Sabtu, 17 April 2021

SHALAT TARAWIH / TAROWEH

Orang yang pertama kali mengumpulkan orang-orang muslim untuk melakukan salat tarawih secara berjamaah dengan hitungan 20 rakaat adalah Khalifah Umar bin Khattab ra. dan disetujui oleh para sahabat Nabi pada waktu itu. Kegiatan tersebut berlangsung pada masa pemerintahan Khalifah Usman dan Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Kegiatan salat tarawih secara berjamaah seperti ini terkait sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ
“Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari al-Khulafaur Rasyidin”.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. bahkan menambah jumlah rakaatnya menjadi 36 (tiga puluh enam) rakaat. Tambahan ini beliau maksudkan untuk menyamakan dengan keutamaan dan pahala penduduk Makkah yang setiap kali selesai melakukan salat empat rakaat, mereka melakukan thawaf. Jadi Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. melakukan salat empat rakaat sebagai ganti dari satu kali thawaf agar dapat memperoleh pahala dan ganjaran berimbang.
Berdasarkan sunnah dari Khalifah Umar bin Khattab tersebut, maka :
1. Menurut madzhab Hanafi, Syafii dan Hambali, jumlah salat tarawih adalah 20 rakaat selain salat witir.
2. Menurut madzhab Maliki, jumlah salat tarawih adalah 36 (tigapuluh enam) rakaat, karena mengikuti sunnah dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz.


Adapun orang yang melakukan salat tarawih 8 (delapan) rakaat dengan witir 3 (tiga) rakaat, adalah mengikuti hadits yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah yang berbunyi sebagai berikut:
َما كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزِيْدُ فِى رَمَضَــــانَ وَلاَ فِى غَــيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشَرَةَ رََكْعَةً ، يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْـاَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْــاَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَــلِّى ثَلاَثًا ، فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ اَنْ تُوْتِرَ ؟ فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامُ وَلاَ يَـــــنَامُ قَلْبِى . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .
“Tiadalah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan lainnya atas sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga rakaat. Kemudian aku (Aisyah) bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah Tuan tidur sebelum salat witir?” Beliau bersabda, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku tidak tidur.”

Syekh Muhammad bin ‘Allan dalam kitab “Dalilul Falihin” jilid III halaman 659 menerangkan bahwa hadits di atas adalah hadits tentang salat witir, karena salat witir itu paling banyak hanya sebelas rakaat, tidak boleh lebih. Hal itu terlihat dari ucapan Aisyah bahwa Nabi saw. tidak menambah salat, baik pada bulan Ramadlan atau lainnya melebihi sebelas rakaat. Sedangkan salat tarawih atau “qiyamu Ramadlan” hanya ada pada bulan Ramadhan saja.

Ucapan Aisyah “beliau salat empat rakaat dan Anda jangan bertanya tentang kebagusan dan panjangnya”, tidaklah berarti bahwa beliau melakukan salat empat rakaat dengan satu kali salam. Sebab dalam hadits yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra. Nabi bersabda:
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَاَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ .
“Salat malam itu (dilakukan) dua rakaat dua rakaat, dan jika kamu khawatir akan subuh, salatlah witir satu rakaat”.
Dalam hadits lain yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim, Ibnu Umar juga berkata :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَ يُوْتِرُ بِرَكْعَةٍ .
“Adalah Nabi saw. melakukan salat dari waktu malam dua rakaat dua rakaat, dan melakukan witir dengan satu rakaat”.


