Selasa, 07 Juli 2020

Ingin Mengambil Hukum Langsung Dari Qur'an dan Hadits.?? Fahami ini

Sebagai seorang Muslim tentu saja harus menyandarkan segala gerak-gerik perbuatan dalam  hidupnya kepada al-Qur’an dan sunah- sunah Nabi yang merupakan undang-undang dan sumber hukum dalam agama Islam.

Dalam sebuah hadits, Nabi berpesan agar kita, sebagai umatnya senantiasa berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah agar tidak tersesat dalam kehidupan ini, beliau  bersabda:

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما: كتاب الله وسنة نبيه[1]

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, al-Qur’an dan as-Sunnah”

Berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah maksudnya melaksanakan segala sesuatu dalam hidup ini berdasarkan kepada aturan dan ketentuan yang ditetapkan dan dijelaskn oleh al-Qur’an dan as-Sunnah.

Namun, dalam aplikasinya ternyata tidak semudah yang kita bayangkan, karena walaupun kebenaran al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai petunjuk bagi manusia bersifat absolut, tetapi petunjuk atau maksud yang ingin disampaikan terkadang berbeda dengan teks dhohirnya. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadi banyak perbedaan pendapat dikalangan ulama dalam satu masalah, padahal semuanya merujuk kepada ayat atau hadits yang sama.

Apabila semua orang dibiarkan mengambil hukum langsung kepada al-Qur’an dan as-Sunnah tentu ini akan menyebabkan kekacauan dan kesemerawutan dalam beragama, setiap orang bebas menafsirkan al-Qur’an sekehendak hati dan sebatas pengetahuannya saja, hingga nanti pada puncaknya, setiap orang punya kebenaran versi masing-masing.

Lalu pertanyaannya, siapa yang berhak dan punya otoritas untuk menggali hukum langsung dari al-Qur’an dan as-Sunnah?

Mujtahid Mutlak

Orang yang berhak menggali hukum langsung dari al-Qur’an dan as-Sunnah adalah orang yang sudah menguasai semua pengetahuan yang berkaitan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah serta semua perangkat istinbath (analisa) yang digunakan untuk memahami maksud dari syari’at.

Orang yang sudah mencapai level tersebut disebut sebagai Mujtahid, namun ternyata, mujtahid juga ada levelnya, hanya mujtahid level tertinggi saja yang mampu mengambil hukum secara langsung dari al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa terikat kaidah dan standar dari mujtahid lain. Dialah yang berhak mengatakan: “ini sesuai al-Qur’an menurut pendapat saya”.

Syekh Wahbah az-Zuahaili (w 1436 H) dalam kitabnya menyebutkan beberapa tingkatan mujtahid[2] :

  1. Mujtahid mutlak mustaqil
  2. Mujtahid mutlak ghoiru mustaqil (mujtahid muntasib)
  3. Mujtahid muqoyyad
  4. Mujtahid fatwa dan tarjih
  5. Mujtahid fatwa (mufti) madzhab

Tingkatan mujtahid ini juga disebutkan oleh Imam Nawawi (w 676 H) dalam al-Majmu’[3], beliau -rohimahullah- juga menjelaskan sifat-sifat dan syarat-syarat para mujtahid tiap tingkatnya.

Syarat Mujtahid Mutlak

Untuk bisa mencapai level Mujtahid mutlak, seseorang harus memenuhi berbagai syarat yang begitu berat, Imam Nawawi bahkan sampai mengatakan bahwa sudah begitu lama tidak ada Mujtahid mutlak mustaqil, tentu itu karena beratnya syarat yang harus dipenuhi, sehingga jarang sekali yang mencapai level tersebut, beliau mengatakan:

ومن دهر طويل عدم المفتي المستقل وصارت الفتوى إلى المنتسبين إلى أئمة المذاهب المتبوعة[4]

“Dan sudah sekian lama tidak ada mufti (mujtahid) mustaqil, sehingga fatwa hanya berada ditangan para mujtahid muntasib”

Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar berhak menjadi Mujtahid mutlak mustaqil adalah sebagai berikut:

1. Islam

Beragama Islam adalah syarat mutlak bagi seorang mujtahid, orang kafir tidak akan diambil fatwanya meski seandainya dia menguasai semua dalil-dalil agama dan mampu beristinbath.

2. Berakal

Fatwanya orang yang tidak berakal alias gila tidak akan diambil, walaupun seandainya orang gila ini dahulunya seorang mujtahid, karena ketika dia kehilangan akalnya, tidak ada filter atau timbangan untuk membedakan antara benar dan salah.

