan “gus” pada dasarnya adalah sebutan anak kiyai yang masih bodoh. Anak kiyai akan dipanggil gus, jika ia belum mampu mengajar kitab kuning. Anak kiyai baru akan dipanggil kiyai juga, jika ia sudah mampu mengajar di pondok pesantren.

Beliau adalah kiyainya para kiyai, tapi di-gus-kan banyak orang. Beliau tidak marah sama sekali, karena beliau justru sangat ingin dianggap masih bodoh. Dalam ilmu tasawuf, pujian manusia itu seperti parfum. Memang semerbak harum, tapi haram hukumnya diminum. Sebagai seorang alim ulama yang menempuh jalan sufistik, itulah sebabnya beliau justru menikmati panggilan “Gus Mus”.

Memang salah satu ciri beliau, selain memiliki wajah bercahaya, adalah rendah hati. Meski adalah pemimpin sebuah organisasi kemasyarakatan terbesar di dunia (NU), dengan jumlah anggota yang ditaksir lebih dari 60 juta orang, beliau selalu mengaku hanya seorang sastrawan.

Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri memang ahli menyamar jempolan. Saat berkumpul dengan masyarakat awam sengaja menyebut nama Gus Dur, agar beliau juga dipanggil “gus”. Kemana-mana membawa secarik puisi, agar beliau dikira seorang sastrawan. Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri memang benar-benar pengikut sejati Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW juga senang menutupi kelebihan-kelebihannya. Dalam penulisan Piagam Madinah, kanjeng nabi ingin ditulis sebagai “Muhammad bin Abdullah” saja. Bahkan, saat bertemu dan menjadi imam shalat para nabi pendahulu, baginda rasul mengaku sebagai “hanya anak yatim”.

***

Di dalam urusan cinta, Gus Mus juga mengikuti akhlak Nabi Muhammad SAW. Sampai detik ini beliau hanya beristri Ibu Siti Fatma seorang.

Mungkin Anda sekalian bingung dengan pernyataan saya, tapi hal itu sangat saya maklumi. Banyak orang kini menganggap poligami adalah sunnah nabi, padahal tidak demikian. Nabi Muhammad SAW punya istri satu, iya. Nabi Muhammad SAW punya istri banyak, juga iya. Bingung?

Penting dicatat, Nabi Muhammad SAW monogami selama 25 tahun, hanya beristri Bunda Khaddijah seorang. Sedangkan Nabi Muhammad SAW berpoligami hanya sekitar 10 tahun saja, ketika istri pertama baginda rasul sudah meninggal. Dalam poligami itupun istri "muda" nabi kita adalah janda-janda. Ada yang sudah tua, ada yang gendut, ada yang hitam, ada yang sudah punya anak banyak. Cuma satu orang yang masih muda dan perawan.

Banyak orang Indonesia salah tangkap adalah karena tidak tahu sejarah, dan diperparah tidak paham konteks. Gula dan rasa manis itu berbeda. Gula memang manis, tapi rasa manis bukanlah gula. Bunga dan bau harum itu berbeda. Tidak mesti setiap bau harum adalah bunga. Sabun mandi juga wangi. Inilah yang disebut "memahami konteks".

Arab dan Islam sangatlah berbeda. Asal poligami dan bertujuan menolong juga sangatlah berbeda. Sunnah nabi bukanlah poligami, tapi memuliakan perempuan. Jadi, Gus Mus bisa dinilai masih mengikuti sunnah nabi, karena beliau memuliakan Ibu Siti Fatma. Seperti halnya kesetiaan cinta Nabi Muhammad SAW pada Bunda Siti Khaddijah.

Kalau diri kita hanya sanggup memuliakan satu perempuan saja, jangan ingin tambah istri. Kalau diri kita ingin menikah lagi karena sudah tidak terlalu cinta pada istri pertama dan sangat tertarik pada wanita lain, jangan cari-cari dalil agama untuk membungkus hawa nafsu.

Kita jangan sampai jadi orang yang suka mencari dalil agama untuk membenarkan hawa nafsu, bukannya mempelajari dalil agama untuk mencari kebenaran.

***

Mungkin di kehidupan sehari-hari Anda, pernah dijumpai seorang suami memukul istrinya atas nama agama Islam. Katanya, itu sesuai hadits shahih, dan sebagainya. Kita jangan langsung mempercayainya. Nabi Muhammad SAW pernah memberi resep tentang cara “menguji” agama Islam kepada orang awam; mintalah fatwa pada hati nuranimu sendiri.

