Jumat, 09 Oktober 2015

Uang is money

Namaku : UANG atau MONEY ��(suka di panggil DUIT��)
Wajahku biasa saja, fisikku juga lemah, namun aku mampu merombak tatanan dunia��.
Aku juga "bisa" merubah Perilaku, bahkan sifat Manusia' karena manusia mengidolakan aku.
Banyak orang merubah kepribadiannya,mengkhianati teman, menjual tubuh, bahkan meninggalkan keyakinan imannya, demi aku❗
Aku tdk mengerti perbedaan orang saleh & bejat, tapi manusia memakai aku menjadi patokan derajat, menentukan kaya miskin & terhormat atau terhina.
Aku bukan iblis, tapi sering orang melakukan kekejian demi aku.
Aku juga bukan org ketiga, tapi banyak suami istri pisah gara2 aku, kakak dan adik beradu dan saling benci karena aku.
Anak dan orangtua berselisih gara2 aku.
Sangat jelas juga aku bukan Tuhan, tapi manusia menyembah aku spt Tuhan, bahkan kerap kali hamba2 Tuhan lebih menghormati aku, padahal Tuhan sudah pesan jgn jadi hamba uang..
Seharusnya aku melayani manusia, tapi kenapa malah manusia mau jadi budakku❓
Aku tdk pernah mengorbankan diriku untuk siapa pun, tapi banyak orang rela mati demi aku.
Perlu aku ingatkan, aku hanya bisa menjadi alat bayar resep obat anda, tapi tdk mampu memperpanjang hidup anda.
Kalau suatu hari anda dipanggil Tuhan, aku tdk akan bisa menemani anda, apalagi menjadi penebus dosa2 anda, anda harus menghadap sendiri kpd sang Pencipta lalu menerima penghakimanNYA.
Saat itu, Tuhan pasti akan hitung2an dgn anda, APAKAH SELAMA HIDUP ANDA MENGGUNAKAN aku dengan baik, atau sebaliknya MENJADIKAN aku sebagai TUHAN❓
Ini informasi terakhirku: Aku TIDAK ADA DI SURGA,
Jadi jangan cari aku disana.  #⃣

Selasa, 06 Oktober 2015

Perusak rumah tangga

Berawal dari komunikasi sederhana, dilanjut dengan saling curhat, hingga tertanam cinta karena syahwat. Lebih parah lagi, ketika kejadian itu dialami oleh mereka yang telah berkeluarga. Karena interaksi lawan jenis yang tidak halal, Allah mencabut rasa cintanya terhadap keluarganya, digantikan dengan kehadiran orang baru dalam hatinya. Disadari maupun tidak, sejatinya itu merupakan hukuman bagi orang yang telah bisa menikmati segala yang haram, Allah hilangkan dari dirinya untuk bisa menikmati sesuatu yang halal.
.
Dosa Takhbib
.
Di antara dosa besar yang mungkin jarang diketahui oleh kaum muslimin adalah dosa takhbib. Menjadi penyebab perceraian dan kerusakan rumah tangga. Karena kehadirannya, membuat seorang perempuan menjadi benci terhadap suaminya dan meminta untuk berpisah dari suaminya.
.
Baginda Nabi saw dalam banyak hadits memberikan ancaman keras untuk pelanggaran semacam ini. Di antaranya dari Abu Hurairah ra, Baginda Nabi saw bersabda, ”Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan takhbib terhadap seorang perempuan, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud)
.
Juga dari Abu Hurairah ra, Baginda Nabi saw bersabda, ”Siapa yang merusak hubungan seorang perempuan dengan suaminya maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Ahmad).
.
Dalam penjelasannya tentang bahaya cinta buta, Ibnul Qoyim menjelaskan tentang dosa takhbib, “Baginda Nabi saw telah melaknat orang yang melakukan takhbib, dan beliau berlepas diri dari pelakunya. Takhbib termasuk salah satu dosa besar. Karena ketika Nabi saw melarang seseorang untuk meminang perempuan yang telah dilamar oleh lelaki lain, dan melarang seseorang menawar barang yang sedang ditawar orang lain, maka bagaimana lagi dengan orang yang berusaha memisahkan antara seorang suami dengan isterinya, sehingga dia bisa menjalin hubungan dengannya.” (al-Jawab al-Kafi, hlm. 154).
.
Makna Takhbib
.
Dalam Syarah Sunan Abu Daud Adzim Abadi (w. 1329 H) dijelaskan, takhbib secara bahasa artinya menipu dan merusak. Dengan menyebut-nyebut kejelekan seorang suami di hadapan isterinya atau kebaikan lelaki lain di depan perempuan itu. (Aunul Ma’bud, 6/159).

