Selasa, 08 Mei 2012

Orang Orang "Gila"


Bertemu orang orang “gila” dalam hari hari ini mengajarkanku akan kesejatian hidup dalam melanjutkan diary of happiness-ku.
Dihadapan ke-Khidiran beliau beliau itu aku coba me-Musakan diri, dg rela ditampar dengan kata kata pedas menyakitkan dan siap ditinggalkan. “Kamu kira dg banyaknya orang yg menyanjung-nyanjung namamu dan membaikimu itu kamu sudah benar-benar baik ? ......” Kamu kira dg gaya pakaianmu dan polesan menggelitik retorikamu itu kamu sudah me-anfa’uhum linnaas ?, Sehingga kamu merasa penting dan amat dibutuhkan oleh mereka bahkan mengalahkan Tuhan….. kamu kira dirimu sudah amat salih di mata Tuhanmu hingga tak perlu memperpanjang mujahadah taubatmu dan tak perlu bersentuhan dengan etik kemanusiaanmu. Karena otakmu telah kau isi dg sebagian besar ketundukan mereka kepadamu sehingga menggerus sense tawakkalmu kepada Tuhanmu. Bisa jadi sebenarnya kamu tidak serius terhadap nilai-nilai Ilahiyah, kamu main main dg apa yg selama ini kamu yakini sebagai ubudiyah. Benarkah kamu sudah sampai pada fase ”mukhlishiina lahuddiin” tak tahukah kamu bahwa nafsumu itu disetting  ”ammarah bissyuu’” menyenangi kebejatan. Lalu jika nafsumu itu senang dg apa yang kamu sebut sebagai ibadah itu, kemudian serta merta kamu mengamininya dg membusungkan dadamu bahwa kamu memang berpredikat ’Aabid. Tidakkah terbesit kekhawatiran dlm hatimu bahwa ternyata apa yg kamu sebut sebut sebagai ibadah itu ternyata tidak bernilai apa-apa disisih Tuhanmu. Kamu bermain main dg ritus ritus kesalihan tuk sekedar mendapatkan pundi pundi duniamu, hatimu telah terbelenggu oleh kemudahanmu memperoleh anasir anasir dunia dg kau atasnamakan ketekunan ibadahmu dan yg lebih mengkawatirkan jika itu terus mengurat nadi dalam tubuh penghambaanmu, maka kamu akan semakin tidak mendekati Tuhanmu tapi malah menjauh dari-Nya. Tidak pernahnya kau merasakan betapa sulit dan beratnya medan pencarian nafkah bagi diri dan keluargamu, membuatmu merasa semua sama mudahnya denganmu dalam mengais rizki Tuhanmu. Sebegitu mudah kau dapatkan ma’isyah hidupmu, namun tak juga sebanding dengan mudahnya tanganmu untuk melepaskannya. Sehingga belum juga kamu sampai pada bisa memandangi dunia dengan hina, dan mencoba style hukama’ dg meletakkan pondasi ”addunyaa kaljiifah” sembari berdoa yaa Tuhan jadikanlah duni seisinya ada dibawah tanganku, tapi jangan Engkau jadikan dunia dan isinya ada dlm hatiku. Dunia masih kamu pandang sebagai yang amat indah dan penuh arti, sehingga berat bagimu untuk berbagi. Nabimu yg juga nabiku menuturkan ”brng siapa yg bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayah taqarrub kepada Tuhannya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Tuhannya melainkan malah menjauh”
Kamu nilai segalanya dengan perolehan pundi pundi duniamu, segalamu kau barometeri dengan uangmu, hingga kau persempit arti rizki menjadi hanya selembar uang.....
Kamu lupa akan dimana letak tawakkal, qana’ah dan ihtiar yang sesungguhnya.
Kamu lupa memaknai hidup dengan kejujuran pada hati beningmu
Kamu lupa meletakkan nilai ilmu pada hakikat amaliah
Kamu lupa mendermakan harta pada yang ahwaj wa anfa’
Kamu lupa bahwa kebahagiaan itu hanya pada jiwa bening qalbin salim, yg tidak dikotori oleh kepentingan-kepentingan apa dan siapapun kecuali Tuhan.
Kamu lupa .....
Kamu lupa .....
Dan kamu lupa ........ ”
Di terdiam tundukku kufahami tanpa prasangka, hanya doa semoga diary of happinessku tertata nyaris tanpa cela hingga happy end dalam khusnil khotimah. Amiiin
Dan dari mereka orang-orang ”gila” itu mengajarkan kepadaku tentang satu gaya hidup yang sering disebut “being mode” dan modus ini dapat kufahami dengan memperhatikan kebalikannya yaitu “having mode” Ada sekelompok manusia yang meletakkan kebahagiaan itu pada apa yang dimilikinya. Sesuatu dikatakan menyenangkan apabila sesuatu itu miliknya, bukan karena sesuatu itu bermanfaat baginya. Kesenangannya bukan karena manfaatnya tapi karena semua itu miliknya. Selanjutnya akan memunculkan sikap bagaimana saya tergantung pada apa yang saya miliki. Jati diri saya, kehormatan saya, kebahagiaan saya, bahkan seluruh hidup saya, ditentukan oleh apa yang saya punyai. Ketika saya kehilangan milik saya, saya kehilangan sebagian hidup saya. Ketika tergores mobil saya, hati saya ikut terluka. Ketika jabatan saya berakhir, gairah hidup saya lenyap. Ketika pengikut saya lari, keberadaan saya seakan sirna. Begitukah ????

Sebelum beralalu beliau menepuk pundakku dan berkata ”doakan aku, doakan aku”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.