Jika ada orang melakukan hal yang buruk dan mengatakan perbuatan itu adalah perintah agama, cobalah Anda sekalian minta fatwa pada hati nurani. Jika hati nurani Anda berontak, berarti Anda sedang ditipu. Mungkin hadits yang dibawa sahih semua, bahkan pakai ayat Qur’an, tapi pasti dalil-dalil itu sudah dimanipulasi. Entah ada yang dipotong, entah ada yang disembunyikan.

Kalau saya pribadi, karena saya juga orang awam, selain selalu minta fatwa pada hati nurani, saya punya resep lain. Kalau ada orang pakai surban sebesar ban truk dan jenggotnya sampai dada, tapi mengajari suatu ilmu agama yang bertentangan dengan hati nurani, saya pasti “lari” ke Gus Mus. Pasalnya beliau tidak belajar agama dari internet atau TV.

Sanad keilmuan Mbah Yai Mustofa Bisri jelas dan dapat dipertanggung-jawabkan. Setahu saya, rantai ilmu agama beliau hingga Nabi Muhammad SAW melalui sambungan 30 alim ulama, jadi Gus Mus lebih pantas dijadikan rujukan.

Berbeda dengan tabiat “orang pintar baru” masa kini. Ada yang mengatakan cukup merujuk Al-Qur’an dan Al Hadits langsung, dan berkata tidak usah pakai ulama-ulamaan. Biasanya orang tersebut akan tersesat. Orang yang belajar agama tanpa guru sejati, pasti orang itu akan dibimbing oleh setan. Maka dari itu, Anda jangan terlalu kaget bila ada orang yang hapal banyak dalil agama tapi suka memukul istri, mengkafirkan saudara seiman, atau menghina umat beragama lain.

***

Gus Mus tidak pernah memukul Ibu Siti Fatma. Jangankan itu, marah saja beliau tidak bisa. Sampai-sampai Mbah Yai Muhammad Ainun Nadjib pernah berujar, “Kalau ada orang marah, pasti orang itu bukan Gus Mus!”

Dalam kehidupan rumah tangga, tentu terkadang ada dinamikanya. Tidak ada bahtera rumah tangga yang tidak pernah terkena ombak samudera. Lantas, bagaimana cara Gus Mus “memarahi” Ibu Siti Fatma?

Salah satu santri kinasihnya beliau, Pak Timur Sinar Suprabana, pernah meriwayatkan cara marahnya Gus Mus pada istrinya.

Katau Gus Mus sedang “marah”, biasanya Gus Mus menjadi pendiam. Lalu, untuk menasehati Ibu Siti Fatma, beliau masuk kamar dan menulis. Gus Mus menulis tindakan-tindakan Ibu Siti Fatma yang tidak disetujui. Kemudian kertas tersebut disobek, diremas, lalu dibuang ke lantai. Setelah itu, Gus Mus sudah normal lagi, wajahnya menjadi sumringah kembali.

Biasanya Ibu Siti Fatma baru tahu Gus Mus “marah” ketika semua sudah selesai. Pasalnya, Ibu Siti Fatma baru tahu “kemarahan” Gus Mus ketika sedang menyapu, dan menemukan secarik kertas yang tengtlekuk di lantai kamar. Ibu Siti Fatma hanya tersenyum membaca secarik kertas berisi nasehat Gus Mus. Setelah dibaca, kertas itu lalu disapu.

Begitulah cara Gus Mus membina rumah tangga dengan Ibu Siti Fatma... Lembut sekali... Selalu harmonis, karena tidak pernah bertengkar hebat. Kalaupun harus marah, Gus Mus selalu melandasinya dengan kasih sayang. Bukannya “merayakan” kesalahan-kesalahan sang istri dengan memarahinya siang-malam. Marah karena cinta.

Maka dari itu, anak-anak Gus Mus sering menilai kedua orangtuanya seperti pengantin baru tiap hari. Selalu bulan madu. Tidak ada setitikpun nila di belangga cinta keduanya. Hal itu karena Gus Mus mencontoh Nabi Muhammad SAW dengan ilmu. Cahaya selalu berguru pada cahaya.


(repost tulisan lama, tahun 2014

)

KH. Ali Mustafa Yaqub

Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun. Telah berpulang Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub MA, dahulu Imam Masjid Istiqlal, pagi ini  28 April 2016 pukul 06.15. Semoga Allah menerima beliau di sisiNya.



