Rabu, 01 Maret 2023

DOA DALAM PRESPEKTIF HIKAM IBNU ATHAILLAH

٭ لاَيَكُنْ تأخُرَ أمَدِ العَطَاءِ معَ الاِلحاحِ فى الدُعاءِموجِباً لِياءسِكَ فهُوَ ضَمن لكَ الاِجاَبة َ فيماَ يختَاَرُهُ لكَ لا فيمَا تَختاَرُلِنفْسِكَ وَفى الوَقتِ الَّذى يُرِيدُ لافى الوقتِ الذى تـُريدُ Ketika menghadapi suatu masalah atau memiliki hajat tertentu, kita melakukan ikhtiar-ikhtiar manusiawi termasuk salah satunya adalah berdoa kepada Allah SWT. Celakanya kita menganggap ikhtiar atau doa kita itu sebagai sebab atas pemenuhan hajat atau keberhasilan kita dalam melewati masalah tersebut. Hal ini tentunya bisa jadi merupakan sebuah kekeliruan cara pandang kita terhadap ikhtiar manusiawi termasuk doa dalam kaitannya dengan pertolongan Allah di mana hubungan doa dan pertolongan Allah merupakan relasi sebab akibat atau kausalitas. Kekeliruan cara pandangan ini kiranya perlu diluruskan sebagai disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini: لا يكن طلبك تسبباً إلى العطاء منه فيقل فهمك عنه .وليكن طلبك لإظهار العبودية وقياماً بحقوق الربوبية Artinya, “Jangan maknai permintaanmu sebagai sebab atas pemberian Allah yang itu menunjukkan kekurangpengertianmu terhadap-Nya. Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah pernyataan kehambaan dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan.” Menurut Syekh Ibnu Athaillah, kausalitas doa dan pemberian Allah lazimnya dipahami oleh mereka yang makrifatullahnya belum sempurna sehingga Allah dipahami secara mekanis, bahwa doa merupakan sebab atas pemberian-Nya. Hal ini berbeda dengan ahli makrifat yang memandang doa sebagai manifestasi dari kehambaan mereka dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan. Hikmah Syekh Ibnu Athaillah ini diulas lebih lanjut oleh Syekh Syarqawi. Menurutnya, segala bentuk ibadah dan amal saleh termasuk doa yang dapat dipahami sebagai bentuk tawajuh seorang hamba kepada Allah jangan diniatkan sebagai sebab atas anugerah-Nya. Niatkan itu semua sebagai bentuk pengabdian manusia kepada Allah SWT. Penjelasan Syekh Syarqawi dapat disimak dalam redaksi sebagai berikut: لا يكن طلبك تسبباً إلى العطاء منه) أى لا تقصد بطلبك أى توجهك له بالدعاء والأعمال الصالحة حصول النوال منه وتعتقد أنه سبب مؤثر في ذلك (فيقل فهمك عنه) أى عن الله أى فلا تفهم السر والحكمة في أمر الله عباده بالطلب وهو ما ذكره بقوله (وليكن طلبك لإظهار العبودية) أى لإظهار كونك عبدا ذليلا ضعيفا لا غنى لك عن سيدك (وقياماً بحقوق الربوبية) فإن الربوبية تقتضى التذلل والخضوع من المربوب، يعنى أن الله لم يأمر عباده بالطلب منه إلا ليظهر افتقارهم إليه وتذللهم بين يديه لا لأن يتسببوا به إلى حصول ما طلبوه ونيل ما رغبوا فيه. هذا هو فهم العارفين عن الله ومن هذا حاله لا ينقطع سؤاله ولا رغبته وإن أعطاه كل مطلب وأناله كل سؤل ومأرب ولا يفرق بين العطاء والمنع فيكون عبد الله في الأحوال كلها كما أنه ربه في الأحوال كلها وقبيح بالعبد أن يصرف وجهه عن باب مولاه Artinya, “(Jangan maknai permintaanmu sebagai sebab atas pemberian Allah), jangan niatkan permintaan dan tawajuhmu kepada-Nya melalui doa atau amal saleh untuk mendapat anugerah-Nya dan meyakininya sebagai sebab yang berpengaruh atas itu, (yang itu menunjukkan kekurangpengertianmu terhadap-Nya) terhadap Allah, yang itu menunjukkan kau tidak memahami rahasia dan hikmah perintah Allah untuk berdoa. Rahasia dan hikmahnya itu disebutkan Syekh Ibnu Athaillah sebagai berikut, (Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah pernyataan kehambaan), yaitu untuk menyatakan dirimu sebagai hamba, hina, dhaif yang tidak bisa cukup daripada-Nya (dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan). Sifat ketuhanan menuntut kerendahan dan ketundukan para hamba. Allah tidak memerintahkan