Sabtu, 21 November 2015

Nafkah untuk istri

“Satu dinar yang engkau belanjakan untuk perang di jalan Allah SWT dan satu dinar yang engkau belanjakan untuk istrimu, yang paling besar pahalanya ialah apa yang engkau berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari Muslim)

Dari hadits diatas dijelaskan bahwa harta yang diberikan (nafkahkan) kepada keluarganya, lebih utama dari pada mendermakan harta bendanya untuk perjuangan Islam. Lantas bagaimana jika ada seorang laki-laki memiliki seorang istri sering ditinggalkan dengan alasan dakwah, sementara kondisi anak-anak dan istrinya tidak terurus alias sengsara. Rasulullah SAW memang seorang muballigh dan dai, tetapi beliau selalu memperhatikan kebutuhan lahir batin istri-istrinya.

Begitu besar perhatian Rasulullah SAW, terhadap hak-hak kaum hawa, sehingga Nabi SAW mengajarkan kepada kaum laki-laki cara terbaik untuk memuliakan seorang wanita. Sampai-sampai beliau tidak rela seorang istri menderita, karena ulah para suami yang pelit dan menelantarkan istrinya.

Hendaknya para suami mengetahui bahwa nafkah yang ia berikan kepada keluarganya tidaklah bernilai sia-sia di hadapan Allah. Bahkan nafkah itu terhitung sebagai amalan sedekahnya, sebagaimana hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: 

“Apabila seorang muslim memberi nafkah kepada keluarganya dan dia mengharapkan pahala dengannya maka nafkah tadi teranggap sebagai sedekahnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bahkan satu suapan yang diberikan seorang suami kepada istrinya, teranggap sebagai amalan sedekah sang suami. Demikian disabdakan Nabi Muhammad pada shahabat beliau, Sa’ad bin Abi Waqqash: 

“Dan apa pun yang engkau nafkahkan maka itu teranggap sebagai sedekah bagimu sampaipun suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR. Al-Bukhari)

Dalam riwayat Muslim disebutkan: 

“Tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah kecuali engkau akan diberi pahala dengannya sampaipun satu suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.”.

Masya Allah.. Tidak tanggung-tanggung Rasulullah SAW mbelani (menjunjung tinggi) kaum hawa dari sikap pelit seorang suami yang tidak bertanggung jawab kepadanya.

Beruntung sekali bagi seorang istri yang memiliki suami dermawan kepada dirinya. Rasulullah SAW sosok suami yang paling dermawan kepada istri-istrinya, juga kepada sahabat, kerabat, dan tetangganya.

Kedermawanan Rasulullah SAW menjadikan istri-istrinya makin mencintai dan menyayanginya, sehingga seorang istri tidak merasakan, kecuali suami adalah orang yang paling sempurna di hadapannya. Masya Allah..

Kamis, 12 November 2015

Pelajaran hidup dan mati "Kyai Basuni"

Catatan Gus mus
Tahun 1989 sesaat setelah wafatnya Almarhum walmaghfurlah KH. Basyuni Masykur --ayah mantan Menteri Agama RI Syeikh Dr. Maftuch Basyuni dan mantan Dubes RI untuk Syria Muzammil Basyuni; juga ayah bu Siti Fatma, Inti Ruqayyah, dan Munfaridjah-- saya menulis kolom di majalah Amanah (Alm) dengan judul “Kiai Basyuni”. Ini:

KIAI BASYUNI

Tanyalah kepada orang Rembang dan sekitarnya secara acak --boleh kiai pesantren, ‘cina’ klontong, tukang cukur, bakul ikan, kernet colt, pegawai pemda, penggali kubur, tukang jam, penjual serabi, bupati, tukang becak, siapa sajalah-- pasti tahu siapa Kiai Basyuni atau Mbah Basyuni. Tidak itu saja. Orang yang Anda tanyai akan menunjukkan sikap semacam bangga, atau paling tidak gembira.

Kiai Basyuni memang mirip tokoh dongeng di Rembang. Dia kenal siapa saja dan dikenal siapa saja karena hobinya menyapa orang. Kehidupan sehari-harinya dimulai dengan salat subuh, lalu jalan-jalan. Disinggahinya rumah-rumah famili dan kenalannya, terutama anak-anaknya; sekedar menengok dan menanyakan keselamatan dan kesehatan. Lalu ke rumah sakit, menyusuri los-los. Ini dilakukan hampir setiap hari; sehingga hampir tak ada sanak-famili atau kenalan yang sakit yang tak diketahuinya, untuk ditengoknya dan diinformasikan kepada orang lain.

“Kau sudah menengok si Polan?” adalah pertanyaan klisenya yang dihapal hampir semua orang.

Dia membangun mushalla di samping --dan jauh lebih cantik dari-- rumahnya. Banyak tetangga, teutama para ibu, yang kemudian ‘meramaikan’ mushallanya itu. Namun sejauh itu, kendati banyak yang meminta, kiai Basyuni belum kunjung memberi pengajian agama kepada mereka. Padahal rata-rata mereka masih sangat awam di bidang agama; bahkan banyak di antara mereka yang salatnya masih rubuh-rubuh gedhang, asal ikut.
Ketika hal itu ditanyakan, jawabnya selalu: “Biarkan mereka senang dulu dengan tempat ibadah mereka ini.”
Kalau ada yang bertanya, “Salat saya sudah benar, kiai?”, selalu jawabnya: “Sudah, tinggal menyempurnakan sedikit. Nanti ‘kan sempurna juga.”

Ketika bulan Juli kemarin, Kiai Basyuni sakit dan dirawat di rumah sakit, petugas di sana kerepotan oleh banyaknya pengunjung yang ingin menengoknya setiap hari.
Setiap jam bezuk, beliau seperti sengaja menggagah-gagahkan diri dan selalu mengatakan kepada para penengoknya: “Alhamdulillah saya sudah sembuh. Bagaimana kabarmu? Keluargamu? Baik-baik saja, ‘kan?!”
Kepada keluarga yang menungguinya , beliau berkata,”Wah, saya telah merepotkan orang banyak.” Dan suatu ketika kepada salah seorang anaknya, beliau berkata: “Kau kok menungguiku terus disini, lalu bagaimana suamimu, anak-anakmu? Pulanglah!”

Dan suatu hari, ketika hampir semua anak-anaknya berkumpul menungguinya bersama ibu mereka, Kiai Basyuni dengan suaranya yang sudah melemah, berkata: “Kalian tahu, sebenarnya saya ini sakit sudah sejak lama; tapi saya sembunyikan karena saya tak ingin menyusahkan orang. Ini prinsip hidup saya. Kalau bisa, senangkanlah orang. Kalau tidak, sebisa-bisa jangan menyusahkan orang.” Semuanya faham benar, karena ucapannya itu hanyalah penegasan semata dari cara hidupnya yang telah mereka ketahui selama ini.

