Selasa, 25 Mei 2021

Antara al 'Afwu dan al Maghfirah (Maaf dan Ampunan)

Secara bahasa Al-‘Afwu (maaf) artinya keinginan mendapatkan sesuatu. Jika kata ini dinisbatkan kepada Allah, maka artinya Allah memperhatikan hamba-Nya lalu mengambil dosanya.

Dengan makna ini maka jelaslah kaitan makna “Maghfirah” (pengampunan): menutupi. 

Juga kaitannya dengan makna “Al-‘Afwu”, yakni mengambil lalu menutupi. Makna inilah yang nampak dalam firman Allah swt:

وَاعْف عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا

“Maafkan kami dan ampuni kami.” (Al-Baqarah: 286). Yakni, ambillah dosa kami dan tutupi dosa kami.

Dengan makna ini juga menjadi jelas, walaupun nampak berbeda makna keduanya secara konsep, bahwa keduanya memiliki makna yang sama secara mishdaq (asal kalimat) dari sisi Allah dan dari sisi hamba-Nya. Seperti yang dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya;

إِلا أَن يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَا الَّذِى بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكاح

“Kecuali jika isteri-isterimu itu mema’afkan atau dima’afkan oleh orang yang memegang ikatan nikah.” (Al-Baqarah: 237)

قُل لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذِينَ لا يَرْجُونَ أَيَّامَ اللَّهِ لِيَجْزِى قَوْمَا بِمَا كانُوا يَكْسِبُونَ

“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-Jatsiyah: 14)

فَاعْف عَنهُمْ وَ استَغْفِرْ لَهُمْ وَ شاوِرْهُمْ فى الأَمْرِ

“Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkan ampunan untuk mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali-Imran: 159)

Kemudian Rasulullah saw memerintahkan agar memaafkan mereka sehingga hilanglah bekas-bekas dosanya, dan selamatlah dari siksaan; beliau juga memerintahkan agar memohon ampunan Allah untuk mereka agar Allah mengampuni dosanya.

Selain makna itu Al-‘afwu dan maghfirah memiliki makna yang berkaitan sekaligus antara dosa takwini dan dosa tasyri’i, dosa duniawi dan dosa ukhrawi, seperti yang dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya:

وَمَا أَصبَكم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسبَت أَيْدِيكمْ وَ يَعْفُوا عَن كَثِيرٍ

“Tidak ada satu pu musibah yang menimpa kamu kecuali disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)

وَالْمَلَئكَةُ يُسبِّحُونَ بحَمْدِ رَبهِمْ وَ يَستَغْفِرُونَ لِمَن فى الأَرْضِ

“Para malaikat bertasbih dengan memuji Tuhannya dan memohonkan ampunan bagi orang-orang yang ada di bumi.” (Asy-Syura: 5)

رَبَّنَا ظلَمْنَا أَنفُسنَا وَ إِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَ تَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَسرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 23). Kezaliman nabi Adam (as) dan isterinya, maksudnya adalah mereka melanggar larangan Allah yang bersifat bimbingan bukan yang bersifat tasyri’i.

Banyak ayat Al-Qur’an yang menunjukan bahwa orang-orang yang dekat dengan Allah dan memperoleh nikmat surga karena sebelumnya dosa-dosanya diampuni oleh Allah, noda-noda kemusyrikannya dilangkan, dan bertaubat kepada-Nya dengan taubat nashuha. Allah swt berfirman:

كلا بَلْ رَانَ عَلى قُلُوبهِم مَّا كانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14)

مَا أَصاب مِن مُّصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (At-Taghabun: 11)

Kesimpulannya, Allah menyatakan bahwa keimanan dan kampung akhirat sebagai kehidupan, pengaruh-pengaruh keimanan dan perbutan-perbuatan ahli akhirat serta perjalanan hidup mereka sebagai cahaya. Ini dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya:

أَ وَمَن كانَ مَيْتاً فَأَحْيَيْنَهُ وَ جَعَلْنَا لَهُ نُوراً يَمْشى بِهِ فى النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فى الظلُمَتِ لَيْس بخَارِجٍ مِّنهَا

“Apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.” (Al-An’am: 122)

وَ إِنَّ الدَّارَ الاَخِرَةَ لَهِىَ الْحَيَوَانُ

“Sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan.”(Al-‘Ankabut: 64)

أَوْ كَظلُمَتٍ فى بحْرٍ لُّجِّىّ‏ٍ يَغْشاهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ سحَابٌ ظلُمَت بَعْضهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَن لَّمْ يجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُوراً فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”(An-Nur: 40)

Dengan kandungan makna ayat-ayat tersebut, maka “maghfirah” bermakna menghilangkan kematian dan kegelapan dengan kehidupan yaitu keimanan dan cahaya sebagai rahmat Allah swt.

Orang kafir tidak mempunyai kehidupan dan cahaya, orang mukmin yang diampuni dosanya memiliki kehidupan dan cahaya. Adapun seorang mukmin masih memiliki keburukan, ia memiliki kehidupan tapi cahayanya tidak sempurna. Untuk menyempurnakan cahanya tidak ada cara lain kecuali dengan maghfirah. Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah swt:

نُورُهُمْ يَسعَى بَينَ أَيْدِيهِمْ وَ بِأَيْمَنهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَ اغْفِرْ لَنَا

“Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami.” (At-Tahrim: 8)

Dari penjelasan-penjelasan tersebut jelaslah bahwa ekstensi (mishdaq) “Al-‘Afwu” dan “Al-Maghfirah” jika dinisbatkan kepada Allah swt dalam perkara-perkara takwiniyah bermakna menghilangkan penghalang dengan keinginan terhadap suatu penyebab yang dapat menghilangkannya. Adapun dalam perkara-perara tasyri’iyah bermakna menghilangkan penyebab yang menghalangi datangnya rahmat dan kasih sayang Allah swt. Dalam hal kebahagiaan dan kesengsaraan bermakna menghilangkan penghalang datangnya kebahagiaan.

Disarikan dari tafsir Al-Mizan, Allamah Thabathaba’I, jilid 4: 54-55)

Wallahu a'lam. 

Senin, 24 Mei 2021

HARUS IRI PADA DUA GOLONGAN INI

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ

“Tidak ada sifat hasud / iri yang terpuji kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur-an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur-an)nya dan berkata: “Duhai kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur-an) seperti yang diberikan kepada dia, sehingga aku bisa mengamalkan seperti (membaca al-Qur-an) seperti yang diamalkannya. Dan seorang yang dilimpahkan oleh Allah baginya harta (yang berlimpah) kemudian dia membelanjakannya di jalan yang benar, lalu ada orang lain yang berkata: “Duhai kiranya aku diberi (kelebihan harta) seperti yang diberikan kepadanya, sehingga aku bisa mengamalkan (bersedekah di jalan Allah) seperti yang diamalkannya” 
(HR. Al-Bukhari).

Maksud “iri/ hasud” dalam hadits ini adalah iri yang benar dan tidak tercela, atau biasa disebut al-gibthah yang artinya menginginkan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain tanpa mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang tersebut. 
“Siyaru alaamin nubalaa’” (juz 8 hlm. 437)

Coba perhatikan dan renungkan hadits ini dengan seksama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dua golongan manusia yang pantas untuk dicemburui (diiri) yaitu orang yang memahami al-Qur’an dan mengamalkannya serta orang yang memiliki banyak harta dan menginfakkannya di jalan Allah.

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan sebab yang menjadikan mereka pantas untuk diiri, bukan karena kelebihan dunia semata yang mereka miliki, tapi karena mereka mampu untuk menundukkan hawa nafsu yang mencintai dunia secara berlebihan, sehingga harta yang mereka miliki tidak menghalangi mereka untuk meraih keutamaan tinggi di sisi Allah.