Di bagian lain, beliau juga menyebutkan, “ ‘Siapa yang melakukan takhbib terhadap isteri seseorang’ maknanya adalah siapa yang menipu perempuan itu, merusak keluarganya atau memotivasinya agar cerai dari suaminya, agar dia bisa menikah dengannya atau menikah dengan lelaki lain atau cara yang lainnya.“(Aunul Ma’bud, 14/52).
.
Ad-Dzahabi mendefinisikan takhbib, ”Merusak hati perempuan terhadap suaminya.” (al-Kabair, hal. 209).
.
Dalam Fatwa Islam, usaha memisahkan perempuan dari suaminya, tidak hanya dalam bentuk memotivasi si perempuan untuk menuntut cerai dari suaminya. Yang juga termasuk takhbib adalah ketika seseorang memberikan perhatian, empati, menjadi teman curhat terhadap perempuan yang sedang ada masalah dengan keluarganya.
”Merusak hubungan isteri dengan suaminya, tidak hanya dalam bentuk memotivasi dia untuk menggugat cerai. Bahkan semata upaya memberikan empati, belas kasihan, berbagi rasa, dan segala sebab yang membuat si perempuan menjadi jatuh cinta kepadamu, merupakan bentuk merusak (keluarga) yang serius, dan usaha paling licik yang mungkin bisa dilakukan seseorang.” (Fatwa Islam)
.
Memahami hal ini, berhati-hatilah dalam bergaul dengan lawan jenis siapapun dia. Bisa jadi pada awalnya seseorang memiliki niat baik, niat saling menolong, niat merasa kasihan, perlu ada teman untuk berbagi rasa. “Kan gak ada masalah kalo cuma jadi teman curhat, yang penting gak ada perasaan apa-apa”atau “Kita kan niatnya baik, saling mengingatkan dan menasehati” atau “Saya merasa dekat dengan Allah semenjak kenal dia, kita saling mengingatkan untuk tahajud, untuk puasa sunah, saya menjadi rajin ibadah karena nasehatnya" atau "Hatiku merasa nyaman dan tentram bersamanya, semoga dia menjadi pasanganku di surga…,” dan seabreg khayalan kasmaran lainnya.
.
Ibnul Jauzi menukil nasehat dari Al-Hasan bin Sholeh yang mengatakan, “Sesungguhnya setan membukan 99 pintu kebaikan untuk menjerumuskan orang ke dalam satu pintu keburukan.” (Talbis Iblis, hlm. 51).
.
Waspada bagi para lelaki, jangan sampai menerima curhat perempuan tentang keluarganya. Bisa jadi ini langkah pembuka Iblis untuk semakin menjerumuskan Anda. Terkecuali jika Anda seorang ulama, tokoh agama, yang berhak memberikan fatwa dengan ilmunya. Anda bisa menjelaskan status hukum halal-haram dari suatu masalah.
.
Semoga Allah menyelamatkan saya, Anda, dan kita semua dari bahaya besar lingkungan yang kurang memperhatikan adab pergaulan. Amin.
.
Semoga manfaat
.
(Sumber : Dr. Yai Asimun Mas’ud, MKub, Dosen Akhlaq Universitas Menyan Indonesia, Jakarta)