Pada masa Rasulullah saw. dan masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, salat tarawih dilaksanakan pada waktu tengah malam, namanya bukan salat tarawih, melainkan “qiyamu Ramadlan” (salat pada malam bulan Ramadlan). Nama “tarawih” diambil dari arti “istirahat” yang dilakukan setelah melakukan salat empat rakaat. Disamping itu perlu diketahui, bahwa pelaksanaan salat tarawih di Masjid al-Haram, Makkah adalah 20 rakaat dengan dua rakaat satu salam.
shalat tarawih berjamaah

Almarhum K.H. Ali Ma’sum Krapyak, Yogyakarta dalam bukunya berjudul “Hujjatu Ahlis Sunnah Wal Jamaah” halaman 24 dan 40 menerangkan tentang “Salat Tarawih” yang artinya kurang lebih sebagai berikut:



Salat tarawih, meskipun dalam hal ini terdapat perbedaan, sepatutnya tidak boleh ada saling mengingkari terhadap kepentingannya. Salat tarawih menurut kami, orang-orang yang bermadzhab Syafii, bahkan dalam madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah 20 rakaat. Salat tarawih hukumnya adalah sunnah muakkad bagi setiap laki-laki dan wanita, menurut madzhab Hanafi, Syafii, Hambali, dan Maliki.

* Menurut madzhab Syafii dan Hambali, salat tarawih disunnahkan untuk dilakukan secara berjamaah. Madzhab Maliki berpendapat bahwa berjamaah dalam salat tarawih hukumnya mandub (derajatnya di bawah sunnah), sedang madzhab Hanafi berpendapat bahwa berjamaah dalam salat tarawih hukumnya sunnah kifayah bagi penduduk kampung. Dengan demikian apabila ada sebagian dari penduduk kampung tersebut telah melaksanakan dengan berjamaah, maka lainnya gugur dari tuntutan.
* Para imam madzhab telah menetapkan kesunnahan salat tarawih berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits sebagai berikut:


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ لَيَالِيَ مِنْ رَمَضَانَ وَهِيَ ثَلاَثٌ مُتَفَرِّقَةٌ لَيْلَةُ الثَّالِثِ وَالْخَامِسِ وَالسّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ وَصَلَّى فِى الْمَسْجِدِ وَصَلَّى النَّاسُ بِصَلاَتِهِ فِيْهَا ، وَكَانَ يُصَلِّى بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ أَيْ بِأَرْبَعِ تَسْلِيْمَاتٍ كَمَا سَيَأْتِى وَيُكَمِّلُوْنَ بَاقِيَهَا فِى بُيُوْتِــــهِمْ أَيْ حَتَّى تَتِــــمَّ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً لِمَا يَأْتِى ، فَكَانَ يُسْمَعُ لَهُمْ أَزِيْزٌ كَأَزِيْزِ النَّحْلِ .
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam keluar pada waktu tengah malam pada bulan Ramadlan, yaitu pada tiga malam yang terpisah: malam tanggal 23, 25, dan 27. Beliau salat di masjid dan orang-orang salat seperti salat beliau di masjid. Beliau salat dengan mereka delapan rakaat, artinya dengan empat kali salam sebagaimana keterangan mendatang, dan mereka menyempurnakan salat tersebut di rumah-rumah mereka, artinya sehingga salat tersebut sempurna 20 rakaat menurut keterangan mendatang. Dari mereka itu terdengar suara seperti suara lebah”.
Dari hadits ini jelaslah bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah mensunnahkan salat tarawih dan berjamaah. Akan tetapi beliau tidak melakukan salat dengan para sahabat sebanyak 20 rakaat sebagaimana amalan yang berlaku sejak zaman sahabat dan orang-orang sesudah mereka sampai sekarang.
Telah diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah ra. bahwa Nabi Muhammad saw. keluar sesudah tengah malam pada bulan Ramadlan dan beliau melakukan salat di masjid. Para sahabat lalu melakukan salat dengan beliau. Pada pagi harinya para sahabat memperbincangkan salat mereka dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sehingga pada malam kedua orang bertambah banyak. Kemudian Nabi saw. melakukan salat dan orang-orang melakukan salat dengan beliau. Pada malam ketiga tatkala orang-orang bertambah banyak sehingga masjid tidak mampu menampung para jamaah, Rasulullah saw. tidak keluar untuk jamaah, hingga beliau keluar untuk melakukan salat subuh. Setelah salat subuh, beliau menemui para jamaah dan bersabda, “Sesungguhnya tidaklah dikhawatirkan atas kepentingan kalian tadi malam; akan tetapi aku takut apabila salat malam itu diwajibkan atas kamu sekalian, sehingga kalian tidak mampu melaksanakannya!”.
Setelah Rasulullah saw wafat keadaan berjalan demikian sampai pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan permulaan kekhalifahan Umar bin Khattab ra. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. beliau mengumpulkan orang-orang laki-laki untuk berjamaah salat tarawih dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab dan orang-orang perempuan berjamaah dengan diimami oleh Usman bin Khatsamah. Oleh karena itu Khalifah Usman bin Affan berkata pada masa pemerintahan beliau, “Semoga Allah menerangi kubur Umar sebagaimana Umar telah menerangi masjid-masjid kita”.
Dari hadits Bukhari Muslim di atas menjadi jelas, bahwa jumlah salat tarawih yang mereka lakukan tidak terbatas hanya delapan rakaat, dengan bukti bahwa mereka menyempurnakannya di rumah-rumah mereka. Sedangkan pekerjaan Khalifah Umar ra. telah menjelaskan bahwa jumlah rakaatnya adalah 20, pada saat Umar ra. mengumpulkan orang-orang di masjid dan para sahabat menyetujuinya tak seorangpun dari para Khulafa’ur Rasyidun yang berbeda dengan Umar, sebab mereka tahu bahwa tentulah Umar menetapkan dua puluh rakaat ini diambil dari apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Mereka terus menerus melakukan salat tarawih secara berjamaah sebanyak 20 rakaat. Makanya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ. رَوَاهُ أَبُوْدَاوُدَ
“Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari al-Khulafa ar-Rasyidun yang telah mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah tersebut dengan gigi geraham (berpegang teguhlah kamu sekalian pada sunnah-sunnah tersebut). HR Abu Dawud
Sebab Nabi shallallahu alaihi wa sallam paham betul bahwa sahabatlah orang yang paling tahu tentangnya dan paling mengikutinya.
Nabi Muhammad saw. juga bersabda sebagai berikut:
اِقْتَدُوْا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِى أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ
“Ikutlah kamu sekalian dengan kedua orang ini sesudah aku mangkat, yaitu Abu Bakar dan Umar”. HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.
Imam Abu Hanifah telah ditanya tentang apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra. Beliau menjelaskan, “Salat tarawih adalah sunnah muakkadah. Umar ra. tidak menentukan bilangan 20 rakaat tersebut dari kehendaknya sendiri. Dalam hal ini beliau bukanlah orang yang berbuat bid’ah. Beliau tidak memerintahkan salat 20 rakaat, kecuali berasal dari sumber pokoknya yaitu dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”
أَصْحَابِى كَالنُّجُوْمِ بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمْ اِهْتَدَيْتُمْ.
“Para sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang di langit. Dengan siapa saja dari mereka kamu ikuti, maka kamu akan mendapatkan petunjuk”.

Memang, pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ra. yang pada waktu itu beliau mengikuti orang Madinah, bilangan salat tarawih ditambah dan dijadikan 36 rakaat. Akan tetapi tambahan tersebut dimaksudkan untuk menyamakan keutamaan dengan penduduk Makkah; karena penduduk Makkah melakukan thawaf di Baitullah satu kali sesudah salat empat rakaat dengan dua kali salam. Maka Umar bin Abdul Aziz ra. yang pada waktu itu mengimami para jamaah berpendapat untuk melakukan salat empat rakaat dengan dua kali salam sebagai ganti dari thawaf.
Ini adalah dalil dari kebenaran ijtihad dari para ulama dalam menambahi ibadah yang telah disyariatkan. Sama sekali tidak perlu diragukan bahwa setiap orang diperbolehkan untuk melakukan salat sunnah semampu mungkin pada waktu malam atau siang hari, kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk melakukan salat.
Wallahu a’lam