3. Baligh

Seorang anak yang belum baligh walau seandainya sudah mencapai derajat mujtahid, tidak diterima hasil ijtihadnya, karena belum sempurnanya kemampuan akal, yang mana dengan kesempurnaan akal itu merupakan alat untuk mecari dan membedakan benar dan salah.

4. Adil

Sesorang dikatakan adil apabila meninggalkan semua dosa besar, kemudian apabila melakukan dosa kecil dia tida melakukannya lagi dan tidak melakukan hal-hal yang mengurangi kewibawaan. Sebenarnya adil bukan syarat untuk mencapai derajat mujtahid, adil adalah syarat agar hasil ijtihadnya diterima[5].

5. Fiqh an-Nafs

Fiqh an-nafs maksudnya adalah dimana seseorang telah menguasai dan memahami semua nash-nash syar’i, mampu menghadirkannya dengan cepat ketika dibutuhkan, mampu menganalisa setiap detail-detail nash serta mampu mengaplikasikannya dalam setiap masalah dikehidupan nyata.

Fiqh an-nafs ini merupakan bakat yang merupakan anugrah dari Allah, sehingga tidak setiap orang mampu menguasainya, meskipun sudah berusaha sekuat tenaga. Imam al-Haromain (w 478 H) mengatakan:

 

ثم يشترط وراء ذلك كله فقه النفس فهو رأس مال المجتهد – ولا يتأتى كسبه – فإن جبل على ذلك فهو المراد، وإلا فلا يتأتى تحصيله بحفظ الكتب[6]

 

“kemudian disamping syarat yang sudah disebutkan, disyaratkan pula fiqh an-nafs yang merupakan modal pokok seorang mujtahid, dan fiqh an-nafs ini tidak bisa diusahakan (untuk mendapatkannya), apabila seseorang sudah mempunyai sifat tersebut (secara alami) maka itulah yang diharapkan, tetapi apabila tidak berbakat (secara alami) maka tidak bisa mendapatkannya walau dengan menghafal kitab-kitab.”

 

6. Memiiki ilmu tentang al-Qur’an

Memiki pengetahuan tentang al-Qur’an tidak cukup hanya sebatas mampu membaca dan memahami maknanya secara ijmal (global) saja, tetapi lebih dari itu dia mampu medapat ilmu sacara hakiki dari bacaannya tersebut, mampu mentadaburinya, mampu menganalisa dan menggali hukum darinya. Untuk mencapai hal tersebut, seorang mujtahid harus mengetahui beberapa ilmu tentang al-Qur’an, diantaranya:

 

  • Nasikh wa mansukh

Diharuskan bagi seorang mujtahid untuk mengetahui ayat-ayat yang mansukh, sehingga dia mengamalkan yang nasikh, untuk mengetahui nasikh mansukh jelas harus tau sejarah turunnya ayat, kapan ayat ini turun, kapan ayat itu turun, harus tau juga aturan dan syarat-syarat dalam nasikh wa mansukh, jenis-jenisnya dan semua hal yang berkaitan dengan nasikh wa mansukh.

  • Al-Am wa al-Khos

Seorang mujtahid harus tau mana ayat yang bersifat ‘am (umum) mana ayat yang bersifat khos (khusus), mana ayat yang ‘am tapi maksudnya khos, bagaimana aturan takhsis al-‘am, syarat-syaratnya dan semua hal yang berkaitan dengan al-am wa al-khos.

  • Al-Muthlak wa al-Muqoyyad

Seperti al-am wa al-khos, seorang mujtahid juga harus tau mana ayat yang mutlak mana ayat yang terikat (muqoyyad) bagaimana menggabungkan mutlak dan muqoyyad, aturan dan syarat-syaratnya.

  • Asbab an-Nuzul

Mengetahui asbab an-nuzul bertujuan agar seorang mujtahid tau bagaimana konteks ayat tersebut turun, mengerti maksud dan kondisi serta pengamalan akan ayat tersebut dalam konteks yang berbeda.

  • Lain-lain

Seperti mengetahui ayat dhohir dan ayat mu’awal, ayat mujmal dan ayat mubayyan, mana surat makki mana surat madani, yang mana penegtahuan tersebut akan mempengaruhi kedetailan hukum.

 

7. Memiliki pengetahuan tentang as-Sunnah

Memiliki pengetahuan tentang as-Sunnah tidak hanya terbatas pada tau cara membaca hadits dan memahami artinya secara ijmal, tetapi harus tau juga hal-hal yang sama pada al-Qur’an seperti nasikh mansukh, al-am wa al-muqoyyad al-muthlak wa al-muqoyyad, asbabu al-wurud dan lainnya.