Inilah kelebihan sejati yang pantas diiri, adapun kelebihan harta atau kedudukan duniawi semata maka ini sangat tidak pantas untuk diiri, karena ini hakikatnya bukan merupakan kelebihan tapi musibah dan fitnah bagi manusia, sebagaimana sabda Rasulullah s shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah yang merusak/menyesatkan mereka, dan fitnah terbesar pada umatku adalah harta”
HR at-Tirmidzi (no. 2336) dan Musnad Imam Ahmad juz 4 hlm.160)

*Oleh karena itu, cemburu dan iri hanya karena kelebihan harta yang dimiliki seseorang tanpa melihat bagaimana penggunaan harta tersebut, ini adalah sifat yang sangat sangat tercela.* 
Allah berfirman tentang orang-orang yang iri melihat harta kekayaan Qarun:

{فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ. وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ. فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ. وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ}

“Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan perhiasannya (harta bendanya). Orang-orang yang hanya menginginkan kehidupan dunia berkata: “Duhai kiranya kami mempunyai harta kekayaan seperti yang diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar memiliki keberuntungan yang besar." 
Tetapi orang-orang yang dianugerahi oleh Allah ilmu berkata: “Celakalah kalian! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar". 

Maka kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang (mampu) menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri. Dan jadilah orang-orang yang kemarin mengangan-angankan kedudkan (harta benda) Qarun itu berkata: “Duhai, benarlah kiranya Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya). Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Benarlah bahwa tidak akan beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)” 
(QS. Al Qashash: 79-92)

Adapun contoh sikap iri yang benar adalah sikap iri dalam kebaikan yang ditunjukkan oleh orang-orang yang sempurna iman mereka, para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dia berkata: Orang-orang miskin (dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah datang menemui beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, orang-orang kaya yang memiliki harta yang berlimpah bisa mendapatkan pahala (dari harta mereka), kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala dan kenikmatan yang abadi di surga, karena mereka melaksanakan shalat seperti kami melaksanakan shalat dan mereka juga berpuasa seperti kami berpuasa, tapi mereka memiliki kelebihan harta yang mereka gunakan untuk menunaikan ibadah haji, umrah, jihad dan sedekah, sedangkan kami tidak memiliki harta…”. 
Dalam riwayat Imam Muslim, di akhir hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah kerunia  Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya“
HR al-Bukhari (no. 807 dan 5970) dan Muslim (no. 595).

Imam Ibnu Hajar berkata: “Dalam hadits ini (terdapat dalil yang menunjukkan) lebih utamanya orang kaya yang menunaikan hak-hak Allah Ta’ala pada harta kekayaannya dibandingkan orang miskin. Karena berinfak di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits di atas) hanya bisa dilakukan oleh orang orang kaya”
“Fathul Baari” (juz 3 hlm. 298)

Kesimpulannya, termasuk orang yang pantas dicemburui, diiri bahkan kecemburuan tersebut dipuji dalam Islam adalah orang yang memiliki kelebihan dalam harta tapi dia selalu menginfakkan hartanya di jalan Allah. Karena kecemburuan ini dapat menjadi motivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan yang diperintahkan dalam agama. Allah berfirman:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan” (QS al-Baqarah: 148).

Jadi cemburu dan iri kepada kelebihan harta yang dimiliki seseorang bukan karena kelebihan harta yang dimilikinya semata-mata, akan tetapi karena motivasi kebaikan besar yang dimilikinya dengan banyak membelanjakan hartanya di jalan Allah. Inilah sebaik-baik harta yang dimiliki oleh orang yang beriman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: 
نعم المال الصالح للرجل الصالح
“Sebaik-baik harta adalah harta yang shaleh (halal dan banyak) yang dimiliki oleh hamba yang shaleh”.
HR. Ahmad: 17134, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya: 22627 (7/18)

*Adapun sifat rakus dan ambisi berlebihan terhadap harta tanpa mempertimbangkan keberkahan dan manfaatnya dalam meraih keridhaan Allah maka ini perbuatan tercela dan sebab yang akan merusak keimanan seorang hamba, serta menjadikannya jauh dari segala kebaikan dunia dan akhirat.*

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)”
HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680)

Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaatan kepada-Nya.