Sabtu, 12 Mei 2012

Nasehat ayah untuk putrinya


Anakku,…
Belum lepas ingatan ayah, ketika suaramu nyaring lepas dari rahim ibumu. Ketika langkah-langkah tertatih, engkau memburu rindu kemudian berbaring manja di pelukan ibumu. Berceloteh memilih kata yang lucu, dan sesekali mengadu dengan iringan tangis.
Alangkah cepatnya waktu berlalu, satu persatu rumah ini ditinggal penghuninya …. Hari ini, seperti juga hari-hari berlalu … ayah dan ibumu menghantarkan engkau merengkuh duniamu yang baru.
Anakku sayang,
Kini engkau telah menjadi seorang istri. Menyeberangi kehidupan dewasa melalui sunnah yang sangat indah, pernikahan…
Biduk itu telah terlepas dari tambatannya,.. perlahan tapi pasti kalian berdua harus merengkuh bahtera itu. Di depan kini hanya suamimu berdiri dengan gagah memandang tajam kehidupan, mewaspadai badai dan topan…. Melengking sesekali suaranya untuk memberikan komando.
Tugasmu adalah mendampinginya, menjadi bagian dari tulang rusuknya. Memberi pelita ketika gelap, memberikan kehangatan ketika mendung. Menjadi penghibur yang ulung untuk terus memikat cintanya.
Kini,….. jangan engkau tengok lagi pantai gersang di belakangmu, karena di depan sana…. Ya… di depan sana dimana biduk mengarah, terhampar pantai harapan. Baker dan hanguskan seluruh masa lalumu. Lumat dan campakkan segala jerat nafsu yang merayu untuk tetap menoleh ke belakang.
Kini engkau membawa biduk jaman dan kisahmu sendiri yang nyata dan pasti. Kalau engkau tetap dalam bayangan masa lalumu,…. Ah kesia-siaan mana lagi yang lebih nista dari penghayal ??
Dalam gersangnya samudra luas, bisa jadi kalian berdua melihat gambaran indah, tetapi waspadalah siapa tau itu hanyalah fatamorgana, permainan alam yang bisa membelokkan arah kemana biduk mengarah.
Dalam kejenuhan perjalanan, sesekali engkau bisa bertengkar. Tetapi janganlah larut dalam perselisihan, karena itu tidak memberikan apapun kecuali sempitnya hati kalian berdua.
Di tengah kelelahan mengayuh biduk, tetaplah kalian hampiri sajadah yang sejak malam pertamamu telah tergelar dengan syahdunya, seraya merindukan sentuhan keningmu tersungkur dalam doa-doa yang panjang di setiap keheningan malam-malamu.
Jangan biarkan ada penumpang asing di bidukmu. Dan jangan pula mudah mengadukan rahasia rumah tanggamu. Karena sepandai-pandainya orang lain, sesungguhnya lebih pandai engkau berdua dalam soal rumah tanggamu sendiri.
Pada saat berbunga penuh wewangian, maka getarkan seluruh jagad dengan rasa syukurmu. Manakala engkau terantuk onak duri dan sakit yang menggigit atau fitnah dan musibah, maka topan dan badaikan kesabaranmu.
Iman dan ilmu yang dibalut dengan keluhuran ahlak yang berhiaskan cinta, itulah pelita dan kompas bahtera kehidupan rumah tanggamu kelak.
Maka jangan sekalipun engkau ragu untuk merengkuh samudra luas. Karena dengan iman engkau kayuh bidukmu, dan dengan ilmu engkau rengkuh samudra luas.
“Khudzilghaayaat watruki almabadiya” raih tujuan dan tinggalkan tempat bertolak.
Selamat jalan putriku,… semoga Allah SWT melimpahkan karunia-Nya serta nikmat-Nya yang akan menghantarkan kalian berdua ke pantai harapan penuh berkah dan hidayah-Nya.  Amiiin Yaarobbal Alamiin.

Nashhaihul abi li ibnatihi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.