Termasuk syarat bagi mujtahid mengtahui semua jenis dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan as-Sunnah, diantaranya:

 

  • Hadits mutawatir dan hadits ahad

Posisinya diantara hadits yang lain, syarat-syaratnya dan konskwensi hukum apa yang terjadi.

  • Hadits shohih dan dho’if

Seorang mujtahid harus tau posisi hadits, apakah shohih atau hasan atau dho’if, tau cara memakainya, syarat-syaratnya, dhobit-dhobitnya, dan segala hal yang berkaitan tentang diterima atau tidaknya suatu hadits dalam menetapkan hukum, baik itu pembahasan dalam mustholah hadits atau dalam ushul fiqh.

  • At-Tarikh wa ar-Rijal

Seorang mujtahid harus tau apa yang dibutuhkan dari sejarah periwayatan, kondisi para rowi (periwayat hadits), apakah rowi ini adil atau tidak, dipercaya atau tidak, pertemuan rowi dengan gurunya, dan bagaimana rowi menerima hadits dari gurunya, ini semua untuk mengetahui status hadits, apakah shohih atau dho’if, apakah muttashil atau munqothi’ dan selainnya yang berhubungan dengan sanad.

  • Asbab aj-jarh wa at-ta’dil

Begitu juga seorang mujtahid harus tau sebab-sebab seorang rowi itu di-tajrih, bagaimana standarnya (dhobitnya), jenis-jenisnya, kapan jarh itu dianggap dan kapan tidak dianggap dalam takhrij hadits, itu semua diperlukan untuk menentukan apakah hadits itu diterima atau tidak dalam pendalilan sebuah hukum.

  • Syadz, mahfudz, munkar dan ilal al-hadits

Imam al-Haromain (w 478 H) berkata:

 

والثالثة معرفة السنن، فهي القاعدة الكبرى ; فإن معظم أصول التكاليف متلقى من أقوال الرسول ﷺ وأفعاله وفنون أحواله، ومعظم آي الكتاب لا يستقل دون بيان الرسول ثم لا يتقرر الاستقلال بالسنن إلا بالتبحر في معرفة الرجال، والعلم بالصحيح من الأخبار والسقيم، وأسباب الجرح والتعديل، وما عليه التعويل في صفات الأثبات من الرواة والثقات، والمسند والمرسل، والتواريخ التي تترتب عليها استبانة الناسخ والمنسوخ[7]

 

“yang ketiga adalah pengetahuan tentang sunah-sunah Nabi, yang merupakan kaidah kubro, karena sebagian besar dalil taklif diperoleh dari ucapan-ucapan Rosul, perbuatan-perbuatannya dan keadaan-keadaannya. Dan sebagian ayat al-Qur’an tidak terlepas dari penjelasan Rosul, kemudian untuk memastikan kebenaran sebuah hadits harus ditempuh dengan mendalami pengetahuan tentang para rowi, mengetahui khobar Nabi apakah shoih atau tidak, tau sebab-sebab jarh wa ta’dil, dan apa-apa yang mempengaruhi kepastian suatu hadits dari keadaan setiap rowi dan kredibilitasnya, tau musnad dan mursal, tau sejarah wurudnya hadits sehingga dia tau hadits-hadits yang nasikh dan yang mansukh”

 

8. Memiliki pengetahuan tentang bahasa Arab

Seorang mujtahid wajib memahami dan menguasai bahasa arab, kaidah-kaidahnya, tarkib-tarkibnya dan lain-lain, itu semua karena al-Qur’an dan Hadits Nabi sebagai sumber hukum Islam menggunakan bahasa Arab.

Untuk mampu memahmi dan menganalisa maksud baik yang tersurat maupun tersurat dalam bahasa Arab, seorang mujtahid harus menguasai hal-hal dibawah ini;

  • Matan al-lughoh

Matan al-lughoh (متن اللغة) maksudnya adalah mengetahui dengan benar makna-makna setiap kosa kata bahasa Arab, ada yang bersifat murodif, musytarok dan sebagainya.

  • Nahwu

Dengan nahwu seorang mujtahid mengetahui struktur sebuah kalimat, sehingga mamudahkan dalam memahami maksud suatu kalam (ucapan)

  • Shorf

Dengan shorf seorang mujtahid mengetahui bagaimana suatu kata/kalimat terbentuk, tau mengapa suatu huruf bertukar, bertambah atau berkurang dan selainnya.

  • Balaghoh

Dengan balaghoh seorang mujtahid dapat mengetahui suatu kalimat apakah itu sebuah kinayah, atau majaz, apakah itu khobar atau insya dan lain-lain, yang pada intinya, membantu seorang mujtahid dalam memahami maksud yang ingin disampaikan dalam bahasa Arab yang begitu luas, indah dan dalam.