Saya tersentak, selain menerima kabar wafat beliau via grup whatsapp yang satu, pada saat bersamaan juga menerima kolom beliau di grup whatsapp lainnya. Satu tulisan yang sangat tajam. Selamat membaca:

HAJI PENGABDI SETAN

Oleh: Ali Mustafa Yaqub*

IBADAH haji 1426 H, pekan lalu, usai sudah. Jamaah haji Indonesia mulai pulang ke Tanah Air. Bila mereka ditanya apakah Anda ingin kembali lagi ke Mekkah, hampir seluruhnya menjawab, ''Ingin.'' Hanya segelintir yang menjawab, "Saya ingin beribadah haji sekali saja, seperti Nabi SAW."

Jawaban itu menunjukkan antusiasme umat Islam Indonesia beribadah haji. Sekilas, itu juga menunjukkan nilai positif. Karena beribadah haji berkali-kali dianggap sebagai barometer ketakwaan dan ketebalan kantong. Tapi, dari kacamata agama, itu tidak selamanya positif.

Kendati ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, bagi umat Islam, ia baru diwajibkan pada tahun 6 H. Walau begitu, Nabi SAW dan para sahabat belum dapat menjalankan ibadah haji karena saat itu Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. Setelah Nabi SAW menguasai Mekkah (Fath Makkah) pada 12 Ramadan 8 H, sejak itu beliau berkesempatan beribadah haji.

Namun Nabi SAW tidak beribadah haji pada 8 H itu. Juga tidak pada 9 H. Pada 10 H, Nabi SAW baru menjalankan ibadah haji. Tiga bulan kemudian, Nabi SAW wafat. Karenanya, ibadah haji beliau disebut haji wida' (haji perpisahan).

Itu artinya, Nabi SAW berkesempatan beribadah haji tiga kali, namun beliau menjalaninya hanya sekali. Nabi SAW juga berkesempatan umrah ribuan kali, namun beliau hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah wajib bersama haji sekali. Mengapa?

Sekiranya haji dan atau umrah berkali-kali itu baik, tentu Nabi SAW lebih dahulu mengerjakannya, karena salah satu peran Nabi SAW adalah memberi uswah (teladan) bagi umatnya. Selama tiga kali Ramadan, Nabi SAW juga tidak pernah mondar-mandir menggiring jamaah umrah dari Madinah ke Mekkah.

Dalam Islam, ada dua kategori ibadah: ibadah qashirah (ibadah individual) yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya dan ibadah muta'addiyah (ibadah sosial) yang manfaatnya dirasakan pelakunya dan orang lain. Ibadah haji dan umrah termasuk ibadah qashirah. Karenanya, ketika pada saat bersamaan terdapat ibadah qashirah dan muta'addiyah, Nabi SAW tidak mengerjakan ibadah qashirah, melainkan memilih ibadah muta'addiyah.

Menyantuni anak yatim, yang termasuk ibadah muta'addiyah, misalnya, oleh Nabi SAW, penyantunnya dijanjikan surga, malah kelak hidup berdampingan dengan beliau. Sementara untuk haji mabrur, Nabi SAW hanya menjanjikan surga, tanpa janji berdampingan bersama beliau. Ini bukti, ibadah sosial lebih utama ketimbang ibadah individual.

Di Madinah, banyak ''mahasiswa'' belajar pada Nabi SAW. Mereka tinggal di shuffah Masjid Nabawi. Jumlahnya ratusan. Mereka yang disebut ahl al-shuffah itu adalah mahasiswa Nabi SAW yang tidak memiliki apa-apa kecuali dirinya sendiri, seperti Abu Hurairah. Bersama para sahabat, Nabi SAW menanggung makan mereka. Ibadah muta'addiyah seperti ini yang diteladankan beliau, bukan pergi haji berkali-kali atau menggiring jamaah umrah tiap bulan. Karenanya, para ulama dari kalangan Tabiin seperti Muhammad bin Sirin, Ibrahim al-Nakha'i, dan Malik bin Anas berpendapat, beribadah umrah setahun dua kali hukumnya makruh (tidak disukai), karena Nabi SAW dan ulama salaf tidak pernah melakukannya.

Dalam hadis qudsi riwayat Imam Muslim ditegaskan, Allah dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka'bah. Jadi, Allah berada di sisi orang lemah dan menderita. Allah dapat ditemui melalui ibadah sosial, bukan hanya ibadah individual. Kaidah fikih menyebutkan, al-muta'addiyah afdhol min al-qashirah (ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual).

Jumlah jamaah haji Indonesia yang tiap tahun di atas 200.000 sekilas menggembirakan. Namun, bila ditelaah lebih jauh, kenyataan itu justru memprihatinkan, karena sebagian dari jumlah itu sudah beribadah haji berkali-kali. Boleh jadi, kepergian mereka yang berkali-kali itu bukan lagi sunah, melainkan makruh, bahkan haram.

Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah roboh, banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja, banyak orang makan nasi aking, dan banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai, lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, maka kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah?

Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena setan.

Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan, setan hanya menyuruh kita berbuat kejahatan atau setan tidak pernah menyuruh beribadah. Mereka tidak tahu bahwa sahabat Abu Hurairah pernah disuruh setan untuk membaca ayat kursi setiap malam. Ibadah yang dimotivasi rayuan setan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat.

Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr. Tapi Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, maka saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya. Wa Allah a'lam.[ ]

*Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Allohumaghfirlahu

Jumat, 22 April 2016

Suami Istri Renungkanlah

Renungan BAGI PASANGAN SUAMI ISTRI

“Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah.

Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya.

Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja.

Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas.

Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya.

Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya.

Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Aminah, istrinya.

Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah.

Kakeknya mengatakan, jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu. Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.

Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.

Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur....

“Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” tanya Amin kala itu.

“Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab kakeknya singkat.

Waktu itu, Amin tidak sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.

Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu.

Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.

Dalam batin, dia bergumam,


“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktivitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan.

Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.

Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu, dipundakmu, untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara rumahku.

Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku, kau buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.

Wahai istriku, di kala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah, kau yang menasehatiku.

Wahai istriku, telah sekian lama engkau mendampingiku, kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.

Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu?


Dengan alasan apa aku perlu marah padamu?


Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata.

Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat.

Maafkan aku istriku, kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah swt.

Segala puji hanya untuk Allah swt yang telah memberikanmu sebagai jodohku.”

Tanpa terasa air mata Amin menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis.

Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia pun terlelap.

***

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali.

Aminah, istri Amin, terperanjat


“Astaghfirullaah, sudah jam dua?”

Dilihatnya sang suami telah pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.

“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatangannya. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia?” gumamnya dalam hati.

Mau dibangunkan nggak tega, akhirnya cuma dipandangi saja. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hatinya yang bicara.

“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.

“Wahai suamiku, ketika aku sendiri kau datang menghampiriku. Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku. Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku.

“Wahai suamiku, tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.

“Lalu, atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu, dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu.

Jika kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, tapi kesungguhanmu beramal shaleh membanggakanku.


Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah membahagiakanku.

“Maafkan aku wahai suamiku, akupun akan memaafkan kesalahanmu.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah swt. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota'ayun waj'alna lil muttaqina imamma...

Rabu, 20 April 2016

Suamimu Sorga atau Nerakamu

SUAMI, SURGA ATAU NERAKAMU

Diriwayatkan dari Al-Hushain bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi SAW karena satu keperluan. Selesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah SAW bertanya kepadanya,
أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ مَا آلُوهُ إِلَّا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ قَالَ فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah”. Rasulullah SAW bertanya lagi : “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”. Ia menjawab: “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu melakukannya”.  Rasulullah SAW bersabda : “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulan dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” [HR. Ahmad]

Dalam kehidupan rumah tangga, suami dan istri masing-masing memiliki hak dan kewajiban. Suami sebagai pemimpin rumah tangga memiliki tugas dan kewajiban yang besar yaitu menjaga istri dan anak-anaknya dalam semua urusan, baik urusan agama atau urusan dunianya dengan  menafkahi mereka dan memenuhi sandang, pangan dan papannya. Kewajiban yang berat ini alvers dibebankan kepada suami oleh agama, dan di sisi lain agama juga memberikan hak yang besar dari seorang istri yaitu untuk medapatkan ketaatan darinya, bahkan seperti hadits di atas suami adalah penentu istri apakah ia masuk surga atau neraka.

Istri yang taat kepada suaminya akan mendapatkan surga sebagai balasannya. Nabi SAW bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتْ الْجَنَّةَ
"Wanita mana saja yang meninggal dunia, sedang suaminya ridlo kepadanya, maka ia masuk surga".  [HR Ibnu Majah]. Namun sebaliknya istri yang durhaka kepada suaminya maka akan masuk neraka dan inilah yang banyak terjadi. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasul bersabda:
أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
Diperlihatkan kepadaku neraka ternyata kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita karena mereka kufur. Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka kufur (durhaka) terhadap suami mereka dan kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang lama kemudian dia melihat sesuatu dari dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali pada dirimu.’ ” [HR Bukhari]