Hari Jum’at, persis seperti yang diinginkannya, Kiai Basyuni pergi untuk selama-lamanya. Sowan ke hadiratNya. (Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun).
Mereka yang bekerja di RSPD (radio Pemda), yang punya orari, yang berdagang di pasar, yang menjadi sopir atau kernet; semuanya dengan sukarela membantu keluarga menginformasikan kewafatannya. Orang-orang pun berdatangan dengan sendirinya; ada yang menawarkan kain kafan, nisan, jasa menggali kubur, kendaraan, telpon, dan bantuan-bantuan lain yang biasa diperlukan pada saat duka seperti itu.

Dan pada hari pemakamannya, orang bisa melihat para pelayat dari berbagai lapisan; mulai dari para kiai, pegawai, tukang, bakul, nelayan, petani, pejabat, dokter, dukun, hingga pengangguran. Berpuluh kali jama’ah salat jenazah dilakukan, sebelum orang berebut memikul kerandanya menuju peristirahatannya yang terakhir.

Kiai Basyuni berhak mendapatkan penghoramatan orang semacam itu, karena orang menyintainya. Orang menyintainya, karena dia menyintai mereka. Orang bersedia susah untuknya, justru karena dia suka menyenangkan mereka. Mereka mendoakannya dengan tulus. Jadi berbahagialah Kiai Basyuni.

Setiap kali orang meninggal, setiap kali kita mendapatkan pelajaran. Kafaa bilmauti waa’izhan, Cukuplah kematian sebagai penasihat pemberi pelajaran. Maka benar kata seorang kiai yang ikut melayat Kiai Basyuni: “Dia itu guru ketika hidup dan ketika mati.”

***

Mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana aku bisa mengetahui begitu detail tentang kehidupan Kiai Basyuni. Jawabnya: karena aku aku adalah ‘kacung’nya jauh sebelum menjadi menantunya. Bila kalian suka dengan tulisan di atas, tolong bacakan Al-Fatihah untuk almarhum. Terimakasih.

Rabu, 04 November 2015

Ngaji Hikam

NGAJI HIKAM #33
Bismillahirrahmanirrahim.
_____________________
TINDAKAN KITA ADALAH JENDELA HATI
Syekh Ibn Ataillah berkata:
Ma ustudi’a min ghaib al-sara’ir dzahara fi syahadat al-zawahir.
Terjemahan:
Sesuatu yang tersimpan dalam kegaiban rahasia batin akan tampak keluar dalam tindakan dan sikap lahir.
Mari kita telaah kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: umum dan khusus.
Pengertian umum. Secara harafiah, makna ungkapan Syekh Ibn Ataillah ini adalah sebagai berikut: rahasia-rahasia batin yang dititipkan dan disimpan oleh Tuhan dalam hati kita tak akan terus bisa tersimpan di sana. Dia akan keluar, dan nampak dalam tindakan lahir kita. Sifat-sifat mental yang ada dalam diri kita adalah ibarat sebuah rahasia kita. Tetapi ia tak bisa kita rahasiakan, sebab sifat-sifat itu akan muncul keluar, membentuk tindakan sehari-hari kita.
Ketika kita berjumpa denga orang baru yang tak kita kenal sebelumnya, ia seperti sebuah “rahasia” yang penuh misteri yang tak kita ketahui apa sikap, pikiran, dan pendapat-pendapatnya. Pelan-pelan, ketika kita sudah berinteraksi dengan orang itu, bercakap-cakap, berdiskusi dan bertukar pikiran dengannya, kita mulai tahu siapa sesungguhnya dia. Orang yang semula merupakan rahasia dan misteri bagi kita, akhirnya terungkap melalui tindakan, ucapan, pendapat dan sikap yang ia tunjukkan kepada kita dan orang lain.
Sebab segala rahasia yang ada dalam batin kita tak bisa terus bersemayan di sana selamanya. Apa yang ada dalam batin kita akan keluar dan muncul, dan bisa dilihati oleh orang lain melalui tindakan-tindakan kita. Karena itu, tindakan orang adalah semacam “jendela” dari mana kita bia melihat isi hati orang.
Apa yang dikemukakan oleh Syekh Ibn Ataillah ini tentu saja merupakan kebijaksanaan mistik, ilmu batin yang ia peroleh berdasarkan pengalaman spiritualnya sebagai seorang sufi. Tetapi, kebijaksanaan ini sebetulnya berlaku untuk konteks kehidupan yang luas. Kita bisa mengalami hal ini dalam peristiwa sehari-hari yang kita alami bersama sahabat kita atau orang-orang lain yang ada di sekitar kita.