Imam al-Haromain mengatakan dalam kitabnya:

وينبغي أن يكون المفتي عالماً باللغة، فان الشريعة عربية، وإنما يفهَمُ أصولها من الكتاب والسنة من يعرف لغة العرب[8]

“Dan sudah selayaknya bagi seorang mufti (mujtahid) mengetahui bahasa Arab, karena syari’at Islam menggunakan bahasa Arab, dan bahwasanya dipahami dalil-dalil syariat itu oleh orang-orang yang paham bahasa Arab”

Namun bukan syarat seorang mujtahid untuk menguasai bahasa Arab secara keseluruhan, karena itu hal yang hampir mustahil, Imam Syafi’i (w 204 H) mengatakan:

ولسان العرب أوسع الألسنة مذهباً، وأكثرها ألفاظاً، ولا نعلمه يحيط بجميع علم إنسان غير نبي[9]

“Dan bahasa Arab merupakan bahasa yang paling luas (cangkupan maknanya), paling banyak kosakatanya, dan kami tidak tahu ada seorang pun yang menguasai secara keseluruhan selain seorang Nabi”

Tetapi yang dimaksud menguasai disini adalah kemampuan untuk memahami bahasa Arab, gaya bahasanya, cara penggunaanya dan sebagainya, yang mana membantu seorang mujtahid untuk memahami maksud yang ingin disampaikan.

9. Mengetahui masalah-masalah Ijma’

Wajib hukumnya seorang mujtahid mengetahui masalah-masalah yang sudah di-Ijma’kan, sehingga dia tidak berfatwa dalam suatu masalah menyelisihi apa yang sudah di-Ijma’kan. Seorang mujtahid juga harus mengetahui jenis-jenis Ijma, dan ketentuan-ketentuannya.

 

10. Mengetahui madzhab-madzhab ulama dalam masalah-masalah khilaf

Seorang mujtahid juga harus mengetahui madzhab-madzhab atau pemikiran-pemikiran ulama mutaqodimin, serta mengetahui pendapat-pendapat para salaf, agar dia mendapat cahaya dengan cahaya keilmuan ulama terdahulu, juga agar dia mendapat faidah dari pemikiran dan akal-akal para pendahulunya.

Imam Syafi’i berkata :

ولا يكون لأحد أن يقيس حتى يكون عالماً بما مضى قبله من السنن، وأقاويل السلف، وإجماع الناس، واختلافهم[10]

“dan tidak boleh seseorang berijtihad sampai dia mengetahu apa yang sudah berlalu, dari mulai sunah-sunah Nabi, ucapan-ucapan salaf (ulama terdahulu), ijma para ulama dan perselisihan mereka”.

11. Mengetahui ilmu Ushul fiqh

Diantara hal yang harus dikuasai seorang mujtahid bahkan yang terpenting adalah menguasai ushul fiqh, karena ushul fiqh merupakan asas dalam berijtihad, dengan ushul fiqh seorang mujtahid mampu menerapkan dalil pada madlul (objek dalil)nya dengan benar, dan mampu meng-istibath hukum dari dalil dengan benar.

Selain syarat-syarat di atas yang begitu berat, ada hal lain juga yang harus diperhatikan oleh seorang mujtahid, diantaranya adalah sikap waro’ atau berhati-hati dalam segala hal yang terindikasi kurang baik, terkenal dengan sikap taat beragama, dan sebagainya.

Imam Nawawi (w 676 H) -rohimahullah- berkata:

وينبغي أن يكون المفتي ظاهر الورع مشورا بالديانة الظاهرة والصيانة الباهرة

“Dan selayaknya seorang mufti itu harus memiliki sikap wara’, menampakkan sikap-sikap religius, dan mejaga penampilan yang elok”

Selain sikap-sikap di atas, di antara hal yang harus dimiliki oleh seorang mujtahid adalah rasa takut kepada Allah, takut kelak mempertanggungjawabkan fatwa-fatwanya di hadapan Allah , Imam Malik (w 179 H) berkata:

من أجاب في مسألة فينبغي قبل الجواب أن يعرض نفسه على الجنة والنار وكيف خلاصه ثم يجيب

“Barangsiapa yang ingn menjawab suatu masalah (berfatwa) hendaklah dia mengajukan pada dirinya surga dan neraka, dan bagaimana dia terlepas dari neraka itu, barulah dia menjawab”

Pintu ijtihad memang masih terbuka, dan barangsiapa hendak menggali hukum langsung dari al-Qur’an, hendaklah dia sematkan atau deklarasikan dirinya sebagai mujtahid mutlak, dan supaya sah menjadi mujtahid mutlak hendaklah dipenuki syarat-syaratnya.

