Alkisah seorang raja di negeri
Antahberantah ingin berkeliling kerajaannya, ia memutuskan untuk berjalan kaki
saja agar setiap jengkal kehidupan rakyat di kerajaannya dapat ia ketahui
dengan mata kepalanya sendiri. Baru
beberapa meter ia berjalan di luar istana, kakinya terluka karena tersandung
batu sang raja yang biasa berjalan dalam istana yang berlapis karpet merah nan
halus sangat marah dan kecewa. Maka raja segera memanggil Menteri PU dan
memerintahkan agar seluruh jalan-jalan di kerajaan ini harus dilapisi dengan
beludru dan kulit sapi agar sang raja tidak tersandung batu untuk yang kedua
kalinya. Segera saja segenap jajaran menteri pekerjaan umum melakukan persiapan
persiapan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negeri ini dengan kulit sapi
agar halus dan indah bila dilewati sang raja.
Ditengah kesibukan yang luar biasa untuk mengumpulkan beribu-ribu kulit
sapi untuk melapisi jalan di seluruh kerajaan, datanglah seorang pengembala
sapi menghadap sang raja, ia berkata ”Wahai paduka, untuk apa paduka menugaskan
segenap jajaran menteri PU di negeri ini agar melapisi seluruh jalanan dengan
kulit sapi, yang akhirnya kerajaan harus mengorbankan sekian banyak sapi.
Padahal yang paduka butuhkan sebenarnya hanya sepotong kulit sapi untuk
melapisi kedua telapak kaki paduka agar tidak terantuk batu dan kerikil di
jalanan”
Konon sejak saat itulah dunia menemukan kulit untuk melapisi kaki yang
kemudian disebut Sepatu...... (gitu kali)
RENUNGAN :
Untuk mengubah dunia menjadi tempat yang nyaman,
kita tidak harus merubah semua yang ada di sekitar kita agar sesuai dengan yang
kita mau (Orang yang semuanya harus sesuai dengan keinginannya, tidak perlu
Tuhan) kadangkala kita harus mengubah cara pkamung kita, hati kita dan diri
kita sendiri (bukan orang lain)
Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan
kehidupan dunia ini. Dunia, dalam pikiran kita kadng hanya berupa satu bentuk
personal. Dunia, kita artikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah
kita sendiri, kita tentukan sendiri bagai mana awal dan endingnya kita atur
sendiri siapa senang siapa dan siapa dibenci siapa dan seterusnya.
Ya,... memang jalan kehidupan yang kita tempuh
masih terjal banyak onak duri dan batu dimana-mana. Lalu manakah yang kita
pilih, mencurahkan segala daya tenaga dan fikiran untuk melapisi jalan-jalan
itu dengan permadani agar kaki kita tidak lecet karenanya, atau melapisi diri
dan hati kita dengan sepatu kulit agar kita dapat bertahan melalui jalan
terjalnya dunia ini ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.