Kita bisa menilai watak, isi hati, dan sikap batin orang lain berdasarkan tindakan dia sehari-hari. Karena itu, kadan sulit bagi seseorang menyembunyikan apa yang ada dalam batin dan hatinya, sebab gerak-geriknya dengan cukup baik menceritakan rahasia batinnya. Dalam pepatah Arab dikatakan: lisan al-hal afshahu min lisan al-maqal. Tindakan seseorang lebih jelas mengatakan siapa orang itu daripada kata-katanya. Tindakan berkata lebih keras dari kata-kata.
Jika kita bisa mengetahui rahasia hati seseorang berdasarkan tindakan-tindakannya, begitu juga kita bisa mengerti dan memahami Tuhan Yang Maha Rahasia dan Maha Batin melalui tindakan-tindakan-Nya di dunia ini. Seseorang yang memahami tindakan Tuhan di dunia ini akan mengetahu siapa sejatinya Tuhan itu. Dan siapapun yang memahami Tuhan dengan sesungguhnya, dia dengan sendirinya akan paham juga siapa manusia.
Pengrtian khusus. Di kalangan sufi dikenal dua istilah, yaitu: al-ahwal al-qalbiyyah atau suasana dan sikap kebatinan, dan al-af’al al-qalabiyyah atau tindakan yang muncul dalam badan lahir kita. Ada dua kata yang saling berpasangan, yaitu al-qalb yang artinya hati, dan al-qalab yang artinya adalah wadag atau badan lahir kita. Apa yang ada dalam “qalb”/hati akan tampak keluar dalam “qalab”/badan.
Jika dalam “qalb” kita terdapat sifat-sifat yang terpuji seperti kehalusan budi (adab/tahzib), ketenangan dan ketegaran batin (sukun/tuma’ninah/razanah), kedermawanan dan mudah mengampuni kekeliruan orang lain (badzl dan ‘afw), maka sifat-sifat itu tentu akan muncul ke permukaan dalam “qalab” atau badan kita.
Sebaliknya, jika dalam “qalb” terdapat sifat-sifat buruk dan tercela, seperti kersehahan batin (qalaq), kemarahan (ghadab), kekeras-kepalaan (thaisy), maka sifat-sifat itu juga akan muncul di dalam “qalab” atau tindakan badan kita.
Kata Syekh Ibn Ajibah: Wa kullu in’ain bil-ladzi fihi yarsyahu. Gelas biasanya akan memercikkan apa yang ada di dalamnya. Jika di dalam gelas itu terdapat air, maka ia akan memercikkan air pula. Tak mungkin cangkir yang berisi air bisa memercikkan susu, misalnya. Sebab gelas hanya mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, bukan yang lain.
Dari sini, sebuah pelajaran moral bisa kita peroleh. Yakni: Kita harus terus-menerus berusaha memperbaiki apa yang ada di dalam “qalb”, hati dan rohani. Jika kita melakukan reformasi, islah, atau perbaikan terhadap apa yang ada di dalam hati dan batin, dengan sendirinya tindakan lahiriah kita juga akan ikut menjadi baik.
Tak mungkin kita berharap terjadinya perbaikan atas tindakan seseorang tanpa ada perbaikan terhadap apa yang ada dalam rahasia batin orang itu. Karena itu, pendekatan perubahan sosial dalam pandangan kaum sufi biasanya adalah “mulai dari dirimu sendiri.” Tak ada gunanya kita mengubah struktur, sistem, dan aturan jika batin dan hati orang-orang masih sakit.
Sebab peraturan dan sistem yang baik dan ideal bisa dikorupsi oleh orang-orang yang hati dan batinnya jahat
KESIMPULAN
1. Tindakan manusia adalah jendela dari mana kita bisa menengok ke dalam isi hati orang. Tindakan seseorang menandakan sikap dan sifat-sifat yang ada dalam hatinya. Apa yang tersembunyi dalam hati seseorang dalam bentuk sikap hidup akan mencuat keluar dalam bentuk tindkan dalam kehidupan sehari-harinya.
2. Karena itu, tugas seorang beriman (juga yang tak beriman, sebab ini pelajaran yang berlaku universal) adalah: memperbaiki kualitas mental, batin dan rohani kita. Sebab dari sanalah sumber segala tindakan kita.
3. Jika kita mau mengubah masyarakat, ubahlah melalui individu-individu yang ada di dalamnya. Cara terbaik mengubah individu adalah dengan memperbaiki kualitas rohaninya, sikap-sikap dalam hatinya. Inilah pendekatan perubahan sosial menurut pandangan orang-orang tasawwuf.
Allahumma, berilah kami kekuatan untuk terus-menerus memperbaiki sikap-sikap batin kita, dan menanamkan di sana sifat-sifat dan kualitas mental dan rohani yang terpuji.