Maka hak suami berada diatas hak siapapun termasuk kedua orang tua. Hak suami bahkan harus didahulukan oleh seorang istri daripada ibadah sunnah. Rasulullah saw bersabda: “Tidak boleh bagi seorang perempuan berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada di rumah kecuali atas izinnya. [HR Bukhari]. Seorang istri juga tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suami. Karena tempat asal wanita itu di rumah. Sebagaimana firman Allah: “Dan tinggal-lah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian.” [QS Al-Ahzab: 33]. Bahkan Dalam hak berhubungan suami-istri, jika suami mengajaknya, maka istri tidak boleh menolaknya. “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur, kemudian ia tidak mendatanginya, dan suami tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi hari.” [HR Bukhari]

Lantas bagaimana jika sang suami pemarah? Pada dasarnya tidak ada seseorang yang marah tanpa sebab sebagaimana kata pepatah Tidak Ada Asap Kalau Tidak Ada Api. Maka jika suami marah hendaknya istri melakukan introspeksi diri, jika istri yakin tidak ada masalah dengan perilakunya kepada suaminya maka hal itupun tidak serta merta membolehkan istri ikut marah sebab api tidak bisa padam dengan api, api hanya bisa dipadamkan oleh air. Dikisahkan terdapat seorang wanita yang memiliki suami pemarah dan galak sehingga dalam rumah tangganya selalu terjadi pertengkaran. Ia pergi ke temannya alvers untuk curhat masalahnya dengan suaminya. Sang temanpun menyarankan agar ia pergi untuk berkonsultasi kepada orang yang terkenal bijak di kampung seberang. Setelah ia menceritakan perihal suaminya yang galak dan pemarah maka orang bijak itu berkata: Saya bisa membantu permasalahan rumah tanggamu dengan syarat kau harus dapatkan tiga helai bulu harimau. Sepulangnya dari sana, iapun berpikir bagaimana caranya mendapatkan bulu harimau. Didapatkanlah sebuah ide, ia pergi ke hutan dengan membawa sepotong daging untuk diberikan kepada harimau. Ketika harimau ingin  menyerangnya maka ia melempar daging tadi dan harimaupun memakan daging tersebut kemudian sang harimaupun berlalu. Hal ini dilakukan beberapa kali sampai harimau jinak kepadanya dan saat itulah ia membelai harimau dan ia berhasil mencabut beberapa bulu harimau tersebut. Setelah berhasil, ia bergegas menemui sang bijak untuk menyerahkan bulu-bulu tersebut. Sang bijak berkata:
اذا كنت استطعت أن تروضي الأسد أفلا تستطعين أن تروضي زوجك
Jika kamu telah berhasil menjinakkan harimau, masak kamu tidak bisa “menjinakkan” suamimu. Wallahu A’lam. Semoga Allah menjadikan para suami mampu menjalankan tugas serta tanggung jawabnya dan menjadikan para istri sholihah yang taat kepada suami karena Allah swt.

:: SUAMIMU ADALAH PINTU SURGAMU ::

Wahai Para Istreri..
Jadikanlah suamimu yang paling paling utama setelah Tuhanmu.
Jadikanlah suamimu yang paling paling engkau taati dibandingkan Ayah Ibumu.

Wahai Para Istreri..
Jadikan ridha suamimu yang paling engkau harapkan dibandingkan Ayah Ibumu.
Ketauhilah bahwa suamimu adalah jaminan surga bagimu.

Wahai Para Istreri..
Ingatlah jika ada sikap, ucapan serta perbuatanmu yang membuat suamimu marah.
Maka segeralah memohon maaf kepadanya.
Agar Allah tak ikut murka karena ulahmu.

Wahai Para Istreri..
Pancarkan aura kasih sayang penuh kelembutan dari wajahmu.
Lontarkan kata-kata penyejuk jiwa penuh doa untuk suamimu.
Berikan sentuhan-sentuhan mesra dari tangan halusmu.
Tunjukkan bahwa dirimu adalah mahkota bagi suamimu.
Agar dari rahimmu lahirkan buah hati yang akan taat beragama.

Wahai Para Istreri..
Sungguh suamimu adalah tempat dirimu melahirkan sakinah (ketenangan).
Suamimu adalah laksana benteng pelindung bagimu dan anak-anakmu.
Suamimu adalah sumber kebahagiaan dalam keluargamu.
Suamimu adalah sumber kemuliaan dan yang akan mengangkat derajatmu di hadapan-Nya.

Dan ridha suamimu adalah penentu apakah Allah akan meridhaimu untuk bertahta di singgasana Surga-Nya.

Sungguh itu yg pernah Baginda Nabi kabarkan.