Disarikan dari makalah Drs. K.H. Achmad Masduqi Machfudh

ASAL USUL SHALAT TARAWIH.
Assalamualaikum wr.wb.
Tarawih (bukan tarawikh) ialah kalimah
jamak (plural) dari kata 'tarwihah'. Menurut
kamus ialah duduk istirehat, maka solat
tarawih ialah solat yg diselangseli dgn rehat.
(al Mu'jam alWasit, Dar alFikr: 1/380)
Menurut istilah agama pula, solat tarawih
ialah solat sunat malam hari yg khusus
dilakukan pd malam Bulan Ramadhan,
dilakukan selepas solat Isya'.
Istilah solat tarawikh ini tidak ujud pd zaman
Nabawi dan kalau kata Nabi saw tidak pernah
solat tarawih pun boleh diterima (secara
humor).
Solat tarawih hari ini dikenali dgn solat sunat
Qiyam Ramadhan di zaman Nabawi (Imam al
Bukhari, alSahih, 1/342)
Istilah solat tarawih ini dikatakan berasal dari
isteri baginda, Aisyah ra.
"Nabi saw solat malam empat raka'at,
kemudian yatarawwah (berihat), kemudian
menyambung solat lagi (dgn lama
kadarnya)." (asySyun'ani, Subulus Salam: 1/11,
Darul Fikr)
A'isyah r.a berkata: Rasulullah s.a.w selalu
menganjurkan supaya sembahyang pada
malam bulan Ramadhan tanpa mewajibkan
atas mereka sehingga meninggal Rasulullah
s.a.w. dan keadaan-nya sedemikian pula
dimasa khilafah Abubakar r.a dan permulaan
khilafah Umar r.a. Tetapi kemudian Umar r.a
mengumpulkan orang orang supaya
sembahyang jama'ah dengan imam Ubay bin
Ka'ab r.a.(HR Bukhari)
Berkaitan hal tersebut Abul-Laits
meriwayatkan dengan sanad ayahnya dari Ali
bin Thalib r.a berkata: Sebenarnya Umar bin
Alkhatthab r.a mengadakan jama'ah
sembahyang tarawih itu karena hadits yang
dia dengar daripadaku. Mereka bertanya: Ya
Amiralmu'minin apakah hadits itu? Jawab Ali
r.a: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w
bersabda:
"Sesungguhnya disekitar Arsy ada tempat
bernama Hadhiratul Qudsy dari nur (cahaya)
disitu banyak malaikat yang tidak terhitung
banyaknya kecuali Allah sendiri yang
mengetahuinya, mereka beribadat tidak
berhenti henti walau sesaatpun, maka bila
tiba malam Ramadhan mereka minta izin
kepada Allah untuk turun ke bumi dan
beribadat bersama anak Adam, maka turun
mereka tiap malam kebumi untuk
sembahyang bersama anak Adam, maka siapa
yang disentuh oleh mereka (malaikat) atau
menyentuh mereka berarti ia telah mendapat
bahagia yang tidak akan menderita
kesusahan atau celaka untuk selamanya".
Umar r.a ketika mendengar keterangan hadits
itu lalu berkata: Kamilah yang berhak untuk
itu, lalu ia mengumpulkan orang orang untuk
melakukan sembahyang tarawih dan
meneggakan-nya.
Ali bin Abi Thalib r.a. keluar pada suatu malam
di bulan Ramadhan maka ia mendengar
bacaan Al-Quran di mesjid mesjid, maka Ali r.a
berdoa:
"Semoga Allah menerangi kubur Umar
sebagaimana ia telah menerangi mesjid
mesjid kami dengan darusan (bacaan Al-
Qur'an)".
Barang siapa dia qiyamuL Romadhon dengan
Iman dan mengharap ridho Alloh maka akan
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR
Bukhori)
Imam Ash Shon’aniy dalam Subulussalam
berkata, ampunan dosa yang dijanjikan dalam
hadits diatas hanya akan diberikan apabila
kita menjalankan qiyamur Romadhon sebulan
penuh. Qiyamur Romadhon atau yang lebih
dikenal dengan sholat tarawih adalah sebuah
ibadah yang hanya dilakukan di dalam bulan
romadhon saja.
Nabi Muhammad Saw dalam hadits diatas
memberikan garansi ampunan dari dosa-
dosa yang telah lalu, apabila kita dapat
mengerjakannya dengan penuh keimanan
kepada Alloh disertai dengan hanya
mengharapkan ridhonya semata. Imam
Muhyiddin An Nawawi mengatakan bahwa
dosa yang akan mendapat maghfiroh dari
Alloh swt adalah dosa-dosa kecil yang
bersangkutan dengan haqqulloh, adapun
dosa-dosa besar dan yang bersangkutan
dengan haqqul adam maka disyaratkan
taubat dan memohon maaf kepada yang
bersangkutan.
Lalu berapa rekaatkah sholat tarawih yang
sesuai tuntunan Nabi Saw ?
Para pakar hadits berbeda pendapat tentang
bilangan rekaat dalam sholat tarawih, sebab
apabila merunut pada hadits di atas, Nabi
Saw tidak memberikan batasan khusus
tentang bilangan rekaat tarawih.
Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam kitabnya
Risalah At Tarawih dengan sangat radikal
mengatakan bahwa sholat tarawih lebih dari
sebelas rekaat seperti melaksanakan sholat
dzuhur lima rekaat, mafhumnya menurut al
albani melakukan sholat tarawih lebih dari
sebelas rekaat hukumnya haram,
sebagaimana haramnya melakukan sholat
dzuhur lima rekaat dan dianggap bid’ah.
Padahal ulama-ulama sholih pada zaman
dahulu tidak ada satupun yang saling cemooh
masalah bilangan rekaat tarwih ini meskipun
mereka berbeda pendapat. Imam Syafi’i
misalnya beliau lebih menyukai sholat tarawih
20 rekaat, namun tidak ada kesempitan bagi
orang yang menjalankannya diluar 20 rekaat
itu. (ungkapan ini dapat dilihat dalam Fathul
Bari Karya Ibnu Hajjar Al Asqolaniy)
bilangan roka,at boleh 20 boleh kurang dari 20. Demikianlah ulasan asal usul tarowih