NGAJI HIKAM #34
Bismillahirrahmanirrahim
________________________
DUA JALAN MENUJU TUHAN
Syekh Ibn Ataillah berkata:
Syattana baina man yastadillu bihi aw yastadillu ‘alaihi. Al-mustadillu bihi ‘arafa al-Haqqa li-ahlihi, fa atsbata al-amra min wujud aslihi. Wa al-istidalalu ‘alaihi min ‘adam al-wusuli ilaihi. Wa-illa fa-mata ghaba hatta yustadalla ‘alaihi? Wa-mata ba’uda hata takuna al-atsaru hiya al-lati tusilu ilaihi?
Terjemahannya:
Beda sekali antara orang yang mencari dalil dengan Dia, dan yang mencari dalil untuk (menuju kepada) Dia. Orang yang pertama, yang mencari dalil dengan Dia, orang itu telah mengetahui Dia Yang Maha Benar, lalu menetapkan eksistensi segala sesuatu berdasarkan wujud aslinya.
Sementara orang yang mencari dalil untuk menuju kepada-Nya, dia melakukan itu karena belum sampai kepada Tuhan. Jika tidak demikian, sejak kapan Tuhan pernah bersembunyi lalu orang itu harus mencari dalil untuk menetapkan wujud-Nya dan untuk sampai kepada-Nya? Dan sejak kapam Tuhan begitu jauh sehingga membutuhkan jejak-jejak yang akan bisa membawa seseorang sampai kepada-Nya?
Apa yang dikatakan oleh Syekh Ibn Ataillah kali ini tampak rumit, terutama dalam versi terjemahannya. Tetapi maksudanya sebetulnya sangat sederhana dan gampang dipahami. Mari kita pahami kebijaksaaan Syekh Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: umum dan khusus.
Pengertian umum. Ada dua jalan menuju kepada kebenaran. Jalan yang pertama adalah jalan yang ingin saya sebut jalan deduktif. Jalan kedua adalah jalan induktif. Jalan deduktif adalah jalan dari atas ke bawah. Jalan ini dimulai dari pengalaman iman dahulu, dimulai dengan sikap menerima kebenaran ketuhanan. Setelah pengalaman ini dicapai, baru orang yang bersangkutan memahami segala sesuatu berdasarkan iman yang ada di dalam dirinya itu.
Sementara jalan induktif adalah jalan dari bawah ke atas. Jalan ini dimulai dari pengamatan terhadap segala fenomena yang ada di dunia ini, kemudian dari sana pelan-pelan naik ke atas untuk menuju kepada Sang Pecipta. Jalan induktif adalah jalan yang mirip dengan pekerjaan seorang ilmuwan: bergerak dari data-data spesifik untuk kemudian menarik sebuah teori umum dan general dari sana.
Jalan deduktif adalah jalan para wali, yaitu orang yang sudah sampai kepada pengetahuan yang sejati tentang inti kehidupan dan Tuhan, orang-orang yang sudah mencapai ma’rifat. Orang-orang semacam ini sudah memiliki semacam “kunci” untuk memahami rahasia segala sesuatu dan mampu mengerti segala hal berdasarkan proporsinya masing-masing. Dia melihat dunia ini dengan mata “spiritual”: dia melihat Tuhan ada di mana-mana.
Jalan induktif adalah jalan yang ditempuh para mutakallimun atau teolog Islam. Para teolog Muslim memahami Tuhan dengan cara yang berbeda. Para teolog memahami Tuhan dengan jalan induktif: yaitu bergerak dari dunia yang nyata dan menjadikan dunia nyata itu sebagai jalan atau dalil menuju Tuhan.
Tentu saja beda antara dua jalan itu. Jalan deduktif adalah jalan orang-orang yang sudah sampai atau wusul kepada Tuhan, dan dari pengalaman wusul itu dia memandang seluruh gejala dan fenomena di dunia ini. Dia memandang dunia dengan “mata Tuhan”. Sementara jalan induktif adalah jalan orang-orang yang belum sampai kepada Tuhan, sehingga mereka perlu mencari-Nya lewat “ayat-ayat Tuhan” yang ada di dunia ini.
Dengan kata lain, ada beda yang besar antara ilmu tasawwuf dan ilmu teologi. Ilmu tasawwuf menjumpai Tuhan dengan jalan “pengalaman spiritual”, sementara jalan teologi berusaja menjumpai dan menuju Tuhan dengan metode yang rasional. Menurut Syekh Ibn Ataillah, jalan tasawwuf lebih tinggi derajatnya ketimbang jalan teologi.
Pengertian khusus. Menurut Syekh Ibn Ajibah, ada dua jenis manusia. Yang pertama adalah manusia yang berada pada maqam mahabbah (ahl al-mahabbah), orang-orang yang mencintai Tuhan. Yang kedua adalah orang-orang yang ada pada maqam hikamh atau ahl al-hikmah. Manusia yang pertama adalah mereka yang diberikan pengetahuan tentang rahasia ketuhanan, rahasia eksistensi atau segala wujud yang ada.
Sementara manusia kedua adalah orang-orang yang masih berputar-putar di “kulit”, belum sampai kepada inti wujud. Dia sibuk dengan fenomena lahiriah, menelitinya, mengkajinya, mengobservasinya, tetapi dia belum sampai kepada inti dari sesuatu yang dia observasi itu. Tuhan begiti tampak dan terang-benderang dalam segala sesuatu, tetapi orang-orang yang ada pada maqam ini, maqam hikmah, tak mampu melihat-Nya.
Dari ajaran Syekh Ibn Ataillah ini kita bisa memetik satu hal: jalan terbaik untuk memahami dan mengerti Tuhan adalah jalan mistik. Bukan jalan rasional. Jalan mistik atau tasawwuf berdasarkan pada pengalaman langsung atas rahasia ketuhanan. Bukan melalui penalaran rasional.
KESIMPULAN 
1. Ada dua jalan menuju Tuhan. Memakai istilah Syekh Ibn Ataillah, ada jalan "yastadillu bihi", dan jalan "yastadillu 'alaihi". Jalan yang pertama adalah jalan tasawwuf. Jalan ini bekerja dengan cara mengalami Tuhan secara langsung, melalui ibadah, zikir, meditasi, refleksi dan pengalaman batin yang lain. Jalan yang pertama ini boleh kita sebut dengan "jalan rasa". Merasakan Tuhan.
Jalan yang kedua adalah jalan para ilmuwan atau teolog: yaitu menumpai Tuhan lewat teori dan penalaran ilmiah, melalui prosedur riset, penelitian, observasi atas hal-hal yang ada di dunia ini. Jalan ini bisa disebut sebagai jalan "memikirkan Tuhan" yang berbeda secara mendasar dengan jalan "merasakan Tuhan."
2. Jalan rasa, menurut Syekh Ibn Ataillah, lebih tinggi derajatnya ketimbang jalan pikir, Sebab jalan rasa membantu kita mengalami Tuhan secara langsung, bukan melalui perantaraan "atsar" atau jejak-jejak Tuhan di bumi ini.
Jalan yang pertama adalah jalan burhan, sementara yang kedua adalah jalan 'irfan, kalau mau memakai istilah dari alm. Muhammad 'Abid al-Jabiri, filosof Muslim dari Maroko.
Allahumma, semoga Engkau memberkati kami dengan pengetahuan mengenai rahasia-MU sehingga kami bisa menjadi orang-orang yang bijak memahami segala wujud yang ada di dunia ini.