Terakhir, penulis ingin menyampaikan sebuah kata penuh hikmah yang terucap dari lisan orang yang mulia, Umar bin Abdul Aziz:

رحم الله امرئ عرف قدر نفسه

“Semoga Allah merahmati seseorang yang menyadari kapasitas dirinya”

Juga ucapan seorang Mujtahid mutlak, guru dari Mujtahid mutlak dan seorang Imam madzhab, Malik bin Anas, beliau berkata:

ما أفتيت حتى شهد لي سبعون أني أهل لذلك

“Aku tidak berfatwa sampai aku mendapat persaksian dari tujuh puluh orang (yang adil) bahwa aku memang sudah ahlinya”

 


[1] HR. Malik

[2] Al-Fiqhu al-Islami wa adillatuhu (1/62-63)

[3]  Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (1/42-45)

[4]  Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (1/43)

[5]  Al-Mustashfa (1/342)

[6] Al-Burhan Fi Ushul al-Fiqh (2/1332)

[7] Al-Ghiyatsi (1/400)

[8] Al-Burhan (2/1330)

[9] Ar-Risalah, hal. 138

[10] Ar-Risalah, hal. 1449

Ikut Siapa Ibadahmu

Ibnu al-Qoyim (w 751 H) dalam kitabnya I'lam al-Muwaqi'in meriwayatkan perkataan Imam Ahmad (w 241 H) :

لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الثوري ولا الأوزاعي وخذ من حيث أخذوا

"Janganlah kamu taklid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Tsauri atau Auza'i, ambillah dari mana mereka mengambil"

Namun perlu diperhatikan, perkataan beliau itu ditujukan untuk siapa. Ibnu al-Qudamah al-Hanbali (w 620 H) sepertinya punya jawaban untuk hal ini, beliau dalam kitabnya Roudhoh An-Nadzir berkata :

"Para ulama bersepakat bahwasannya seorang Mujtahid apabila dia mampu berijtihad kemudian dia punya sangkaan kuat akan benarnya hasil ijtihad dirinya, maka tidak boleh baginya untuk bertaklid kepada Mujtahid lainnya"

Disini nampaknya Ibnu Qudamah ingin menekankan bahwa sesungguhnya larangan bertaklid itu adalah untuk para Mujtahid, bukan untuk semua orang.

Kenapa tidak boleh ? karena para Mujtahid mampu untuk memahami hujjah, sedangkan definisi dari taklid sendiri adalah menerima pendapat orang lain tanpa memahami hujjah, jadi tidak boleh bagi orang yang mampu berhujjah untuk menerima pendapat orang lain tanpa hujjah.

Lalu bagaimana dengan orang awam yang tidak tau apa itu hujjah, apa itu dalil, bagaimana beristidlal, dll. Apakah mereka juga terlarang untuk bertaklid ?

Abu al-Khottob al-Hanbali (w 510 H) sebagaimana diriwayatkan Ibnu al-Qudamah mengatakan:

"Ilmu itu ada dua; yang pertama adalah ilmu yang tidak boleh untuk bertaklid yaitu seperti mengetahui Allah dan keesaanNya, kebenaran risalah kenabian Nabi Muhammad dan sebagainya....(masalah Ushul)

Adapun taklid dalam masalah furu' maka hukumnya boleh berdasarkan Ijma' para ulama."

Ibnu al-Qudamah menjelaskan mengapa boleh taklid dalam masalah furu', karena seorang Mujtahid ketika berijtihad dalam masalah furu', baik hasilnya benar atau salah tetap mendapatkan pahala dan tidak berdosa, maka boleh taklid kepada mereka, bahkan wajib bagi orang yang sangat awam.

Adapun orang-orang yang menyuruh orang awam untuk berijtihad sendiri meskipun dalam masalah furu' adalah golongan Qodariyah.

Pemahaman seperti ini batil menurut ijma para  Sahabat, karena dahulu para Sahabat berfatwa kepada kalangan awam dan tidak menyuruh mereka untuk mencapai derajat Mujtahid.

Dan hal semacam ini merupakan hal yang sudah diketahui dan tersebar luas baik di kalangan awam maupun para ulamanya.


IMAM JALALUDDIN AS SUYUTHI

Dalam dunia persilatan bidang ‘ulum al-Qur’an (ilmu-ilmu al-Qur’an) ada seorang master dan legenda yang wajib diketahui oleh siapapun yang hendak mendalami ilmu tersebut.