hamba-Nya berdoa kecuali untuk menyatakan kefakiran mereka terhadap-Nya dan kerendahan mereka di hadapan-Nya, bukan untuk mereka jadikan sebab demi mendapat permohonan dan meraih keinginan mereka. Inilah pemahaman ahli makrifat terhadap Allah. Dari sini permintaan dan permohonan mereka kemudian tak pernah putus sekalipun Allah telah mengabulkan permohonan dan memberikan permintaan serta hajat mereka. Mereka tidak membedakan pemberian dan penahanan Allah sehingga mereka tetap menjadi hamba Allah dalam keadaan apapun sebagaimana Allah adalah tuhan mereka dalam kondisi apapun. Adalah sebuah keburukan seorang hamba yang memalingkan wajah dari pintu Tuhannya,” (Lihat Syekh Sarqawi, Syarhul Hikam, juz II, halaman 9). Mengapa hubungan kausalitas doa dan anugerah Allah sebagai kekeliruan yang mengandung bahaya? Anggapan keduanya sebagai hubungan kausalitas itu berbuntut panjang. Ada konsekuensi logis dari cara pandang kausalitas tersebut. Syekh Ahmad Zarruq mengulas masalah ini lebih jauh. Menurutnya, hubungan kausalitas itu dapat mempengaruhi rasa syukur dan ridha kita terhadap Allah. Celakanya kalau kita terjebak dan masuk ke dalam kelompok orang-orang yang kufur nikmat dan tidak ridha atas putusan-Nya sebagai penjelasan Syekh Ahmad Zarruq berikut ini: ووجه انتفاء الفهم باعتقاد السببية أنه إن أعطى لم يشكر وإن شكر كان شكره ضعيفا لملاحظته سببا في التحصيل، لأن الفرح بالمنة دون استشعار سبب أقوى منه مع استشعاره، وإن منع لم يرض، وإن رضي فلا من حيث رؤية اختيار الحق تعالى بل من حيث رؤية تقصيره وهو نقص. والمطلوب في ذلك ما ذكره بأن قال وليكن طلبك لإظهار العبودية وقياماً بحقوق الربوبية Artinya, “Letak ketidakpahaman terhadap-Nya karena logika kausalitas adalah bahwa jika diberi, mereka tidak bersyukur. Kalau pun bersyukur, rasa syukurnya kendur karena mereka memperhatikan sebab atas pemenuhan hajat mereka karena manusia biasanya lebih bahagia atas pemberian Allah tanpa memakai sebab dibanding sebuah pemberian-Nya dengan memakai sebab tertentu. Kalau tidak diberi, mereka tidak ridha. Kalau pun ridha karena tidak diberi, mereka tidak melihat pilihan Allah, tetapi melihat kelalaian diri mereka sebagai hamba Allah. Pandangan mereka seperti ini tidak sempurna. Tetapi yang dituntut dari mereka adalah seperti yang dikatakan oleh Syekh Ibnu Athaillah, yaitu “Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah wujud pernyataan kehambaan dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, halaman 141). Hikmah Syekh Ibnu Athaillah ini bukan sama sekali menyarankan kita untuk berhenti atau tidak berdoa. Hikmah ini membuka pandangan kita terhadap doa sebagai ikhtiar yang sama statusnya dengan bentuk ikhtiar manusiawi lainnya. Hikmah ini hanya mengingatkan kita untuk menggeser cara pandang kita terhadap doa. Hikmah ini mengajak kita untuk menyadari siapa diri kita di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu hikmah ini mendorong kita untuk tetap berdoa kepada Allah dalam kondisi apapun baik dalam menghadapi masalah yang signifikan maupun tidak, dalam kondisi berhajat maupun dalam kondisi cukup, sebagai bentuk kehambaan kita sebagai makhluk-Nya. ============================ لاَ يَــكُنْ تَــأَخُّرُ أَ مَدِ الْعَطَاءِ مَعَ اْلإِلْـحَـاحِ فيِ الدُّعَاءِ مُوْجِـبَاً لِـيَأْسِكَ؛ فَـهُـوَ ضَمِنَ لَـكَ اْلإِجَـابَـةَ فِيمَا يَـخْتَارُهُ لَـكَ لاَ فِيمَا تَـختَارُ لِـنَفْسِكَ؛ وَفيِ الْـوَقْتِ الَّـذِيْ يُرِ يـْدُ لاَ فيِ الْـوَقْتِ الَّذِي تُرِ يدُ “Janganlah karena keterlambatan datangnya pemberian-Nya kepadamu, saat engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkan engkau berputus asa; sebab Dia telah menjamin bagimu suatu ijabah (pengabulan doa) dalam