NGAJI HIKAM #35
Bismillahirrahmanirrahim
________________________
KEDALAMAN ILMU MEMBUAT SESEORANG KIAN LUAS PANDANGAN DAN BIJAK
Syekh Ibn Ataillah berkata:
Li-yunfiq dzu sa’atin min sa’atihi al-washiluna ilaihi, wa man qudira ‘alaihi rizquhu al-sa’iruna ilaihi.
Terjemahan:
Hendaklah bersedekah orang-orang yang kaya dari kekayaannya, yaitu orang-orang yang telah “wusul” atau sampai kepada Tuhan. Begitu juga, orang-orang yang miskin, yang terbatas rejekinya, yang sedang dalam perjalanan menuju kepada Dia (hendaknya mereka bersedekah juga).
Pengertian umum. Ada dua derajat bagi manusia: yang pertama ialah derajat mereka yang sedang dalam perjalanan untuk mencari kebenaran; yang kedua, derajat mereka yang telah sampai kebenaran yang mereka cari itu. Orang-orang yang telah sampai kepada kebenaran yang hakiki, biasanya akan menjumpai sebuah keluasan pandangan, dan karena itu menjadi bijak.
Sementara orang-orang yang masih dalam tahap perjalanan, biasanya memiliki pandangan yang sempit, terbatas. Itulah sebabnya, kerapkali kita menyaksikan orang-orang yang demikian itu tampak lebih “kereng”, galak, dan keras, bahkan “sok paling relijius” ketimbang mereka yang sudah sampai kepada puncak pengetahuan tentang kebenaran yang sejati.
Yang menarik di dalam bagian ini ialah bahwa Syekh Ibn Ataillah memakai ayat 65:7 itu dalam konteks pengertian mistik atau tasawwuf. Bunyi lengkap ayat itu ialah: Li yunfiq dzu sa’atin min sa’atihi, wa man qudira ‘alaihi rizquhu fal yunfiq mimma atahu ‘l-Lah. Terjemahan bebasnya: masing-masing orang hendaknya bersedekah – yang kaya bersedekah dari kekayaannya, dan yang miskin serta terbatas rejekinya, hendaknya bersedekah sesuai dengan apa yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Kaya atau miskin, hendaknya seseorang mau membagi sebagian dari yang ia miliki dengan orang lain.
Siapa yang kaya, dan siapa yang miskin dalam konteks tasawwuf? Dalam kalimat Syekh Ibn Ataillah di atas, yang kaya ditakrifkan sebagai orang-orang yang telah berhasil mencapai ma’rifat, ilmu sejati, orang-orang yang “wusul”. Sementara orang-orang yang miskin adalah orang yang masih dalam tahap perjalanan.
Dalam ayat tadi, orang yang kaya, yakni orang yang telah sampai kepada kebenaran yang sejati, digambarkan sebagai orang-orang yang memiliki kelapangan; dalam ayat tadi diungkapkan dengan frasa “dzu sa’atin” (yang memiliki kelapangan). Sementara orang miskin, yakni yang masih dalam tahap mencari Tuhan, digambarkan sebagai orang-orang yang memiliki kesempitan: qudira ‘alaihi.
Dengan kata lain, kebenaran yang sejati membuat pandangan seseorang makin luas dan bijak, karena dia mampu meletakkan segala sesuatu dan kejadian dalam tempatnya yang pas dan proporsional. Orang semacam ini tidak gampang melakukan “penghakiman” kepada orang lain, termasuk menghakimi keyakinan-keyakinan orang yang berbeda.
Sebaliknya, mereka yang masih dalam tahap perjalanan cenderung terbatas wawasannya, dan gampang tergoda untuk melakukan penilaian yang kurang berimbang terhadap segala hal.
Masing-masing orang, kata Syekh Ibn Ataillah, akan ber-infaq atau bersedekah sesuai dengan wawasan kebenaran yang ia miliki. Yang “kaya” secara spiritual akan bersedekah kepada orang lain dari kekayaan spiritualnya itu; sementara yang miskin secara spiritual juga akan berbagi pengertian dan pemahaman sesuai dengan apa yang ia miliki.
Dengan kata lain: Kita harus lah memaklumi fakta semacam ini, sebab setiap orang tak bisa bertindak melebihi pengetahuan dan wawasan hidup yang ia miliki. Jika kita berjumpa dengan orang-orang yang masih terbatasan wawasannya secara spiritual lalu mudah menghakimi orang lain, kita maklumi saja, seraya kita berikan nasihat jika ia bersedia mendengarkan. Jika tidak, kita harus mafhum saja.
Sebaliknya, jika kita berhadapan dengan orang yang luas wawasan spiritualnya, maka hendaknya kita mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk menyesap sebanyak mungkin kebijakan dari yang bersangkutan.
Pengertian khusus. Kata Syekh Ibn Ajibah: orang-orang yang mampu menerbangkan jiwa dan rohaninya ke alam roh (‘alam al-arwah), meninggalkan alam materi yang hanya bayang-bayang semu belaka (‘alam al-asybakh), ke alam kerajaan rohani (al-malakut), meninggalkan kerajaan materi (al-mulk) – mereka itu akan mengalami keluasan ilmu dan wawasan spiritual.
Sebaliknya, mereka yang membiarkan diri bersemayam dalam kesempitan wujud dan alam materi (al-akwan), membiarkan dirinya terpenjara oleh alam “simulacra” atau bayang-bayang yang memenjarakan jiwa, mereka itu tak akan dibukakan pintu menuju gudang pemahaman. Mereka harus membersihkan jiwanya terlebih dahulu (tasfiyat al-qulub) dan melawan tendensi-tendensi buruk/jahat dalam dirinya (jihad al-nufus), sebelum bisa menikmati keluasan rohani dan pengetahuan spiritual.
Sebuah pesan “spiritual” dari Syekh Ibn Ajibah (penulis kitab Iqadz al-Himam yang merupakan syarah atau komentar atas Kitab al-Hikam) adalah sebagai berikut: Jika engkau hendak menikmati ilmu rasa (‘ilm al-adzwaq), yaitu ilmu tentang kebenaran yang sejati, maka engkau harus meninggalkan ilmu yang ada di kertas (‘ilm al-awraq).
Artinya: jika kita hendak terjun dalam pengalaman tasawwuf/mistik, tinggalkan teori di buku, dan jalanilah langsung apa yang tertulis di buku itu dalam kehidupan yang nyata, melalui pengalaman langsung. Sebab teori di buku tak akan mengubah apa-apa selain hanya menambahkan informasi ke dalam otak kita. Sementara ilmu tasawwuf adalah ilmu rasa dan hati.
Pelajaran yang bisa kita petik dari sini ialah: Jika kita hendak memiliki keluasan pandangan dan wawasan spiritual, kita harus bisa melonggarkan ikatan diri kita dengan hal-hal yang sifatnya material, dan belajar pelan-pelan untuk mengasah ketajaman rohani; meninggalkan kerajaan materi menuju kepada kerajaan rohani. Di kerajaan rohanilah orang akan memiliki pandangan yang luas dan dari sana bisa menjalani hidup yang bijak.[]

