Bertemu orang orang “gila” dalam hari hari ini mengajarkanku akan
kesejatian hidup dalam melanjutkan diary of happiness-ku.
Dihadapan ke-Khidiran beliau
beliau itu aku coba me-Musakan diri, dg rela ditampar dengan kata kata pedas
menyakitkan dan siap ditinggalkan. “Kamu
kira dg banyaknya orang yg menyanjung-nyanjung namamu dan membaikimu itu kamu
sudah benar-benar baik ? ......” Kamu kira dg gaya pakaianmu dan polesan
menggelitik retorikamu itu kamu sudah me-anfa’uhum linnaas ?, Sehingga kamu merasa
penting dan amat dibutuhkan oleh mereka bahkan mengalahkan Tuhan….. kamu
kira dirimu sudah amat salih di mata Tuhanmu hingga tak perlu memperpanjang
mujahadah taubatmu dan tak perlu bersentuhan dengan etik kemanusiaanmu. Karena
otakmu telah kau isi dg sebagian besar ketundukan mereka kepadamu sehingga
menggerus sense tawakkalmu kepada Tuhanmu. Bisa jadi sebenarnya kamu tidak serius
terhadap nilai-nilai Ilahiyah, kamu main main dg apa yg selama ini kamu yakini
sebagai ubudiyah. Benarkah kamu sudah sampai pada fase ”mukhlishiina lahuddiin”
tak tahukah kamu bahwa nafsumu itu disetting ”ammarah bissyuu’” menyenangi kebejatan. Lalu jika nafsumu itu senang dg apa yang
kamu sebut sebagai ibadah itu, kemudian serta merta kamu mengamininya dg
membusungkan dadamu bahwa kamu memang berpredikat ’Aabid. Tidakkah terbesit
kekhawatiran dlm hatimu bahwa ternyata apa yg kamu sebut sebut sebagai ibadah
itu ternyata tidak bernilai apa-apa disisih Tuhanmu. Kamu bermain main dg ritus
ritus kesalihan tuk sekedar mendapatkan pundi pundi duniamu, hatimu telah
terbelenggu oleh kemudahanmu memperoleh anasir anasir dunia dg kau atasnamakan
ketekunan ibadahmu dan yg lebih mengkawatirkan jika itu terus mengurat nadi
dalam tubuh penghambaanmu, maka kamu akan semakin tidak mendekati Tuhanmu tapi
malah menjauh dari-Nya. Tidak pernahnya kau merasakan betapa sulit dan beratnya
medan pencarian nafkah bagi diri dan keluargamu, membuatmu merasa semua sama
mudahnya denganmu dalam mengais rizki Tuhanmu. Sebegitu mudah kau dapatkan
ma’isyah hidupmu, namun tak juga sebanding dengan mudahnya tanganmu untuk
melepaskannya. Sehingga belum juga kamu sampai pada bisa memandangi dunia
dengan hina, dan mencoba style hukama’ dg meletakkan pondasi ”addunyaa
kaljiifah” sembari berdoa yaa Tuhan jadikanlah duni seisinya ada dibawah
tanganku, tapi jangan Engkau jadikan dunia dan isinya ada dlm hatiku. Dunia
masih kamu pandang sebagai yang amat indah dan penuh arti, sehingga berat
bagimu untuk berbagi. Nabimu yg juga nabiku menuturkan ”brng siapa yg bertambah
ilmunya tapi tidak bertambah hidayah taqarrub kepada Tuhannya, maka dia tidak
bertambah dekat kepada Tuhannya melainkan malah menjauh”
Kamu nilai segalanya dengan perolehan pundi pundi duniamu, segalamu kau barometeri
dengan uangmu, hingga kau persempit arti rizki menjadi hanya selembar uang.....
Kamu lupa akan dimana letak tawakkal, qana’ah dan ihtiar yang sesungguhnya.
Kamu lupa memaknai hidup dengan kejujuran pada hati beningmu
Kamu lupa meletakkan nilai ilmu pada hakikat amaliah
Kamu lupa mendermakan harta pada yang ahwaj wa anfa’
Kamu lupa bahwa kebahagiaan itu hanya pada jiwa bening qalbin salim, yg
tidak dikotori oleh kepentingan-kepentingan apa dan siapapun kecuali Tuhan.
Kamu lupa .....
Kamu lupa .....
Dan kamu lupa ........ ”
Di terdiam tundukku kufahami tanpa prasangka, hanya doa semoga diary of
happinessku tertata nyaris tanpa cela hingga happy end dalam khusnil khotimah.
Amiiin
Dan dari mereka orang-orang ”gila” itu mengajarkan kepadaku tentang satu
gaya hidup yang sering disebut “being mode” dan modus ini dapat kufahami
dengan memperhatikan kebalikannya yaitu “having mode” Ada sekelompok
manusia yang meletakkan kebahagiaan itu pada apa yang dimilikinya. Sesuatu
dikatakan menyenangkan apabila sesuatu itu miliknya, bukan karena sesuatu itu
bermanfaat baginya. Kesenangannya bukan karena manfaatnya tapi karena semua itu
miliknya. Selanjutnya akan memunculkan sikap bagaimana saya tergantung pada apa
yang saya miliki. Jati diri saya, kehormatan saya, kebahagiaan saya, bahkan
seluruh hidup saya, ditentukan oleh apa yang saya punyai. Ketika saya
kehilangan milik saya, saya kehilangan sebagian hidup saya. Ketika tergores
mobil saya, hati saya ikut terluka. Ketika jabatan saya berakhir, gairah hidup
saya lenyap. Ketika pengikut saya lari, keberadaan saya seakan sirna. Begitukah
????
Sebelum beralalu beliau menepuk pundakku dan berkata ”doakan aku, doakan
aku”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.