Wallahu a,lam bis Showab.

RAKAAT SHALAT TARAWIH

Shalat Tarawih hukumnya sangat disunnahkan (sunnah muakkadah), lebih utama berjama'ah. Demikian pendapat masyhur yang disampaikann oleh para sahabat dan ulama, namun begitu boleh dilaksanakan sendiri.

Ada beberapa pendapat tentang raka'at shalat Tarawih; ada pendapat yang mengatakan bahwa yaitu boleh dikerjakan dengan 8, 20 atau 36 raka'at.

Pangkal perbedaan awal dalam masalah jumlah raka'at shalat Tarawih adalah pada sebuah pertanyaan mendasar.
Yaitu apakah shalat Tarawih itu "sama" dengan shalat malam atau keduanya adalah jenis shalat sendiri-sendiri?

Mereka yang menganggap keduanya adalah "sama", biasanya-akan mengatakan bahwa jumlah bilangan shalat Tawarih dan Witir itu 11 raka'at.

Adapun mereka yang melakukan salat tarawih 8 rakaat dengan witir 3 rakaat, "bersandar" hadits yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah :

"Tiadalah Rasulullah menambah pada bulan Ramadlan dan tdk pula pada bulan lainnya atas sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya

Kemudian beliau salat tiga rakaat. Kemudian aku (Aisyah) bertanya, "Wahai Rasulullah, adakah Tuan tidur sebelum salat witir?" Beliau bersabda, "Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku tidak tidur."

(Hr Bukhari)

Dalam kitab "Dalilul Falihin" menerangkan bahwa hadits di atas adalah hadits tentang "Shalat Witir" karena salat witir itu paling banyak hanya sebelas rakaat, tidak boleh lebih. Hal itu terlihat dari ucapan Aisyah bahwa Nabi saw. tidak menambah salat,

baik pada bulan Ramadlan atau lainnya melebihi sebelas rakaat. Sedangkan salat tarawih atau "Qiyamu Ramadan" hanya ada pada bulan Ramadlan saja.