Beliau adalah Abdurrahman bin Abi Bakr atau yang lebih kita kenal dengan Jalaludin as-Suyuthi, kiprah dan sumbangsih beliau dalam dunia keilmuan al-Qur’an sungguh sangat besar, yang mana kitab beliau yang bernama al-Itqon Fii Ulum al-Qur’an menjadi kitab wajib bagi setiap pembelajar ilmu al-Qur’an.

Tak seorangpun dianggap menjadi master di bidang ilmu al-Qur’an kecuali telah menguasai atau minimal mempelajari 80 jurus yang dituliskan oleh Imam Suyuthi dalam kitabnya ini.

Tulisan ini mencoba untuk mengungkap sedikit lebih jauh tentang siapa itu imam Suyuthi dan bagaimana latar belakang ditulisnya kitab al-Itqon.

Nama lengkap

Nama lengkap beliau adalah al-Hafidz Abdurrahman bin Kamal bin Abi Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin bin Fakr Utsman bin Nadziruddin al-Himam al-Khudhairi as-Suyuthi al-Mishri as-Syafi’i. Laqab beliau adalah Jalaludin as-Suyuthi sedangkan Kuniahnya adalah abu fadhl.

Kakek beliau yaitu Sabiquddin adalah seorang ahli hakikat dan merupakan seorang Syekh thariqoh dalam dunia tasawuf, keluarga imam Suyuthi umumnya merupakan orang-orang berkedudukan, ada yang menjadi pejabat pemerintahan ada yang menjadi pejabat pengusaha, hanya orang tua imam Suyuthi yang konsen berkhidmah dalam keilmuan agama.

Kelahiran

Beliau lahir di sebuah daerah bernaman Asyut di negri Mesir pada malam Ahad bulan Rajab tahun 849 H. imam Suyuthi tumbuh dalam keadaan yatim, ayahnya wafat pada saat usia imam Suyuthi masih enam tahun.

Perjalanan menuntut ilmu

Sebelum mencapai usia delapan tahun, imam Suyuthi sudah hafal al-Qur’an dan beberapa kitab yang mudah dihafal olehnya seperti kitab al-Umdah, Minhaj al-Fiqh wa al-Ushul dan Alfiyah Ibnu Malik.

Pada usia 16 tahun beliau mulai lebih dalam lagi mempelajari berbagai jenis ilmu keagamaan, beliau belajar ilmu fiqh dan nahwu kepada beberapa syekh, belajar ilmu faraidh (waris) kepada syekh Syihabudin as-Syarimasahi, yang merupakan pakar faroidh di jamannya, beliau juga mermulazamah mempelajari fiqih kepada Syaikhul Islam al-Bulqini hingga wafatnya, kemudian berlanjut kepada putranya Alamuddin al-Bulqini.

Dalam belajar ilmu tafsir, ushul dan bahasa arab beliau bermulazamah kepada Ustadz al-Wujud Muhyiddin al-Kafiji selama 14 tahun. Masih banyak lagi jenis ilmu dan masyayikh tempat beliau belajar, selain di negrinya, imam suyuthi juga berkelana mencari ilmu ke berbagai kota dan negri, di antaranya Fayum, Mahilah, Dimyath, negri Syam, Hijaz, Yaman, Indian dan Maroko.

Kecerdasan dan keluasan ilmu

Imam Suyuthi dianugrahi oleh Allah keluasan ilmu dalam tujuh bidang ilmu keagamaan, yaitu ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu nahwu, ilmu ma’ani ilmu bayan dan ilmu badi’. Bahkan beliau begitu percaya diri menggunggulkan dirinya dihadapan para syekh, beliau berkata:

“Sesungguhnya penguasaanku terhadap ketujuh ilmu ini belum ada yang menandingi bahkan dari kalangan guru-guruku, kecuali ilmu fiqih dan ilmu riwayat”

Kitab-kitab yang pernah beliau pelajari

Beliau pernah menghadiri majelisnya syekh Saifuddin al-Hanafi untuk belajar beberapa ilmu dari kitab al-Kasyaf dan at-Taudhih, ayah beliau juga pernah membawanya dalam majelis al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, belajar kitab Shahih Muslim, as-Syifa, Alfiyah Ibnu Malik, Syarh Syudzur, al-Mughni Fii Ushul Fiqh al-Hanafi dan Syarh Aqaid kepada syekh as-Sairafi.

Beliau juga belajar beberapa kitab kepad syekh Syamsul al-Marzabani al-Hanafi seperti kitab al-Kafiyah dan syarhnya, as-Syafiyah dan syarahnya karangan syekh al-Jarudi juga kitab Alfiyah karya al-Iroqi.

