Senin, 24 November 2014

Mau Poligami, Pahami dulu praktik poligami Nabi

Untuk dapat memahami poligami Nabi secara benar, terlebih dahulu harus mengerti aspek historis dari ajaran Islam. Khususnya mengerti dan menghayati sejarah perjalanan hidup pribadi Nabi Muhammad Saw. Diketahui secara luas bahwa jauh sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah yang terakhir, figur Nabi Muhammad telah dikenal luas di kalangan masyarakat Arab sebagai orang yang paling alim dan paling jujur sehingga beliau digelari dengan sebutan al-amin.

Nabi menikah pertama kali dengan Khadijah binti Khuwailid bin Asad ketika beliau berumur 25 tahun. Pada waktu itu, Khadijah adalah seorang janda yang telah berumur 40 tahun. Selama 25 tahun mereka hidup bersama, yaitu 15 tahun sebelum diangkat menjadi Nabi dan 10 tahun setelah diangkatmenjadi Nabi. Kemudian Khadijah meninggal dunia 3 tahun sebelum hijrah.[1]

Setelah kepergian Khadijah, sekitar 3 tahun, Rasulullah tidak menikah lagi. Kemudian Rasulullah menikahi Saudah binti Zam’ah, yang ditinggal mati suaminya yaitu Sakran ibn Amr. Sakran dan Saudah adalah sahabat Rasul yang ikut hijrah keMadinah. Beliau kasihan karena Saudah hidup sebatangkara dan dikucilkan keluarganya yang kafir, akibat ia masuk Islam.

Beberapa bulan kemudian Rasulullah menikahi Aisyah binti Abu Bakar yang merupakan satu-satunya istri Rasul yang bukan seorang janda. Pada waktu inilah Rasulullah baru memadu istrinya setelah berumur 53 tahun, artinya beliau berpoligami setelah berusia tua. Padahal nafsu laki-laki akan menurun pada umur empat puluhan dan hal itu telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah.

Waktu yang dihabiskan Rasulullah untuk beristeri satu adalah masa ketenangan dan kemantapan beliau. Adapun masa singkat yang tidak lebih dari 10 tahun, masa beliau berpoligami adalah masa pergolakan, perjuangan, dan peperangan. Hal ini membuktikan beliau berpoligami bukan karena dorongan syahwat, tetapi untuk kepentingan pelaksanaan syariat dan urusan politik serta kemanusiaan.[2]

Istri keempat Rasulullah yaitu Hafsah binti Umar bin Khattab. Dia adalah seorang janda dari Khanis yang wafat karena luka-luka yang dideritanya pada waktu perang badar. Rasulullah menikahinya karena rasa tanggung jawab dan kecintaan beliau kepada Umar. Dan untuk melindungi serta menghiburnya dari kehilangan suami yang telah syahid di medan perang.[3]

Istri Rasulullah berikutnya adalah Zainab binti Khuzaimah. Zainab adalah seorang janda yang memelihara anak-anak yatim dan orang-orang lemah sehingga rumahnya sebagai tempat penampungan mereka. Oleh sebab itu dia diberi gelar “ibu para fakir miskin”, lalu Rasulullah mengawininya sebagai balas jasa atas amalan kebaikannya. Kurang lebih 8 bulan setelah perkawinannya, Zainab jatuh sakit dan meninggal dunia. Empat bulan setelah Zainab wafat, Nabi Saw menikahi Ummu Salamah[4] yang berusia 29 tahun. Ia adalah janda Abu Salamah sepupu Nabi Saw.[5]

Di antara beberapa istri Nabi yang telah dipaparkan di atas dapat diketahui bahwa semua istri Nabi Saw adalah para janda kecuali Aisyah, satu-satunya perawan yang dinikahi Nabi Saw dalam usia muda. Seluruh perkawinan Nabi Saw mengandung tujuan yang jelas, di antaranya adalah untuk mengobati luka hati atau menghibur mereka karena suami mereka terbunuh. Perkawinan tersebut bertujuan menentramkan hati mereka tanpa tujuan hanya semata-mata untuk memuaskan nafsu.

Jika Rasulullah bertujuan untuk memuaskan nafsu maka tidak akan menikahi para janda yang sudah tua. Bagaimanapun beliau masih muda yang pada dasarnya masih memiliki keinginan kuat untuk memilih gadis-gadis perawan. Beliau pun sangat memahami bahwa perbedaan antara keduanya sangat besar.