NGAJI HIKAM #36
Bismillahirrahmanirrahim
______________________
MANUSIA ADALAH WUJUD YANG BERCAHAYA
Syekh Ibn Ataillah berkata:
Ihtada al-rahiluna ilaihi bi-anwar al-tawajjuh, wa al-wasiluna lahum anwar al-muwajahah. Fa al-awwaluna li al-anwar, wa ha’ula’i al-anwaru lahum. Li-annahum li ‘l-Lahi la li-sya’iin dunahu. Quli ‘l-Lahu tsumma dzarhum fi khaudlihim yal’abun.
Terjemahan:
Orang-orang yang masih dalam tahap perjalanan menuju Tuhan, mendapatkan jalan menuju kepada-Nya melalui cahaya “tawajjuh”, cahaya “menghadap”. Sementara mereka yang telah sampai kepada Tuhan, mendapatkan jalan kepada-Nya dengan cahaya “muwajahah”, cahaya “berhadap-hadapan”. Yang satu sedang mencari cahaya, yang satunya lagi cahaya selalu menyertai mereka. Sebab mereka, golongan yang kedua itu, seluruh dirinya hanya untuk Tuhan, bukan untuk yang lain. “Katakan: Tuhan saja! Lalu tinggalkan mereka tenggelam dalam permainan. (QS 6:91).
Mari kita ulas kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: umum dan khusus.
Pengertian umum. Seseorang yang hendak mencari kebenaran yang sejati, kebenaran tentang hidup, kebenaran tentang Tuhan, harus dituntun oleh sebuah cahaya. Seseorang yang berada dalam kegelapan, atau memiliki kegelapan dalam dirinya, akan sulit mendapatkan jalan menuju kepada kebenaran itu. Harus ada cahaya, sekecil apapun, yang menuntunnya.
Cahaya itu sebetulnya ada pada setiap diri manusia. Persoalannya hanyalah satu belaka: manusia bersangkutan mau melihat cahaya itu atau tidak. Sebab, sejak lahir, dalam diri manusia ada cahaya yang meneranginya untuk berjalan menuju kepada sebuah kebenaran. Selebihnya, pilihan ada pada manusia itu: apakah mau merawat cahaya itu, memakainya, dan bahkan mengembangkannya menjadi cahaya yang lebih kuat dan berbinar-binar.
Atau dia biarkan cahaya itu redup, dan mati sama sekali. Ketika cahaya itu telah mati, maka sejatinya manusia bersangkutan telah mati sebagai manusia. Dia hanya seonggok daging yang tak berbeda jauh dengan binatang. Dia hanya “pure matter”, materi murni yang tanpa kesadaran apapun tentang sesuatu yang “gaib”, sesuatu yang lebih dari sekedar materi. Itulah sebabnya saya berkali-kali mengatakan di ruangan ini bahwa materialaisme adalah sejenis kekufuran karena membuat cahaya dalam diri manusia redup dan mati sama sekali.
Cahaya yang ada dalam diri manusia itu, menurut Syekh Ibn Ataillah, terbagi dua. Ada yang disebut cahaya “tawajjuh”, dan cahaya “muwajahah”. Istilah yang kelihatannya rumit ini maknanya seseungguhnya sangat sederhana. Cahaya tawajjuh adalah cahaya pada diri manusia yang membuat dia rindu dan ingin mencari kebenaran. Dalam diri manusia, selalu ada cahaya semacam ini. Ini semacam cahaya fitrah yang baik. Semua manusia pada dasarnya memiliki kapasitas untuk kebaikan karena adanya cahaya “tawajjuh” ini.
Secara harafiah, tawajjuh artinya adalah “menghadap kepada” atau “berjalan menuju”. Seseorang yang berjalan menuju ke sebuah tempat bisa disebut sebagai orang yang sedang “tawajjuh” menuju tempat itu. Cahaya tawajjuh ialah kecenderungan alamiah pada diri manusia untuk mencari kebenaran, untuk berbuat baik kepada sesama. Ini cahaya yang diletakkan oleh Tuhan dalam hati manusia sejak ia lahir sebagai kecenderungan alamiah yang menuntunnya kepada kebenaran.
Dalam Kristen maupun Islam, ada pemahaman “spiritual” bahwa manusia diciptakan dalam citra Tuhan; imago Dei, wa nafakhtu fihi min ruhi. (QS 15:29) Dengan kata lain, dalam diri manusia pada dasarnya ada Tuhan – Tuhan yang melekat pada jiwa manusia dalam bentuk cahaya. Itulah yang disebut dengan cahaya tawajjuh.
Cahaya muwajahah adalah cahaya pengetahuan tentang kebenaran yang sejati yang telah dicapai oleh manusia. Seseorang yang telah berhasil mendidik jiwanya, mereformasinya, dan menjadikannya sebagai jiwa yang “muthma’innah”, jiwa yang tenang karena telah mengetahui ilmu rahasia hidup, ilmu ketuhanan yang sejati, orang itu akan berhasil menyalakan cahaya muwajahah dalam dirinya.
Muwajahah secara harafiah artinya ialah berhadap-hadapan, face-to-face, tête-à-tête. Seseorang yang telah berhasil menyalakan cahaya muwajahah dalam dirinya adalah seperti seseorang yang bisa bercakap-cakap langsung dengan Tuhan, muwajahah.
Pengertian khusus. Menurut Syekh Ibn Ajibah, cahaya tawajjuh adalah cahaya Islam dan Iman. Sementara cahaya muwajahah adalah cahaya Ihasan. Sebagaimana kita tahu, tahap-tahap keberagamaan harus melalui tiga tangga ini: Islam, Iman, dan Ihsan. Masing-masing tahap adalah tangga menuju kepada tahap berikutnya.
Islam adalah ketaatan fisik dalam bentuk ibadah badan. Iman adalah ketaatan atau ibadah batin dalam bentuk percaya kepada Tuhan, malaikat, dan nabi-nabi sebagai perantara kebenaran antara Tuhan dan manusia. Sementara Ihsan adalah sikap hati di mana sesorang merasa terus bersama Tuhan, dalam keadaan apapun. Ihsan adalah “an acute sense of divine presense”, perasaan yang begitu akut dan mendalam tentang kehadiran Tuhan dalam diri manusia.
Seseorang yang sudah mencapai tahap Ihsan adalah seperti orang yang bercahaya. Dia tak butuh cahaya dari luar, sebab dirinya, tubuhnya, jiwanya, pikirannya telah malih rupa menjadi cahaya, sebab telah menjadi rohaniah.
Itulah yang dimaksud dengan ungkapan Syekh Ibn Ataillah “wa ha’ula’i al-anwaru lahum”. Cahaya ada pada mereka, dalam pengertian mereka telah berubah menjadi “tubuh yang bercahaya”. Orang semacam ini, kemanapun ia pergi, dia secara otomatis akan menjadi lilin untuk lingkungan di sekitarnya dan mendatangkan rasa damai dan ketenteraman.
Sementara orang-orang yang masih dalam tahap Islam dan Iman saja, mereka baru dalam proses mencari cahaya tentang kebenaran yang sejati. Orang-orang ini belum menjadi cahaya, dan karena itu membutuhkan bimbingan dari orang lain yang telah bercahaya.
Pelajaran yang bisa kita petik dari sini ialah: manusia pada dasarnya adalah wujud yang bercahaya. Dia bisa menerangi kegelapan di sekitarnya. Tetapi ini tergantung pada manusia yang bersangkutan. Dia bisa merawat cahaya itu dan membesarkannya, tetapi dia bisa juga memadamkan cahaya itu dan ia akan merosot menjadi sekedar manusia zombie belaka.
Manusia yang bercahaya akan menebarkan cahaya harapan dan optimisme bagi lingkungan sekitar. Sementara manusia yang telah redup cahaya jiwanya, akan menebarkan ketakutan dan teror untuk lingkungannya. Teroris yang sebenarnya ialah dia yang telah redup dan mati cahaya dalam jiwa dan rohaninya!

