Senin, 29 Oktober 2012

Siksa Kubur

DALIL TENTANG ADANYA SIKSA QUBUR. SEHINGGA KITA WAJIB MEYAKINI 100% BAHWA SIKSA QUBUR ITU ADA.

Ayat Pertama: Siksaan bagi Fir’aun dan Pengikutnya di Alam Kubur
Allah Ta’ala berfirman,
وَحَاقَ بِآَلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (46)

“Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepun

g oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang , dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras".” (QS. Al Mu’min: 45-46)

Mari kita perhatikan penjelasan para pakar tafsir mengenai potongan ayat ini:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا

"Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.”

Al Qurtubhi –rahimahullah- mengatakan,

“Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini tentang adanya adzab kubur. ... Pendapat inilah yang dipilih oleh Mujahid, ‘Ikrimah, Maqotil, Muhammad bin Ka’ab. Mereka semua mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan adanya siksa kubur di dunia.” (Al Jaami’ Li Ahkamil Qur’an, 15/319)

Asy Syaukani –rahimahullah- mengatakan,
“Yang dimaksud dengan potongan dalam ayat tersebut adalah siksaan di alam barzakh (alam kubur). ” (Fathul Qodir, 4/705)

Fakhruddin Ar Rozi Asy Syafi’i –rahimahullah- mengatakan,

“Para ulama Syafi’iyyah berdalil dengan ayat ini tentang adanya adzab kubur. Mereka mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa siksa neraka yang dihadapkan kepada mereka pagi dan siang (artinya sepanjang waktu) bukanlah pada hari kiamat nanti. Karena pada lanjutan ayat dikatakan, “dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras” [Berarti siksa neraka yang dinampakkan pada mereka adalah di alam kubur]. Tidak bisa juga kita katakan bahwa yang dimaksudkan adalah siksa di dunia. Karena dalam ayat tersebut dikatakan bahwa neraka dinampakkan pada mereka pagi dan siang, sedangkan siksa ini tidak mungkin terjadi pada mereka ketika di dunia. Jadi yang tepat adalah dinampakkannya neraka pagi dan siang di sini adalah setelah kematian (bukan di dunia) dan sebelum datangnya hari kiamat. Oleh karena itu, ayat ini menunjukkan adanya siksa kubur bagi Fir’aun dan pengikutnya. Begitu pula siksa kubur ini akan diperoleh bagi yang lainnya sebagaimana mereka.” (Mafaatihul Ghoib, 27/64)

Ibnu Katsir –rahimahullah- mengatakan,
“Ayat ini adalah pokok aqidah terbesar yang menjadi dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengenai adanya adzab (siksa) kubur yaitu firman Allah Ta’ala,
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7/146)

Ibnul Qoyyim –rahimahullah- menafsirkan ayat di atas,
“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang”, ini adalah siksaan di alam barzakh (di alam kubur). Sedangkan ayat (yang artinya), “dan pada hari terjadinya Kiamat” adalah ketika kiamat kubro (kiamat besar). (At Tafsir Al Qoyyim, hal. 358)
Ayat Lain yang Membicarakan Siksa Kubur
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS. Thahaa: 124)

Ibnul Qoyyim –rahimahullah- mengatakan, “Bukan hanya satu orang salaf namun lebih dari itu, mereka berdalil dengan ayat ini tentang adanya siksa kubur.” (At Tafsir Al Qoyyim, hal. 358)

Begitu pula Ibnul Qoyyim –rahimahullah- menyebutkan ayat-ayat lain yang menunjukkan adanya siksa kubur.

Kita dapat melihat pula dalam surat Al An’am, Allah Ta’ala berfirman,
وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلآئِكَةُ بَاسِطُواْ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُواْ أَنفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.” (QS. Al An’am: 93)

Adapun perkataan malaikat (yang artinya), “Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan”. Siksa yang sangat menghinakan di sini adalah siksa di alam barzakh (alam kubur) karena alam kubur adalah alam pertama setelah kematian. (At Tafsir Al Qoyyim, hal. 358)
Begitu juga yang serupa dengan surat Al An’am tadi adalah firman Allah Ta’ala,
وَلَوْ تَرَى إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata) : "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", (tentulah kamu akan merasa ngeri).” (QS. Al Anfal: 50)