Belum lagi di majelisnya al-Bulqini, Syarof al-Munawi, Saefuddin al-Hanafi, as-Syamani dan al-Kafiji untuk mempelajari begitu banyak kitab. Namun meski begitu beliau tetap merasa belum bagitu banyak tau tentang ilmu riwayat, beliau lebih mendahulukan ilmu-ilmu dirayat karena dalam pandangannya ilmu tersebut lebih penting.

Guru, Murid dan Koleganya

Imam Suyuthi berguru kepada sekitar 150 syekh, yang paling terkenal di antaranya adalah syekh Ahmad as-Syarimasahi, syekh Umar al-Bulqini, syekh Sholeh bin Umar al-Bulqini, syekh Muhyiddin al-Kafiji, al-Qodhi Syarifuddin al-Munawi.

Beliau juga memiliki begitu banyak murid, di antaranya adalah al-Hafidh Syamsuddin bin Ali ad-Daudi al-Mishri as-Syafi’i.

Adapun di antara teman seperjuangan beliau dalam menuntut ilmu adalah Syamsuddin as-Sakhowi dan Ali al-Asymuni.

Akidah Imam Suyuthi

Akidah imam Suyuthi adalah akidah ahlusunah wal jama’ah, itu terlihat dari kitab-kitab beliau yang membela para Sahabat dan berpegang teguhnya beliau pada Sunah. Beliau juga condong kepada pemikiran-pemikiran tasawuf mengikuti jejak kakeknya Nadziruddin al-Himam.

Peninggalan Imam suyuthi

Ketika imam Suyuthi berusia 40 tahun beliau mulai menyendiri meninggalkan semua aktifitasnya, memfokuskan dirinya untuk menulis kitab, maka dalam rentang waktu 22 tahun beliau mampu mensuplai perpustakaan-perpustakaan Islam dengan hampir 600 kitab karangannya yang terdiri dari berbagai bidang keilmuan Islam, di antaranya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ushul fiqh, bahasa arab dengan seluruh cabangnya dan ilmu sejarah.

Wafat Imam Suyuthi

Imam Suyuthi wafat dalam keadaan beliau yang sedang fokus menulis kitab, setelah sakit selama tujuh hari dan bengkak pada tangan kirinya semakin parah maka pada hari kamis tanggal 19 Jumadil Ula tahun 911 H Imam Suyuthi menghembuskan nafasnya yang terakhir, yang kemudian jasadnya dimakamkan di pemakaman Husy Qosun di Mesir.

Latar belakang penulisan kitab al-Itqon

Imam Suyuthi sejak masa tholabul ilmi sudah begitu kagum dengan al-Qur’an dan segala ilmu yang berkaitan dengannya, namun beliau merasa heran, mengapa belum ada seorang pun yang menyusun dan mengarang suatu kitab yang konsen membahas ilmu-ilmu al-Qur’an, beliau berkata dalam muqodimah kitabnya:

ولقد كنت في زمان الطلب أتعجب من المتقدمين إذ لم يدونوا كتابا في أنواع علوم القرآن كما وضعوا ذلك بالنسبة إلى علم الحديث[1]

“ketika saya masih dalam masa tholabul ilmu saya merasa heran kepada ulama-ulama terdahulu, mengapa tidak ada di antara meraka yang menyusun sebuah kitab tentang ilmu-ilmu al-Qur’an sebagaimana mereka menyusun ilmu-ilmu dalam bidang hadits?”

Kemudian beliau mendengar bahwa gurunya yaitu syekh Muhyiddin al-Kafiji telah menyusun sebuah kitab tentang ilmu-ilmu al-Qur’an, Imam Suyuthi menuliskan kitab tersebut namun ternyata beliau mendapati bahwa kitab tersebut sangat tipis karena hanya terdiri dari dua bab, bab pertama tentang definisi takwil, tafsir, al-Qur’an, surat dan ayat, bab kedua membahas syarat-syarat manafsiri al-Qur’an dengan akal pikiran, yang diakhiri dengan adab-adab dalam belajar dan mengajar al-Qur’an.

Hal ini menurut imam Suyuthi belum memuaskan dahaga dan belum mampu menjelaskan maksud yang beliau harapkan.

Akhirnya guru beliau yaitu syekh Alamuddin al-Bulqini menunjukan sebuah kitab bernama Mawaqi’ al-Ulum Min Mawaqi’ an-Nujum milik saudaranya yaitu Qodhi al-Qudhot Jalaluddin yang membahas tentang ilmu-ilmu al-Qur’an, imam Suyuthi mendapati kitab ini telah cukup rapih dalam sistematika pembahasan dan penyusunannya, terdiri dari enam pembahasan pokok yang dipecah menjadi 50 masalah.