[1] Ali Audah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Akar dan Awal, (Jakarta: PT Ightiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm. 81

[2] Musfir Husain Aj-Jahrani, Nazhratun fi Ta’addudi Az-Zaujat, diterjemahkan Muh. Suten Ritonga, Poligami dari Berbagai Persepsi, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm. 93-94

[3] Abu Fikri, Poligami Yang Tak Melukai Hati?, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007), hlm. 46

[4] Urutan penyebutan isteri Nabi dapat dilihat di Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Akar dan Awal, hlm. 130

[5] Badri Yatim, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Akar dan Awal, (Jakarta: PT Ightiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm. 129

*Sumber: http://hakamabbas.blogspot.com/2014/11/praktik-poligami-nabi-muhammad-saw.html

Minggu, 16 November 2014

Amal ibadahmu Wow !!!

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, bahwa tidak ada seorang pun bisa masuk surga, kecuali semata-mata karena rahmat Allah.

Memang benar. Kita sama sekali tidak pantas masuk surga. Saya juga Anda. Kita semua... Mari coba kita urai penilaian Nabi Muhammad SAW tersebut dengan pikiran jernih.

Semisal Anda itu rajin shalat 5 waktu, one day one juz, rutin sedekah satu juta rupiah per bulan, dan pernah naik haji, jangan pernah berpikir Anda sudah layak masuk surga. Serius. Sebab amalan-amalan Anda itu tidak istimewa.

Menjadi tidak istimewa, kalau Anda bertanyanya ke hati nurani. Jangan ke setan di dalam hati Anda. Pasti isinya dipuji-puji, "Hebat! Sudah shaleh! Wah ahli surga ini!" Pasti setan bisikannya adalah pujian. Karena ingin Anda mabuk kepayang. Karena ingin Anda merasa tidak perlu meningkatkan ibadah. Juga karena ingin Anda segera menjadi sombong dan menyombongi orang lain yang tidak rajin ibadah.

Coba pelan-pelan tanya ke hati nurani. Rajin shalat 5 waktu itu tidak istimewa, kalau kita mau memperbandingkannya dengan jumlah dosa sehari. 5 : 2 kah? 5 : 10 kah? Atau jangan-jangan dalam sehari kita berbuat dosa 30 kali (waktu)?

One day one juz juga tidak istimewa, kalau kita mau memperbandingkannya dengan jumlah jam dalam sehari. Kalau misalnya Anda butuh waktu 3 jam untuk satu juz, berarti sisanya masih ada berapa jam? Anda gunakan apa saja?

Rutin sedekah satu juta rupiah per bulan pun tidak istimewa. Apa hebatnya? Cobalah tanya ke akal yang jernih. Satu juta rupiah menjadi terasa sangat sedikit, kalau Anda mau jujur memperbandingkannya dengan "biaya kemewahan" hidup Anda. Coba bandingkan dengan biaya makan Anda, biaya belanja barang Anda, harga mobil Anda, dan harga rumah Anda.

Contoh kasus terakhir, pernah naik haji. Jujur itu cuma masalah kesempatan saja. Anda yakin mampu naik haji kalau diberi "kesempatan" oleh Allah jadi tukang tambal ban? Anda yakin mampu rutin menabung sedikit demi sedikit selama 30 tahun? Anda yakin mampu puasa hawa nafsu selama 30 tahun demi naik haji?

Jadi, maksud saya, kalau diurut-urut dan ditelaah satu per satu, aslinya kita semua tidak pantas masuk surga. Sekalipun sudah ahli ibadah. Sekalipun sudah menumpuk amal kebaikan sepanjang hayat. Sama sekali tidak pantas.

Amal baik kita masih sangat sangat sedikit, kalau diperbandingkan dengan amal buruk kita dan tingkat ke-mubazir-an hidup kita. Silakan coba hitung sendiri dengan jujur. Seperti empat contoh kasus amal baik yang akhir-akhir ini dikira masyarakat muslim Indonesia adalah "luar biasa" tadi. Silakan coba.

Maka dari itu, benarlah sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa kita jangan merasa bisa masuk surga dengan kendaraan amal baik. Luar biasa tidak pantas. Kita hanya bisa masuk surga dengan kendaraan rahmat Allah saja. Selain itu, mustahil bisa masuk.

Kalau kita tidak dimaklumi dan disayangi Allah, saya juga Anda mustahil boleh masuk surga. Maka, mari kita rendah hati dalam beragama, jangan pernah sombong. Kalau kita itu rajin beribadah, ya sudah titik. Ibadah, titik. Ibadah, titik. Tidak usah pamer. Tidak usah merasa sholeh.