Siksa yang dirasakan yang disebutkan dalam ayat ini adalah di alam barzakh karena alam barzakh adalah alam pertama setelah kematian. (At Tafsir Al Qoyyim, hal. 358)

Begitu pula Ibnu Abil ‘Izz –rahimahullah- ketika menjelaskan perkataan Ath Thohawi mengenai aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang meyakini adanya siksa kubur, selain membawakan surat Al Mu’min sebagai dalil adanya siksa kubur, beliau –rahimahullah- juga membawakan firman Allah Ta’ala,
فَذَرْهُمْ حَتَّى يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي فِيهِ يُصْعَقُونَ (45) يَوْمَ لَا يُغْنِي عَنْهُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ (46) وَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا عَذَابًا دُونَ ذَلِكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (47)

“Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan, (yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong. Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain daripada itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Ath Thur: 45-47)

Setelah membawakan ayat ini, Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Ayat ini bisa bermakna siksa bagi mereka dengan dibunuh atau siksaan lainnya di dunia. Ayat ini juga bisa bermakna siksa bagi mereka di alam barzakh (alam kubur). Inilah pendapat yang lebih tepat. Karena kebanyakan dari mereka mati, namun tidak disiksa di dunia. Atau ayat ini bisa bermakna siksa secara umum.” (Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 2/604-605)

Begitu juga dapat kita lihat dalam kitab Shahih (yaitu Shahih Muslim), terdapat hadits dari Al Baroo’ bin ‘Aazib –radhiyallahu ‘anhu-. Beliau membicarakan mengenai firman Allah Ta’ala,
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

Al Baroo’ bin ‘Aazib mengatakan,
نَزَلَتْ فِى عَذَابِ الْقَبْرِ.

“Ayat ini turun untuk menjelaskan adanya siksa kubur.” (HR. Muslim)

Bahkan Ibnul Qoyyim –rahimahullah-, ulama yang sudah diketahui keilmuannya mengatakan bahwa hadits yang menjelaskan mengenai siksa kubur adalah hadits yang sampai derajat mutawatir. (Lihat At Tafsir Al Qoyyim, 359)
begitu juga dengan do’a berlindung dari adzab kubur yang dibaca ketika tasyahud akhir.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Jika salah seorang di antara kalian selesai tasyahud akhir (sebelum salam), mintalah perlindungan pada Allah dari empat hal: [1] siksa neraka jahannam, [2] siksa kubur, [3] penyimpangan ketika hidup dan mati, [4] kejelekan Al Masih Ad Dajjal.” (HR. Muslim). Do’a yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَشَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Allahumma inni a’udzu bika min ‘adzabil qobri, wa ‘adzabin naar, wa fitnatil mahyaa wal mamaat, wa syarri fitnatil masihid dajjal [Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka, penyimpangan ketika hidup dan mati, dan kejelekan Al Masih Ad Dajjal].” (HR. Muslim)
 

Selasa, 23 Oktober 2012

Inikah Negeri Zamrud Khatulistiwa Itu ...

Inikah Zamrud Khatulistiwa ?

Negeri yang katanya Gema ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja itu kini merana .... tengoklah..... betapa jutaan saudara-saudara kita kehilangan pekerjaannya disamping yang lain terjerumus ke dalam jurang kemiskinan yang lebih dalam. Sementara yang masih bekerja dibayang-bayangi ketakutan habis kontraknya dan tidak diperpanjang lagi. Ketika ratusan orang bersenda gurau dengan trilyunan uang rakyat, sementara itu ratusan juta saudara kita yang lain tengah mengurut dada karena sulitnya mencari rupiah. Bayangan akan datangnya kemakmuran selepas era reformasi ternyata tak kunjung terpenuhi. Pemerintahan yang katanya kredibel sehingga diharapkan mampu meningkatkan taraf perekonomian rakyat ternyata hanya ilusi. Para anggota Dewan (pake De) menari kegirangan sambil menebar pesona dengan janji akan mengawal reformasi hingga terpenuhi kemakmuran yang merata juga tak kunjung nyata keberadaannya. Akhirnya kucoba mereka-reka Apa yang sesungguhnya terjadi pada negeri ini ?.