Dari kitab inilah imam Suyuthi kemudian menulis kitab bernama at-Tahbir Fii Ulum at-Tafsir, kitab ini mirip dengan kitab Mawaqi’ al-Ulum hanya saja imam Suyuthi menambahkan contoh-contoh dan beberapa permasalahan penting yang belum dibahas di kitab Mawaqi’. Kitab ini selasai ditulis pada tahun 872 H, di dalamnya dibahas 102 permasalahan terkait ilmu-ilmu yang berhubungan dengan al-Qur’an.

Setelah menulis kitab at-Tahbir, terlintas dalam benak imam Suyuthi untuk menulis kembali kitab dengan pembahasan yang sama namun lebih rapih dan sederhana dalam penyusunannya namun lebih menghimpun semua permasalahan serta lebih terukur dan lebih detail dalam setiap pembahasannya.

Dengan menulis kitab seperti ini beliau berharap menjadi orang pertama dan satu-satunya yang secara lengkap dan detail membahas ilmu-ilmu al-Qur’an, beliau berkata:

وأنا أظن أني متفرد بذلك غير مسبوق بالخوض في هذه المسالك[2]

“Saya mengira bahwa saya yang pertama dan satu-satunya orang yang melakukan ini (menulis kitab) dengan lebih dalam dalam sistematika pembahsannya”

Namun rupanya niat beliau untuk menulis kitab tersebut menjadi setengah hati, karena beliau mendapat kabar bahwa sudah ada orang yang menulis sebuah kitab yang mirip dengan apa yang beliau selama ini pikirkan untuk kitabnya.

Kitab tersebut adalah kitab al-Burhan Fii Ulum al-Qur’an, karangan syekh al-Imam Badruddin Muhammad bin Abdullah az-Zarkasyi. Kitab ini terdiri dari 47 bahasan, semuanya terkait dengan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan al-Qur’an.

Namun setelah membaca kitab al-Burhan ini, imam Suyuthi justru merasa bahagia dan bersyukur serta bertambah azam dan niatnya untuk menulis kitab yang kemudian diberi nama al-Itqon Fii Ulum al-Qur’an. Beliau mengatakan:

ولما وقفت على هذا الكتاب ازددت به سرورا وحمدت الله كثيرا وقوي العزم على إبراز ما أضمرته وشددت الحزم في إنشاء التصنيف الذي قصدته فوضعت هذا الكتاب العلي الشأن الجلي البرهان الكثير الفوائد والإتقان ورتبت أنواعه ترتيبا أنسب من ترتيب البرهان وأدمجت بعض الأنواع في بعض وفصلت ما حقه أن يبان وزدته على ما فيه من الفوائد والفرائد والقواعد والشوارد ما يشنف الآذان وسميته بالإتقان في علوم القرآن وسترى في كل نوع منه إن شاء الله تعالى ما يصلح أن يكون بالتصنيف مفردا وستروى من مناهله العذبة ريا لا ظمأ بعده أبدا[3]

“Setelah aku selesai membaca kitab al-Burhan aku bertambah bahagia, aku bersyukur kepada Allah dan bertambah kuat azamku untuk mengeluarkan apa yang selama ini aku pendam, aku pun menguatkan tekad untuk menulis kitab yang dulu aku niatkan, maka aku mulai menyusun kitab, kitab yang sangat penting, yang memberi penjelasan, yang memiliki banyak faidah.

Aku susun kitab ini dengan susunan yang lebih baik daripada susunan kitab al-Burhan, aku gabungkan beberapa masalah kedalam sebagian masalah lainnya, aku jabarkan yang sekiranya perlu penjabaran, aku tambahkan di dalamnya banyak faidah, hal-hal penting, kaidah-kaidah dan hal-hal unik yang masih asing di telinga.

Aku namai kitab ini dengan kitab al-Itqon Fii Ulum al-Qur’an, kamu akan dapati dalam setiap pembahasannya layak untuk dikatakan “tiada duanya” insya Allah, kamu juga akan merasa kenyang ketika meminum ilmu dari mata air ini (al-Itqon) yang mana setelah kamu minum tak akan haus lagi selamanya.”

Akhirnya imam Suyuthi mulai menulis kitab al-Itqon ini dengan memohon bantuan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kitab ini terdiri dari 80 objek bahasan, yang mana setiap objek pembahasan dalam kitab ini menjadi ilmu tersendiri yang belum tentu cukup dibahas dalam satu kitab khusus.

 


[1] الإتقان في علوم القرآن (1/ 16)

[2] الإتقان في علوم القرآن (1/ 23)

[3] الإتقان في علوم القرآن (1/ 27)