KESIMPULAN
1.Manusia adalah makhluk yang di dalam dirinya ada unsur cahaya yang berasal dari Tuhan. Ada dua jenis cahaya. Cahaya "tawajjuh" yang mendorong seseorang untuk terus mencari kebenaran dan membuatnya condong kepada perbuatan-perbuatan yang baik. Inilah yang disebut dengan fitrah atau keadaan asali manusia yang menyertainya saat ia lahir.
Yang kedua adalah cahaya “muwajahah”, yaitu cahaya yang menyala pada jiwa manusia karena dia telah mendapatkan ilmu ma’rifat, ilmu mengenai rahasia hidup dan ketuhanan.
2.Cahaya yang diletakkan oleh Tuhan pada diri manusia bisa tumbuh besar, kuat, dan berpendar, bisa redup lalu mati. Ini tergantung kepada sikap manusai yang bersangkutan. Ia bis membesarkan cahaya itu, tetapi dia juga bisa memadamkannya.
3.Manusia yang dalam jiwanya menyala-nyala cahaya ketuhanan akan memberikan sinar kedamaian pada lingkungan di sekitarnya. Dia seperti matahari yang memberi kehangatan pada bumi.

NGAJI HIKAM #37
Bismillahirrahmanirrahim
______________________
AWAL PERJALANAN MISTIK: MELAKUKAN OTOKRITIK
Syekh Ibn Ataillah berkata:
Tasyawwufuka ila ma bathana fika min al-’uyub khairun min tasyawwufika ila ma hujiba ‘anka min al-ghuyub.
Terjemahan:
Kegigihanmu untuk meneliti aib dan kelemahan yang tersembunyi dalam dirimu jauh lebih baik daripada kegigihanmu untuk mengetahui pengetahun-pengetahuan rahasia yang tersembunyi darimu.
Mari kita telaah kebijaksanaan yang “asyik” dari Syekh Ibn Ataillah ini dengan dua pengertian: pengertian umum dan khusus.
Pengertian umum. Perjalanan menuju kepada kebenaran yang sejati, menuju kepada Tuhan, menuju kepada ma’rifat, sejatinya dimulai dari langkah yang amat sederhana, yaitu melakukan penelitian atas kelemahan-kelemahan dan aib yang mengendap dalam diri kita. Meskipun manusia memiliki cahaya “tawajjuh”, cahaya fitrah yang menuntunnya kepada jalan kebenaran seperti kita bahasa dalam bagian sebelumnya, tetapi manusia juga memiliki kelemahan bawaan.
Manusia adalah anak cucu Adam. Kita semua, sebagai keturuan Adam, mewarisi kelemahan Adam yang membuatnya terlontar dari Firdaus, tempat keabadian dan kedamaian itu. Kelemahan Adam yang kita warisi hingga sekarang ialah kecenderungan untuk mudah lengah, mudah tergoda, mudah tergelincir, mudah melakukan kekeliruan.
Dalam setiap individu, selalu akan kita temukan kelemahan yang “endemik” ini. Fitrah manusia adalah fitrah kebaikan, tetapi fitrah itu mudah terkorupsi oleh kelemahan manusia tersebut. Oleh karena itu, permulaan untuk melakukan perjalanan mistik adalah kesediaan untuk meneliti terus kelemahan dan aib itu. Dengan kata lain, langkah awal untuk menjadi seorang sufi adalah otokritik: menelaah dan mengkritik diri sendiri.
Syekh Ibn Ataillah bahkan menegaskan: kesediaan untuk menelaah kelemahan-kelemahan diri sendiri itu jauh lebih baik daripada rahasia-rahasia ketuhanan yang hendak diburu oleh seorang sufi. Sebab, ilmu tentang kesejatian hidup, tentang rahasia ketuhanan, tentang ma’rufat, sebetulnya merupakan hasil dari langkah awal itu, yakni otokritik. Tanpa langkah awal tersebut, tahap ma’rifat itu tak akan kita capai.
Apa yang dikemukakan oleh Syekh Ibn Ataillah ini bisa kita terapkan sebagai sebuah kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari pula. Keberhasilan seseorang dalam mencapai kebahagiaan hidup dimulai dari langkah-langkah kecil seperti kesediaan melihat kelemaan diri sendiri. Dengan melihat kelemahan itu, kita siap melangkah ke tangga berikutnya: yaitu memperbaiki diri, self-reformation.
Kecenderungan yang “alamiah” pada manusia biasanya ialah “self-denial”, menolak mengakui kesalahan, dan melemparkan kesalahan pada orang lain. Manusia memang selalu memiliki kecenderungan untuk lebih mudah melihat kekurangan pada orang lain, seraya mengabaikan kelemahan pada dirinya sendiri.
Ini bisa kita jelaskan dari sudut psikologis. Menyadari bahwa seseorang melakukan kesalahan menimbulkan rasa sakit pada dirinya. Kesadaran bahwa seseorang melakukan kekeliruan adalah seperti sebuah “tamparan kejiwaan” yang menimbulkan ketidak-nyamanan dalam batinnya. Sebagaimana manusia dengan refleks alamiah mencoba menghindari tamparan fisik yang menimbulkan ketidak-nyamanan pada tubuhnya, begitu pula ia dengan otomatis ingin menghindari ketidak-nyamanan batin dengan melemparkan kesalahan keluar dari dirinya. Inilah asal-usul dari sikap “self-denial” (menolak mengakui berbuat salah) itu.
Untuk sementara, menolak mengakui kesalahan pada diri sendiri mungkin menimbulkan perasaan nyaman dan aman. Tetapi itu perasaan palsu. Sebab manakala sikap ini secara akut diderita oleh seseorang, dia akan menghadapi kenyataan pahit di ujung perjalanan: yaitu ledakan kesalahan demi kesalahan yang tak pernah diakuinya pada tahap-tahap sebelumnya. Seperti sebuah bisul yang lama-lama tak tertahankan dan akhirnya pecah juga.
Untuk menghindarkan ledakan di ujung ini, tak ada cara lain kecuali seseorang mencicil perbaikan dengan mengakui kesalahan secara pelan-pelan, dan memperbaiki kesalahan itu dengan pelan-pelan pula. Dengan tindakan seperti ini, kita akan hidup secara benar, baik, dan tepat. Dengan hidup secara baik, kita akan menikmati sebuah kebahagiaan. Sebab tak ada yang mengganggu dan menimbulkan kesengsaraan pada batin manusia melebihi perbuatan yang salah.
Pengertian khusus. Kelemahan dan cacat manusia itu bermacam-macam. Ada kelemahan jiwa (‘uyub al-nafs). Ada kelemahan hati (‘uyub al-qalb). Dan ada kelemahan roh (‘uyub al-ruh). Kelemahan jiwa tergambar dalam kecenderungan manusia untuk bisa lalai karena kegandrungan yang berlebihan pada hasrat-hasrat jasmani: makan, minum, seks, rumah yang mewah, dsb.
Hasrat-hasrat ini tidak merupakan “dosa” pada dirinya. Dalam kadar yang wajar, hasrat ini justru penting untuk menegakkan wujud manusia sebagai badan dan wadag. Tetapi, dalam dosis yang tak terkontrol, hasrat-hasrat itu bisa destruktif. Dan karena itu, manusia harus siap melakukan “self-monitoring” untuk mengendalikan kadar hasrat itu agar tidak “mbedhal” atau lari tunggang-langgang.
Kelemahan hati terlihat dalam keinginan akan hal-hal yang agak abstrak setelah hasrat “elementer” yang pertama seperti makan-minum-seks terpenuhi. Mislanya, hasrat akan kekuasaan, pengakuan, perasaan tinggi hati dan sombong karena kekuasaan yang ada pada seseorang, dengki, dsb. Perasaan-perasaan semacam ini jelas bisa berdampak destruktif pada manusia.
Sementara roh kita juga memiliki kelemahan pula, seperti keinginan untuk “tampak saleh dan relijius” di mata orang lain, hasrat untuk medapatkan “kemuliaan spiritual” (karamat) dari Tuhan, dsb. Termasuk dalam kelemahan roh adalah menyembah Tuhan dengan pamrih mendapatkan sorga dan bidadari yang cantik.
Pamrih “rohaniah” semacam ini bagi orang umum mungkin bukan suatu kelemahan yang serius. Tetapi bagi orang-orang yang telah naik kelas dan mencapai maqam al-‘arifin, orang-orang yang mengetahui rahasia ketuhanan, hasrat rohaniah seperti itu bisa juga destruktif, merusak.
Apa yang bisa kita petik dari sini? Manusia dikepung oleh kemungkinan salah dari segala segi: salah dalam tindakan fisik, salah dalam tindakan jiwa, salah dalam tindakan hati, dan salah dalam tindakan roh. Karena itu, setiap saat manusia harus dalam keadaan “alert”, waspada, dan mau mengakui kekeliruan jika toh akhirnya ia melakukannya. Bukan menolak dan melemparnya kepada orang lain.
Inilah langkah awal menuju kepada perjalanan mistik yang disebut dengan “tashfiyat al-nufus” pembersihan jiwa.