Jangan-jangan langit kelabu yang menimpa kita tahun-tahun ini terjadi karena seluruh bangsa ini sudah menjadi keluarga besar Fir’aun. Jangan-jangan para pemegang kekuasaan diantara kita sudah menjadi Fir’aun-Fir’aun kecil, yang menggunakan kekuasaan untuk memeras yang lemah, menindas yang rendah dan merampas hak orang yang tak berdaya.

Jangan-jangan orang-orang berduit kita sudah menjadi Qarun, yang rakus mengumpulkan dunia dengan tidak peduli halal dan haram. Demi uang kita tak ragu menghantam, memfitnah, menyakiti, bahkan membunuh sesama saudara kita. Kita sudah menjadi binatang-binatang buas. 

Zamrud khatulistiwa sudah kita ubah menjadi rimba raya yang menakutkan. Jangan-jangan para cerdik pandai kita sudah menjadi Haman, yang mempersembahkan kecerdasannya untuk mengabdi kepada kezaliman. Kecerdikan kita gunakan untuk meliciki orang banyak. Kepintaran kita manfaatkan untuk mem-minter-i orang-orang bodoh.

Jangan-jangan ulama’ kita sudah menjadi Bal’am bin Ba’ura. Kita jual ayat-ayat untuk memenuhi hawa nafsu kita. Kita mengemas ambisi dunia dengan ritus-ritus kesalihan. Kita ayunkan langkah kita ke istana para penguasa dengan menundukkan kepala dihadapan mereka seraya menggumamkan ayat-ayat Allah untuk membenarkan kedzaliman mereka.

Jangan-jangan kita semua sudah tidak peduli lagi dengan perintah-perintah Tuhan. Kita semua sudah menjadi budak-budak dunia. Di masjid kita besarkan asma Allah, di luar masjid kita menyepelehkan Dia. Tangan-tangan yang kita angkat dalam doa-doa kita adalah juga tangan-tangan yang bergelimang dosa. Lidah-lidah yang kita getarkan untuk menyebut asma Allah yang suci adalah juga lidah-lidah yang berlumuran kata-kata kotor dan kemunafikan. Kepala yang kita rebahkan dalam sujud adalah juga kepala yang kita dongakkan dengan sombong dihadapan hamba-hamba Allah lainnya.
Lalu,...... Wallahu A’lam

Nurut Manut Marang Gusti Allah

Al-Imam Ibnu 'Atho'illah As-Sakandari berkata di dalam kitabnya Al-Hikam 

"Janganlah engkau meminta kepada Allah agar dipindahkan dari keadaan Anda sekarang ini, karena bisa jadi dari keadaan sekarang di situlah pintu kita untuk menuju surgaNya" 

Penulis:
Jadi jangan kita minta dipindahkan dari keadaan sekarang ini kepada keadaan yang kita inginkan", karena apa yang kita inginkan tersebut sama d
engan turut campur dengan pengaturan Allah Azza wa Jalla sehingga kita dianggap tidak beradab (tidak sopan) dihadapan Allah Azza wa Jalla.

Berikut kutipan syarah selengkapnya

****** awal kutipan *****
Firman Allah ta'ala yang artinya

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (QS Adz Dzariyat : 56)

Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu (QS al Hijr 99)

Ibadah adalah bentuk lahir pengabdian dan penghambaan adalah ruhnya.

Apabila kau telah memahami hal ini, ketahuilah bahwa ruh dan hakikat penghambaan adalah tidak ikut mengatur dan tidak menentang takdir Tuhan.

Jadi jelas, penghambaan adalah tidak ikut mengatur dan memilih bersama rububiyahNya. Penghambaan sebagai kedudukan yang paling mulia hanya bisa dicapai dengan sikap tidak ikut mengatur.

Jadi seorang hamba semestinya berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan terus berusaha mencapai tingkatan yang paling sempurna dan paling mulia.

Orang yang ikut mengatur bersama Allah adalah seperti anak yang pergi bersama ayahnya. Keduanya berjalan di malam hari.
Karena menyayangi anaknya, sang ayah senantiasa mengawasi dan memperhatikannya tanpa diketahui sang anak.
Anak itu tidak bisa melihat ayahnya karena malam yang teramat gelap. Ia meresahkan keadaan dirinya dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.
Ketika cahaya bulan menyinari dan ia melihat ayahnya dekat kepadanya, keresahannya sirna. Ia tahu ayahnya begitu dekat dengannya. Kini ia merasa tidak perlu ikut mengurus dirinya karena segala sesuatu telah diperhatikan oleh ayahnya.