Sifat sombong itu selendangNya. Jangan dipakai manusia. Tidak pantas. Selain menimbulkan kemarahan Allah, sifat sombong akan amal baik pada diri seseorang menimbulkan penyakit hati suka melaknati orang lain. Padahal rahmat Allah hanya bisa turun pada hati orang yang penuh rahmat.

Rajin-rajinlah beribadah, tapi jangan sampai menggantungkan diri pada amal shalih.

Minggu, 09 November 2014

Memuliakan Ilmu, Ta`dzim dg Para guru

Mengagungkan ilmu

اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم وأهله، وتعظيم الأستاذ وتوقيره.

Penting diketahui, Seorang pelajar tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu, dan menghormati keagungan gurunya.

قيل: ما وصل من وصل إلا بالحرمة، وما سقط من سقط إلا بترك الحرمة. وقيل: الحرمة خير من الطاعة، ألا ترى أن الإنسان لا يكفر بالمعصية، وإنما يكفر باستخفافها، وبترك الحرمة. ومن تعظيم العلم تعظيم الأستاذ

Ada dikatakan : “Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya karena mengagungkan sesuatu itu, dan gagalnya pula karena tidak mau mengagungkannya. “Tidaklah anda telah tahu, manusia tidak menjadi kafir karena maksiatnya, tapi jadi kafir lantaran tidak mengagungkan Allah.

Mengagungkan Guru

قال على رضى الله عنه: أنا عبد من علمنى حرفا واحدا، إن شاء باع، وإن شاء استرق.

Termasuk arti mengagungkan ilmu, yaitu menghormati pada sang guru. Ali ra berkata: “Saya menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun tetap menjadi hambanya.”

وقد أنشدت فى ذلك:

رأيت أحق الحق حق المعلم وأوجـبه حفظا على كل مسلم

لقد حق أن يهدى إليه كرامة لتعليم حرف واحد ألف درهم

فإن من علمك حرفا واحدا مما تحتاج إليه فى الدين فهو أبوك فى الدين.

Dalam masalah ini saya kemukakan Syi’irnya:

Keyakinanku tentang haq guru, hak paling hak adalah itu

Paling wajib di pelihara, oleh muslim seluruhnya

demi memulyakan, hadiah berhak di haturkan

seharga dirham seribu, tuk mengajar huruf yang Satu

Memang benar, orang yang mengajarmu satu huruf ilmu yang diperlukan dalam urusan agamamu, adalah bapak dalam kehidupan agamamu.

وكان أستاذنا الشيخ الإمام سديد الدين الشيرازى يقول: قال مشايخنا: من أراد أن يكون ابنه عالما ينبغى أن يراعى الغرباء من الفقهاء، ويكرمهم ويطعمهم ويطيعهم شيئا، وإن لم يكن ابنه عالما يكون حفيده عالما.

Guru kita Syaikhul Imam Sadiduddin Asy-Syairaziy berkata : Guru-guru kami berucap : “bagi orang yang ingin putranya alim, hendaklah suka memelihara, memulyakan, mengagungkan, dan menghaturkan hadiah kepada kaum ahli agama yang tengah dalam pengembaraan ilmiyahnya. Kalau toh ternyata bukan putranya yang alim, maka cucunyalah nanti.”

ومن توقير المعلم أن لايمشى أمامه، ولا يجلس مكانه، ولا يبتدئ بالكلام عنده إلا بإذنه، ولا يكثر الكلام عنده، ولا يسأل شيئا عند ملالته ويراعى الوقت، ولا يدق الباب بل يصبر حتى يخرج الأستاذ.

Termasuk arti menghormati guru, yaitu jangan berjalan di depannya, duduk di tempatnya, memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan darinya, berbicara macam-macam darinya, dan menanyakan hal-hal yang membosankannya, cukuplah dengan sabar menanti diluar hingga ia sendiri yang keluar dari rumah.

فالحاصل: أنه يطلب رضاه، ويجتنب سخطه، ويمتثل أمره فى غير معصية لله تعالى، فإنه لا طاعة للمخلوق فى معصية الخالق كما قال النبى صلى الله عليه وسلم: إن شر الناس من يذهب دينه لدنيا بمعصية الخالق. ومن توقيره: توقير أولاده ومن يتعلق به.

Pada pokoknya, adalah melakukan hal-hal yang membuatnya rela, menjauhkan amarahnya dan menjungjung tinggi perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama, sebab orang tidak boleh taat kepada makhluk dalam melakukan perbuatan durhak kepada Allah Maha Pencipta. Termasuk arti menghormati guru pula, yaitu menghormati putera dan semua oarang yang bersangkut paut dengannya.