Perhatikan : "Ucapan Aisyah "Beliau (Nabi) shalat empat rakaat dan Anda jangan bertanya tentang kebagusan dan panjangnya",

tidaklah berarti bahwa beliau melakukan shalat empat rakaat dengan satu kali salam. Sebab dalam hadits yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, Nabi bersabda :

صلاة الليل مثنى مثنى ، فإذا خفت الصبح فاوتر بواحدة

"Salat malam itu (dilakukan) dua rakaat dua rakaat, dan jika kamu khawatir akan subuh, salatlah witir satu rakaat".
Dalam hadits lain yang juga disepakati kesahihannya, Ibnu Umar juga berkata :

"Adalah Nabi saw. melakukan salat dari waktu malam dua rakaat dua rakaat, dan melakukan witir dengan satu rakaat".

(متفق عليه)

Pada masa Rasulullah dan masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, salat tarawih dilaksanakan pada waktu tengah malam, dan namanya bukan shalat taraweh, melainkan "Qiyamu Ramadlan" (salat pada malam bulan Ramadlan).

Nama "tarawih" diambil dari arti "istirahat" yang dilakukan setelah melakukan salat empat rakaat. Disamping itu perlu diketahui, bahwa pelaksanaan salat tarawih di Masjidil Haram, Makkah pada "masa itu" adalah 20 rakaat dengan dua rakaat satu salam.

Lalu Khalifah Umar bin 'Abdul Aziz ber- ijtihad menambah raka'at shalat Tarawih menjadi 36 raka'at bagi orang di luar kota Makkah agar "menyamai pahala Tarawihahli makkah".

Atau shalat Tarawih 20 raka'at dan Witir 3 raka'at menjadi 23 raka'at. Sebab 11 rakaat itu adalah jumlah bilangan rakaat shalat malamnya (witir) Rasulullah bersama sahabat dan setelah itu Beliau menyempurnakan shalat malam (Qiyamul Ramadhan / Terawih) di rumahnya.

Sebagaimana Hadits Nabi :

"Rasulullah keluar untuk shalat malam di bulan Ramadan sebanyak 3 tahap, malam ke 3, ke 5 dan ke 27 untuk shalat bersama umat di masjid, Rasulullah shalat 8 raka'at dan kemudian mereka menyempurnakan sisa shalatnya di rumah masing2.

(Hr Bukhari, Muslim).
Para imam madzhab telah menetapkan kesunnahan shalat tarawih berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad SAW.

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits sebagai berikut :

"Nabi keluar pada waktu tengah malam pada bulan Ramadlan, yaitu pada tiga malam yang terpisah:

malam tanggal 23, 25, dan 27. Beliau salat di masjid dan orang-orang salat seperti salat beliau di masjid. Beliau salat dengan mereka delapan rakaat, artinya dengan empat kali salam sebagaimana keterangan mendatang, dan mereka menyempurnakan salat tersebut di rumah-rumah mereka,

artinya sehingga salat tersebut sempurna 20 rakaat menurut keterangan mendatang. Dari mereka itu terdengar suara seperti suara lebah".

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah shalat Tarawih di bulan Ramadhan sendirian sebanyak 20 Rakaat ditambah Witir.

(Hr Baihaqi,Thabrani).

Ahli hadist dan fiqih, Ibnu Hajar menyatakan bahwa Rasulullah shalat bersama kaum muslimin sebanyak 20 rakaat di malam Ramadhan. Ketika tiba di malam ketiga, orang-orang berkumpul, namun Rasulullah tidak keluar. Kemudian paginya beliau bersabda:

خشيْت ان تفرض عليكم فلا تطيقونها

"Aku takut kalau-kalau tarawih diwajibkan atas kalian, kalian tidak akan mampu melaksanakannya."