Seperti itulah orang mengatur untuk dirinya. Ia melakukannya karena berada dalam kegelapan – terputus dari Allah. Ia tidak merasakan kedekatan Allah. Andaikata bulan tauhid atau mentari makrifat menyinarinya, tentu ia melihat Tuhan begitu dekat, sehingga ia malu untuk mengatur dirinya dan merasa cukup dengan pengaturan Allah.

Perumpamaan orang yang mengatur bersama Allah Subhanahu wa ta'ala dan orang yang tidak ikut mengatur adalah seperti dua budak milik seorang majikan.

Budak yang satu sibuk dengan perintah majikan serta tidak memikirkan masalah pakaian dan makanan. Seluruh perhatiannya terpusat pada upaya untuk mengabdi kepada majikannya sehingga lupa memerhatikan kepentingan dirinya.
Sebaliknya, budak yang kedua, selalu memerhatikan kebutuhan dirinya. Setiap kali sang majikan mencarinya, ia sedang mencuci baju, memperbaiki keretanya dan menghias pakaiannya.
Tentu saja budak yang pertama lebih layak mendapat perhatian sang majikan daripada budak kedua yang sibuk dengan kepentingan dirinya dan melupakan kewajibannya. Seorang budak dibeli untuk mengabdi kepada majikan, bukan untuk memuaskan kepentingan dirinya sendiri.

Orang yang ikut mengatur untuk dirinya adalah seperti orang yang menjual sebuah rumah. Setelah akad jual beli, si penjual mendatangi si pembeli dan berkata “jangan membangun apa pun di dalamnya”. Tentu saja si pembeli menegurnya, “Kamu telah menjualnya, dan kini kamu tak punya hak melakukan apapun atasnya, Setelah akad, kamu tidak boleh ikut campur.”

Sesungguhnya Allah ta'ala membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS At Taubah 111)

Orang beriman harus menyerahkan dirinya kepada Allah beserta segala sesuatu yang terkait dengan dirinya. Sebab, Allah lah yang menciptakannya dan Dia pula yang membelinya. Salah satu keniscayaan dari sikap berserah diri adalah tidak ikut mengatur atas apa yang telah kauserahkan.

Sungguh setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan.

Ketahuilah, musuh sejatimu, yaitu setan, akan senantiasa mengganggumu ketika kau berada dalam keadaan yang Allah tetapkan untukmu. Kemudian setan membisikkan buruknya keadaan itu sehingga kau menghendaki keadaan lain diluar yang telah ditetapkan Allah. Akibatnya, kau selalu gelisah dan hatimu keruh.

Setan akan mendatangi orang bekerja dan mengatakan kepadanya, “Jika kau meninggalkan pekerjaanmu dan khusyuk beribadah, tentu kau akan mendapatkan cahaya dan kebeningan hati. Itulah yang dialami si fulan dan si fulan”
Sementara Allah tidak meneetapkannya sebagai abid yang melulu beribadah. Ia tak mampu melakukannya.
Kebaikannya hanya ada dalam kerja. Jika ia mengikuti bisikan setan dan meninggalkan pekerjaannya, imanya akan goyah dan keyakinannya akan runtuh.

Pada orang yang melulu beribadah, setan mebisikan hasutan yang berbeda, ”Sampai kapan kau enggan bekerja? Jika kau tidak bekerja, kau akan mengharapkan milik orang lain dan hatimu diliputi ketamakan. Tanpa kerja, kau tidak akan bisa membantu dan meendahulukan kepentinganorang lain serta tidak akan mampu menunaikan kewajibanmu. Keluarlah dari keadaanmu yang selalu menunggu pemberian makhluk. Jika kau bekerja, orang lainlah yang akan menunggu pemberianmu.” Begitulah setan membisikan godaannya.

Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. (QS Qashash : 68)
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3).

Tujuan setan adalah agar manusia tidak rida atas keadaan yang Allah tetapkan untuknya. Ia berusaha mengeluarkan mereka dari pilihan Allah menuju pilihan mereka sendiri.