apa-apa yang Dia pilihkan bagimu, bukan dalam apa-apa yang engkau pilih untuk dirimu; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki.” Syarah Doa adalah sebuah bentuk ibadah. Dan dalam Al-Quran, Allah memerintahkan kepada kita untuk berdoa kepada-Nya—dan Dia Ta’ala pasti kabulkan. وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” – Q.S. Al-Mu’min [40]: 60 Tanda seorang mukmin sejati adalah: lebih yakin dengan apa yang ada di Tangan Allah daripada apa yang dapat diusahakan oleh tangannya sendiri. Ketika doa yang kita panjatkan seolah tidak mendapat pengabulan dari Allah Ta’ala, disitu terdapat ruang pengetahuan yang kosong yang harus kita cari dan isi. Doa disini bukan hanya terkait masalah duniawi; tetapi juga termasuk dalam hal spiritual. Misalkan, kita berdoa agar diterima taubatnya dan dibersihkan dari segala dosa. Hakikatnya setiap doa yang kita panjatakan adalah sebuah refleksi dari objek yang telah Allah siapkan. Tidak serta merta kita menginginkan sesuatu di dalam hati, kecuali telah ada objeknya. Tanpa objek yang telah Allah sediakan, pada dasarnya setiap orang tidak akan punya keinginan untuk berdoa. Seperti ketika menginginkan sebuah makanan, karena baunya sudah tercium dari jauh. Hanya saja manusia kerap terjebak oleh ketidak-sabaran dan waham (kesalahan pemikiran) tentang dirinya sendiri. Seperti ketika seorang sahabat meminta kepada Rasulullah SAW agar berjodoh dengan seorang perempuan; maka jawaban Rasulullah SAW adalah: sekalipun dirinya dan seluruh malaikan memanjatkan doa maka bila itu bukan haknya dan tidak tertulis di Lauh Mahfudz pasti tidak akan terlaksana. Keinginannya untuk memiliki jodoh adalah sebuah isyarat akan objek yang telah Allah sediakan, tetapi keinginannya akan perempuan tertentu adalah karena syahwat dan wahamnya yang masih belum surut. Doa membutuhkan pengenalan (ma’rifah) akan Allah dan akan diri sendiri. Allah yang lebih tahu apa yang terbaik bagi makhluknya, lebih dari seorang ibu mengetahui kebutuhan bayinya. Alloh telah berjanji akan mengabulkan do’a. sesuai dengan firman-Nya,“Mintalah kamu semua kepada-Ku, Aku akan mengijabah do’amu semua”. dan Alloh berfirman, “Tuhanmulah yang menjadikan segala yang dikehendaki-Nya dan memilihnya sendiri, tidak ada hak bagi mereka untuk memilih.” Sebaiknya seorang hamba yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi mengakui kebodohan dirinya, sehingga tidak memilih sesuatu yang tampak baginya sepintas baik, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akibatnya. Karena itu bila Tuhan yang maha mengetahui, maha bijaksana memilihkan untuknya sesuatu, hendaknya rela dan menerima pilihan Tuhan yang Maha pengasih, Maha mengetahui dan Maha bijaksana. Walaupun pada lahirnya pahit dan menyakitkan rasanya, namun itulah yang terbaik baginya, karena itu bila berdoa, kemudian belum juga terkabulkan keinginannya, janganlah terburu-buru putus asa. Firman Allah: “Dan mungkin jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan mungkin jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [QS. al-Baqarah 216]. Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily radhiallahu ‘anhu ketika mengartikan ayat ini:”Sungguh telah diterima do’amu berdua [Musa dan Harun alaihissalam] yaitu tentang kebinasaan Fir’aun dan tentaranya, maka hendaklah kamu berdua tetap istiqamah [sabar dalam melanjutkan perjuangan dan terus berdo’a], dan jangan mengikuti jejak orang-orang yang tidak mengerti [kekuasaan dan kebijaksanaan Allah].” [QS. Yunus 89]. Maka terlaksananya kebinasaan Fir’aun yang berarti setelah diterima do’a Nabi Musa dan Harun alaihissalam selama/sesudah 40 tahun lamanya. Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pasti akan dikabulkan do’amu selama tidak terburu-buru serta mengatakan, aku telah berdo’a dan tidak diterima.” Anas rodhiallohu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada orang berdoa, melainkan pasti diterima oleh Allah doanya, atau dihindarkan dari padanya bahaya, atau diampuni sebagian dosanya, selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa atau untuk memutus silaturrahim. Syeih Abu Abbas al-Mursi ketika ia sakit, datang seseorang membesuknya dan berkata: Semoga Alloh menyembuhkanmu [Afakallohu]. Abu Abbas terdiam dan tidak menjawab. Kemudian orang itu berkata lagi: Alloh yu’aafika. Maka Abu Abbas menjawab: Apakah kamu mengira aku tidak memohon kesehatan kepada Alloh? Sungguh aku telah memohon kesehatan dan penderitaanku ini termasuk kesehatan, ketahuilah Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam memohon kesehatan dan ia berkata: “Selalu bekas makanan khaibar itu terasa olehku, dan kini masa putusnya urat jantungku.” Abu Bakar as-Siddiq memohon kesehatan dan meninggal terkena racun. Umar bin Khottob memohon kesehatan dan meninggal dalam keadaan terbunuh. Usman bin Affan memohon kesehatan dan juga meninggal dalam keadaan terbunuh. Ali bin Abi Tholib memohon kesehatan dan juga meninggal dalam keadaan terbunuh. Maka bila engkau memohon kesehatan kepada Alloh, mohonlah menurut apa yang telah ditentukan oleh Alloh untukmu, maka sebaik-baik seorang hamba ialah yang menyerahkan segala sesuatunya menurut kehendak Tuhannya, dan meyakini bahwa apa yang diberikan Tuhan kepadanya, itulah yang terbaik walaupun tidak sejalan dengan nafsu syahwatnya. Dan syarat utama untuk diterimanya doa ialah keadaan terpaksa/kesulitan. Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Bukankah Dia [Alloh] yang memperkenankan [do’a] orang yang dalam kesulitan apabila dia berdo’a kepada-Nya…” [QS. an-Naml 62]. Keadaan terpaksa atau kesulitan itu, apabila merasa tidak ada sesuatu yang di harapkan selain semata-mata karunia Allah subhanahu wata’ala, tidak ada yang dapat membantu lagi baik dari luar berupa orang dan benda atau dari dalam diri sendiri. Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda: لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الاِسْتِعْجَالُ قَالَ: يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِى فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ “Doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan, selama dia berdo’a bukan untuk keburukan atau memutus tali silaturahim dan selama dia tidak tergesa-gesa dalam berdo’a. Kemudian seseorang bertanya, ‘Ya Rasulallah, apa yang dimaksud tergesa-gesa dalam berdo’a ?’. Kemudian Rasulullah menjawab, yaitu seseorang yang berkata, ‘Sungguh aku telah berdo’a dan berdo’a, namun tak juga aku melihat do’aku dikabulkan’, lalu dia merasa jenuh dan meninggalkan do’a tersebut”. (HR Muslim) Pemahaman bahwa setiap doa pasti dikabulkan oleh Allah yang bersumber pada pemahan terhadap surat Al-Mu’min, ayat 60, di dalam Al-Quran, yang berbunyiٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ, perlu diperbaiki. Terjemahan ayat ini bermasalah jika berbunyi: “Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” Letak permasalahannya adalah pada penyertaan kata “niscaya”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (kbbi.kemdikbud.go.id), kata tersebut memiliki persamaan makna dengan kata “pasti”. Oleh karena secara faktual tidak setiap doa pasti dikabulkan oleh Allah, maka ayat tersebut cukup diterjemahkan: “Berdoalah kalian kepada-Ku, Aku akan mengabulkan permohonan kalian.”