Hadits ini disepakati kesahihannya dan tanpa mengesampingkan hadits lain yang diriwayatkan Aisyah yang "Tidak menyebutkan rakaatnya".

Disebutkan dalam kitab Sahih Bukhari : "Dari Abdurrahman bin Abdul Qarai, beliau berkata : Saya keluar bersama Sayidina 'Umar (Khalifah) pada suatu malam bulan Ramadhan pergi ke mesjid (Medinah). Didapati dalam mesjid orang-orang shalat tarawih berpisah-pisah.

Ada orang yg sembahyang sendiri ­sendiri, ada orang yg shalat dan ada beberapa orang di bela­kangnya, maka Sayidina Umar berkata : “Saya berpendapat akan memper­satukan orang-orang ini. Kalau disatukan dgn seorang Imam sesungguhnya lebih baik, lebih serupa dgn shalat Rasulullah”

Maka dipersatukan orang-orang itu shalat di belakang seorang Imam namanya Ubal bin Ka'ab. Kemudian pada satu malam kami datang lagi ke mesjid, lantas kami melihat orang2 shalat bersama-sama di belakang seorang Imam. Sayidina Umar berkata : “Ini adalah bid'ah yg baik”

(Hr Bukhari)

Sebagai catatan : Abdurrahman bin Abdul Qarai yang meriwayatkan perbuatan Sayidina Umar ini adalah seorang Tabi'in yang lahir ketika Nabi masih hidup. Beliau adalah murid Sayidina Umar bin Khathab, (wafat 81 H).

Nampak dalam hadits ini bahwa Khalifah yang kedua Umar bin Khathab memerintahkan agar shalat tarawih dikerjakan dengan berjamaah, tidak scorang-seorang saja. Dan beliau berpendapat bahwa hal itu adalah "bid'ah yg baik".

Dalamal Muwatha', karya Imam Malik (beliau bertemu dan melihat lngsung tata cara ibadah anak cucu sahabat ra) meriwayatkan begini : Dari Malik dari Yazid bin Ruman, ia berkata : "Adalah manusia mendirikan shalat pada zaman Umar bin Khathab sebanyak 23 raka'at."

(Hr Imam Malik)

Jelaslah bahwa sahabat-sahabat Nabi ketika itu diperintah oleh Sayidina Umar untuk mengerjakan shalat sebanyak 23 raka'at, yaitu 20 raka'at shalat tarawih dan 3 raka'at shalat witir sesudah shalat tarawih.

Disebutkan Imam Baihaqi : "Bahwasanya mrk (sahabat2) Nabi, mendirikan shalat (tarawih) dalam bulan Ramadhan pada zaman Umar bin Khathab dgn 20 raka'at.

Nampaklah dalam keterangan ini bahwá para sahabati telah (sepakat) mendirikan salat tarawih pada masa Umar sebanyak 20 raka'at.
IIjma' (kesepatan) sahabat-sahabat Nabi saw menurut ushul fiqih adalah hujah yakni dalil syariat. Inilah pokok pangkal hitungan raka'at shalat tarawih.

Inilah "Ijtihad" Sayidina Umar yang memerintahkan 20 raka'at untuk shalat sunnah tarawih,

ini berarti bahwa beliau mengetahui bahwa banyaknya shalat tarawih Nabi, baik di mesjid atau di rumah sebanyak 20 raka'at. Kalau tidak tentu Sayyidina Umar tidak akan memerintahkan begitu, Ini namanya riwayat hadits dengan perbuatan.

Kita ummat Islam disuruh oleh Nabi mengikuti Sayidina Abu Bakar dan Umar. Nabi berkata :

قتدوا باللذين من بعدى ابى بكر وعمر .

"Ikutilah dua orang sesudah ku: yaitu Abu Bakar dan Umar".