Ketahuilah, ketika Allah memasukkanmu ke dalam suatu keadaan, Dia pasti akan selalu membantumu. Namun, jika kau masuk ke dalamnya dengan kemauan sendiri, Dia akan membiarkanmu.

Allah berfirman, “Katakan, “Wahai Tuhan, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar, serta berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong (QS Al-Isra : 80)

Sesungguhnya engkau tidak mengetahui akhir dan akibat dari setiap urusan. Mungkin kau bisa mengatur dan merancang sebuah urusan yang baik menurutmu. Tetapi ternyata urusan itu berakibat buruk bagimu. Mungkin ada keuntungan di balik kesulitan dan sebaliknya, banyak kesulitan di balik keuntungan. Bisa jadi bahaya datang dari kemudahan dan kemudahan datang dari bahaya.

Mungkin saja anugerah tersimpan dalam ujian dan cobaan tersembunyi dibalik anugerah. Dan bisa jadi kau mendapatkan manfaat lewat tangan musuh dan binasa lewat orang yang kau cintai. Orang yang berakal tidak akan ikut mengatur bersama Allah karena ia tidak mengetahui mana yang berguna dan mana yang berbahaya bagi dirinya.

Syekh Abu Al Hasan rahimahullah berkata,
“Ya Allah, aku tidak berdaya menolak bahaya dari diri kami meskipun datang dari arah yang kami ketahui dan dengan cara yang kami ketahui. Lalu, bagaimana kami mampu menolak bahaya yang datang dari arah dan cara yang kami tidak ketahui?”

Cukuplah untukmu firman Allah, “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik untuk kalian. Bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal ia buruk untuk kalian. Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.” (QS al Baqarah : 216)

Seringkali kau menginginkan sesuatu, namun Tuhan memalingkannya darimu. Akibatnya, kau merasa sedih dan terus menginginkannya. Namun, ketika akhir dan akibat dari apa yang kau hasratkan itu tersingkap, barulah kau menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala melihatmu dengan pandangan yang baik dari arah yang tidak kau ketahui, dan memilihkan untukmu dari arah yang tidak kau ketahui. Sungguh buruk seorang hamba yang tidak paham dan tidak pasrah kepadaNya.

Engkau adalah hamba yang selalu Dia pelihara. Seorang hamba tidak boleh ragu kepada majikannya. Apalagi sang majikan selalu memberi dan tidak pernah mengabaikan.

Inti ibadah adalah percaya kepada Allah dan pasrah kepadaNya. Sikap itu berlawanan dengan hasrat ikut mengatur dan memilih bersama Allah. Seorang hamba harus mengabdi kepadaNya, dan Dia akan memberikan karunia untuknya.

Pahamilah firmanNya, “Perintahkan keluargamu untuk shalat dan bersabarlah atasnya. Kami tidak meminta rezeki. Kamilah yang memberimu rezeki.” ”[QS Thaha : 132]

Artinya, mengabdilah kepada Kami, tentu Kami akan memberikan bagian padamu. Ayat itu mengandung dua hal, sesuatu yang Allah jamin untukmu sehingga kau tidak perlu mencarinya dan sesuatu yang diminta darimu sehingga tidak boleh kamu abaikan.
Kami tidak memintamu untuk memberi rezeki kepada diri dan keluargamu.
Bagaimana mungkin Kami memintamu melakukan hal semacam itu ?!
Bagaimana mungkin Kami membebani kewajiban untuk memberi rezeki kepada dirimu, sementara kau tidak akan mampu melakukannya ?
Terpujikah Kami jika memerintahkanmu mengabdi, sementara kami tidak memberikan bagian untukmu?
Orang yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang telah dijamin oleh Allah sehingga lalai dari apa yang diminta, berarti sangat bodoh dan lalai. Semestinya setiap hamba menyibukkan diri dengan apa yang dituntut darinya tanpa memikirkan apa yang telah dijamin untuknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rezeki kepada kaum yang membangkang, jadi bagaimana mungkin Dia tidak memberi kepada kaum yang taat ?
Apabila Dia telah mengalirkan rezekiNya kepada orang kafir, bagaimana mungkin Dia menahannya untuk orang yang beriman ?

