Jumat, 11 Mei 2012

Sepatu hidupmu


Alkisah seorang raja di negeri Antahberantah ingin berkeliling kerajaannya, ia memutuskan untuk berjalan kaki saja agar setiap jengkal kehidupan rakyat di kerajaannya dapat ia ketahui dengan mata kepalanya sendiri. Baru beberapa meter ia berjalan di luar istana, kakinya terluka karena tersandung batu sang raja yang biasa berjalan dalam istana yang berlapis karpet merah nan halus sangat marah dan kecewa. Maka raja segera memanggil Menteri PU dan memerintahkan agar seluruh jalan-jalan di kerajaan ini harus dilapisi dengan beludru dan kulit sapi agar sang raja tidak tersandung batu untuk yang kedua kalinya. Segera saja segenap jajaran menteri pekerjaan umum melakukan persiapan persiapan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negeri ini dengan kulit sapi agar halus dan indah bila dilewati sang raja.
Ditengah kesibukan yang luar biasa untuk mengumpulkan beribu-ribu kulit sapi untuk melapisi jalan di seluruh kerajaan, datanglah seorang pengembala sapi menghadap sang raja, ia berkata ”Wahai paduka, untuk apa paduka menugaskan segenap jajaran menteri PU di negeri ini agar melapisi seluruh jalanan dengan kulit sapi, yang akhirnya kerajaan harus mengorbankan sekian banyak sapi. Padahal yang paduka butuhkan sebenarnya hanya sepotong kulit sapi untuk melapisi kedua telapak kaki paduka agar tidak terantuk batu dan kerikil di jalanan”
Konon sejak saat itulah dunia menemukan kulit untuk melapisi kaki yang kemudian disebut Sepatu...... (gitu kali)


RENUNGAN :
Untuk mengubah dunia menjadi tempat yang nyaman, kita tidak harus merubah semua yang ada di sekitar kita agar sesuai dengan yang kita mau (Orang yang semuanya harus sesuai dengan keinginannya, tidak perlu Tuhan) kadangkala kita harus mengubah cara pkamung kita, hati kita dan diri kita sendiri (bukan orang lain)
Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan kehidupan dunia ini. Dunia, dalam pikiran kita kadng hanya berupa satu bentuk personal. Dunia, kita artikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri, kita tentukan sendiri bagai mana awal dan endingnya kita atur sendiri siapa senang siapa dan siapa dibenci siapa dan seterusnya.
Ya,... memang jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal banyak onak duri dan batu dimana-mana. Lalu manakah yang kita pilih, mencurahkan segala daya tenaga dan fikiran untuk melapisi jalan-jalan itu dengan permadani agar kaki kita tidak lecet karenanya, atau melapisi diri dan hati kita dengan sepatu kulit agar kita dapat bertahan melalui jalan terjalnya dunia ini ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.