(Hr Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Dan dalam sebuah hadits ummat Islam diperintah oleh Nabi supaya mengikut Khalifah-khalifah, jadi sangat jelas atas apa yg dilakukan Umar ra dalam rakaat Tarawih adalah sebuah perintah dalam hal "KE-SUNNAHAN" yang jelas pijakkanya perintah dari Rasulullah.

dalam riwayat Bukhari ada hadist dari Irbad bin Saariya :

ععليكم بسنتي وسنّة الخلفاء الرّاشدين المهديين بعدي عضوا عليْها بالنواجذ

"Wajib atasmu berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang terpetunjuk sesudahku. Maka peganglah kuat-kuat dengan gerahammu".
Siapa Umar bin Khatab? beliau salah satu dari Khulafaurrasyidin yang didebut dalam hadist tersebut !.

Dapat diambil kesimpulan dari dalil-dalil di atas, bahwa hitungan raka'at shalat tarawih adalah 20 raka'at, dan shalat witir adalah 3 raka'at, jumlahnya 23 raka'at.

Barang siapa yang tidak mengerjakan shalat tarawih 20 raka'at maka ia belum dinamai melaksanakan shalat tarawih, dan belum mengikuti jejak Sayidina Umar bin Khathab. Khalilatur-rasyidin yang kita semuanya disuruh Nabi mengikut beliau.

Jumlah Raka'at Shalat Tarawih Menurut Ulama salaf:

1. Imam Hanafi

Sebagaimana dikatakan Imam Hanafi dalam kitab Fathul Qadir bahwa Disunnahkan kaum muslimin berkumpul pada bulan Ramadhan sesudah Isya', lalu mereka shalat bersama imamnya lima Tarawih (istirahat),

setiap istirahat dua salam, atau dua istirahat mereka duduk sepanjang istirahat, kemudian mereka witir (ganjil). Walhasil, bahwa bilangan rakaatnya 20 rakaat selain witir jumlahnya 5 istirahat dan setiap istirahat dua salam dan setiap salam dua rakaat = 2 x 2 x 5 = 20 rakaat.

2. Imam Malik yang bertemu dan melihat langsung tata cara "ibadah" anak cucu Sahabat Rasulullah di Madinah sudah dijelaskan di "atas".

3. Imam Syafi dalam al Umm, "bahwa shalat malam bulan Ramadhan itu, secara sendirian itu lebih aku sukai, dan saya melihat umat di madinah melaksanakan 39 rakaat, tetapi saya lebih suka 20 rakaat, karena itu diriwayatkan dari Umar bin Khattab.

Demikian pula umat melakukannya di makkah dan mereka witir 3 rakaat.

4. Imam Ahmad . Adapun beliau bersepakat dengan riwayat Umar bin Khatab yg sudah dijelaskan di atas.

Shalat di Masjidil Haram, Makah. Di sana, 23 rakaat diselesaikan dalam waktu kira² 90-120 menit.

Surat yg dibaca imam ialah ayat -ayat suci Al-Qur'an dari awal, terus berurutan menuju akhir al Qur'an. Setiap malam harus diselesaikan kira² 1 juz lebih, dengan diperkirakan pada tanggal 29 Ramadhan (dulu setiap tanggal 27 Ramadhan) sudah khatam.

Pada malam ke 29 Ramadhan itulah ada tradisi khataman al Qur'an dalam shalat Tarawih di Masjidil Haram.

Dan terpapar di kitab Shalat al Tarawih fi Masjid al Haram bahwashalat Tarawih di Masjidil Haram sejak masa Rasulullah, Abu Bakar,Umar, Usman, dan seterusnya sampai sekarang
selalu dilakukan 20 rakaatdan 3 rakaat Witir.

Pada kesimpulannya, bahwa pendapat yg "unggul" tentang jumlah raka'at shalat tarawih adalah 20 + 3 raka'at witir. Akan tetapi jika ada yg melaksanakan shalat tarawih 8 + 3 withir jumlahnya 11 raka'at tidak berarti menyalahi Islam.
Sebab perbedaan ini hanya masalah furu'iyyah (cabang) bukan masalah aqidah tidak perlu dipertentangkan.

Hanya saja terlihat siapa yang sebenarnya ikut Salafus shalih yang sebenarnya.

والله اعلم