NGAJI HIKAM #38
Bismillahirrahmanirrahim
______________________
JIKA KITA MENDEKAT KEPADA KEBENARAN, IA AKAN BERGEGAS MENJEMPUT KITA
Syekh Ibn Ataillah berkata:
Al-Haqqu laisa bi-mahjubin ‘anka, innama al-mahjubu anta ‘an al-nadzari ilaihi. Idz laW hajabahu syai’un la-satarahu ma-hajabahu. Wa law kana lahu satirun la-kana li-wujudihi hasirun. Wa-kullu hasirin li-syai’in fa-huwa lahu qahirun. Wa-huwa al-Qahiru fawqA ‘ibadihi.
Terjemahan:
Tuhan, Sumber Kebenaran itu, tak pernah terhijab atau terhalang darimu. Melainkan yang terhalang ialah kamu yang tak mampu melihat-Nya. Sebab, jika Dia bisa dihijab atau dihalangi oleh sesuatu, maka sesuatu itu telah menutupi-Nya. Jika ada sesuatu yang bisa menutupi-Nya, maka wujud-Nya jelas memiliki batas. Setiap sesuatu yang bisa menutupi dan membatasi sesuatu yang lain, maka sesuatu itu telah berkuasanya atasnya. Sementara Dia adalah Dia yang berkuasa atas segala sesuatu.
Mari kita renungkan kebijaksanaan Syekh Ibn Ataillah yang sangat mendalam ini melalui dua pengertian: umum dan khusus.
Pengertian umum. Sebagaimana sudah pernah kita baca dalam bagian sebelumnya, Kebenaran dengan K besar (yakni kebenaran sejati yang bersumber dari Tuhan) tidak pernah bisa dihijab, disembunyikan atau diutup-tutupi. Kebenaran Tuhan adalah seperti matahari: ia sulit disembunyikan dari siapapun. Begitu matahari terbit, semua orang akan melihatnya, kecuali orang-orang yang menolak melihatnya.
Jika kita tak mampu melihat matahari kebenaran tersebut, masalah tidak terletak pada Kebenaran itu, melainkan ada pada kita yang tak mau, tak mampu, atau pura-pura tak melihat kebenaran itu. Akhirnya, kita tak menyadarinya dan terhalang daripadanya. Jika manusia melakukan tindakan aktif untuk mendekat kepada Kebenaran itu, maka Kebenaran itu akan bergegas menuju kepadanya.
Seperti disebutkan dalam sebuah hadis qudsi yang terkenal, riwayat sahabat Anas ibn Malik, di mana Tuhan berfirman (melalui Nabi): Jika seorang hamba mendekat kepada-Ku satu depa, Aku akan mendekat kepadanya satu lengan. Jika dia mendekat kepada-Ku satu lengan, Aku akan mendekat kepadanya dengan satu bentangan tangan. Jika dia mendekat kepadaku dengan berjalan, Aku akan mendekat kepadanya dengan bergegas.
Dengan kata lain, jika ada inisiatif dari kita untuk mendekat kepada Kebenaran, mau mencarinya, dengan sendirinya akan terhampar banyak jalan yang menuntun kita ke sana. Kecepatan Kebenaran itu menjemput kita jauh lebih lekas dan cepat ketimbang inisiatif kita sendiri. Syaratnya sata saja: kita siap membuka diri dan mau mendekai Sumber Kebenaran itu.
Jika kita membuka diri kepada Tuhan, maka Dia akan mendekat kepada kita, dengan kecepatan yang jauh lebih lekas ketimbang kecepatan kita sendiri dalam mendekati-Nya. Begitu kita menyiapkan diri untuk menerima Kebenaran, dengan sungguh-sungguh, maka Kebenaran itu akan datang kepada kita dalam bentuk “hikmah” atau pemahaman tentang rahasia ketuhanan. Kuncinya ada di kita. Inisiatif sepenuhnya berada di tangan manusia.
Begitu ada inisiatif dari pihak manusia, maka Tuhan akan bergerak menuju kepadanya, dan yang terjadi berikutnya ialah semacam proses “klek” di mana kehendak manusia bertemu dengan kehendak Tuhan. Pada titik itu, seseorang akan mendapatkan pengetahuan yang sejati tentang rahasia hidup, tentang rahasia ketuhanan. Pada titik itu, dia akan mampu melakukan hal-hal besar yang pada mata orang lain tampak seperti sebuah “keajaiban”.
Tak ada sesuatu apapun yang bisa menghalangi Kebenaran, sebab dia seperti matahari yang terang-benderang. Yang bisa menghalangi hanya keengganan kita untuk melihatnya. Pada manusia memang sering kita jumpai kelemahan berikut ini, yaitu “kebandelan”, “ngeyel”, “recalcitrance”. Sikap ngeyel itu diungkapkan dalam ayat ini: Inna l-insana ladzalumun kaffar (QS 14:34). Saya ingin menerjemahkan ayat ini sebagai berikut: Sesungguhnya manusia itu sering keliru tempat dan “ngeyel”.
“Ngeyel” ialah sikap keras-kepala di mana seseorang melihat sebuah kebenaran dalam hidup, tetapi dia menolak untuk menerimanya, mengakuinya. Kita mungkin pernah mengalami momen-momen semacam ini dalam hidup: kita tahu bahwa jalan yang harus kita tempuh untuk meraih sesuatu adalah jalan A atau B, karena itulah jalan yang benar. Tetapi karena ke-ngeyel-an kita, kita menolak untuk menempuhnya. Tentu saja, kita akhirnya gagal. Dan kita sudah bisa menebak kegagalan itu dari awal. Tetapi kita tak mau mengakui.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah mengalami situasi berikut ini: Kita tahu bahwa untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup, kita harus berlaku jujur dalam setiap hal yang kita kerjakan. Tetapi, entah oleh pengaruh apa, mungkin karena kelemahan bawaan manusia yang cenderung lengah, seperti pernah kita bahas dalam bagian sebelumnya, kita menempuh jalan lain: jalan yang tak jujur, dengan anggapan bahwa jalan itu akan mempercepat kita untuk sampai kepada “tujuan”.
Memang benar ada hal-hal di mana “kebenaran” dalam situasi tertentu dalam hidup sulit diketahui, seperti saat kita berhadapan dengan pilihan-pilihan yang dilematis. Tetapi ada situasi lain di mana kita tahu jalan A adalah jalan yang tepat, meskipun tampak lama dan lambat. Tetapi jalan itu akan membawa kita kepada kepuasan batin di ujung perjalanan. Tetapi dengan sikap “ngeyel” kita menolaknya.
Pengertian khusus. Wujud yang hakiki adalah Tuhan. Wujud-wujud yang lain adalah wujud derivatif; maksudnya, wujud yang mendapatkan berkah kewujudannya dari Tuhan, seperti sinar bulan yang sebetulnya bukan sinar yang berasal dari dalam dirinya. Sinar bulan adalah sinar derivatif: sinar yang sumbernya berasal dari matahari. Bulan sendiri tidak memiliki cahaya dan sinar.
Begitu juga dengan manusia dan makhluk-makhluk yang lain. Wujud segala sesuatu adalah wujud yang semu, derivatif. Hanya wujud Tuhan lah yang hakiki. Begitu juga kebenaran: hanya kebenaran sejati yang berasal dari Tuhan adalah kebenaran yang sesungguhnya. Karena itu, wujud kebenaran hakiki yang berasal dari Tuhan tak mungkin tertutup atau terhijab oleh kebenaran-kebenaran yang lain.
Ibn Ajibah mengutip kata-kata gurunya (kemungkinan Syekh al-Dirqawi): Tak ada yang bisa menghalangi dan menghijab manusia dari Tuhan kecuali “waham” atau bayang-bayang semu. Apa yang disebut waham pada dasarnya hanyalah sesuatu yang tak memiliki wujud yang nyata.
Pelajaran “spiritual” yang bisa kita petik dari sini ialah bahwa kemungkinan untuk memahami Kebenaran Yang Sejati, kebenaran ketuhanan, terbuka kepada siapa saja. Tugas kita hanyalah menyiapkan semacam kondisi spiritual untuk menerima kebenaran itu.
Kebahagiaan hidup adalah kondisi yang bisa dialami oleh siapa saja. Yang menjadi soal hanyalah satu belaka: apakah kita menyediakan diri, membuka diri kepada kebahagiaan itu atau tidak. Pada akhirnya, kondisi-kondisi kerohanian yang menentukan kebahagiaan seseorang tak tergantung pada sesuatu yang ada di luar. Semuanya kembali kepada orang itu: Mau atau tidak?[]