Kau telah mengetahui bahwa dunia telah dijamin untukmu, sedang akhirat diminta darimu.
Kau memiliki akal dan mata hati, jadi kenapa kau arahkan perhatianmu kepada sesuatu yang telah dijamin untukmu sehingga kau melalaikan kewajibanmu ?

Perumpamaan orang yang sibuk bekerja dan orang yang sibuk beribadah adalah seperti dua budak satu tuan.
Sang tuan berkata kepada salah seorang dari mereka, “Bekerjalah, dan makanlah dari hasil usahamu.”
Kemudian kepada budak satunya ia berkata, “Tetaplah bersamaku dan melayaniku. Akan kuberikan kepadamu semua kebutuhanmu”.
“Siapa yang bersandar kepada Allah, berarti ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus” (QS Al Imran : 101 )
“Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya” (QS Al Thalaq : 3)

Ketahuilah, sikap tawakal kepada Allah dalam urusan rezeki tidak bertentangan dengan usaha manusia

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Karena itu, bertakwalah kepada Allah, dan mintalah (atau carilah) rezeki dengan cara yang baik.”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, membolehkan kita berusaha mencari rezeki. Seandainya usaha atau bekerja bertentangan dengan tawakal, tentu Rasulullah akan melarangnya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengatakan, “Jangan mencari rezeki,” namun, “Carilah rezeki dengan cara yang baik.”
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam membolehkan kita mencari rezeki, karena itu merupakan bagian dari usaha. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda “ Makanan yang paling halal dimakan seseorang adalah yang merupakan hasil usahanya sendiri”

Ketahuilah ada beberapa perwujudan dari sikap mencari rezeki dengan baik. Berikut beberapa cara sebagaimana yang Allah sampaikan melalui karunia Nya.

Cara mencari rezeki yang baik adalah yang tidak melalaikanmu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

Cara mencari rezeki yang baik adalah mencarinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa menetapkan batasan, sebab, dan waktunya sehingga Dia akan memberikan kepadanya apa yang Dia kehendaki, dan diwaktu yang Dia kehendaki. Itulah etika meminta rezeki. Orang yang mencari rezeki seraya menetapkan kadar, sebab dan waktunya berarti telah mengatur Tuhannya, dan sikap itu menunjukkan kelalaian hatinya.

Cara meminta rezeki yang baik adalah memintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jangan jadikan apa yang kau inginkan sebagai tujuan doamu. Permintaanmu itu sesungguhnya hanyalah sarana untuk bermunajat kepada Nya.

Cara mencari rezeki yang baik adalah dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa jatahmu telah ditetapkan dan akan mendatangimu, bukan permintaan dan usahamu yang mengantarkanmu kepadanya

Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta kepada Allah sesuatu yang bisa mencukupimu bukan yang melenakanmu. Jangan menghendaki sesuatu secara berlebihan. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam , mengajarkan doa yang baik “ Ya Allah, jadikanlah makanan keluarga Muhammad sekedar bisa mencukupi’.

Cara meminta rezeki yang baik bisa dengan cara meminta bagian dunianya. Allah berfirman “dan, diantara mereka ada yang berdoa, Ya Tuhan kami , berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab neraka” (QS Al Baqarah : 201)

Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta tanpa meragukan jatah yang diberikan Allah, serta tetap menjaga diri dari segala sesuatu yang dilarang.

Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta tanpa menuntut untuk segera dikabulkan.

Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta dan bersyukur kepada Allah jika diberi dan menyadari pilihan terbaik Nya jika tidak diberi.

Cara meminta rezeki dengan baik adalah meminta kepada – Nya agar kau berpegang pada pembagian-Nya yang telah ditetapkan, tidak kepada permintaanmu.

Ya Allah, Engkau telah menetapkan untuk kami bagian yang Engkau sampaikan kepada kami. Maka sampaikanlah kami kepadanya dengan mudah dan tanpa kepenatan, terjaga dari keterhijaban, diliputi cahaya hubungan dengan-Mu, yang kami saksikan dari-Mu sehingga kami termasuk golongan yang bersyukur dan menyandarkan bagian kami itu kepada-Mu, bukan kepada salah satu mahluk-Mu