Anakku,…
Belum lepas
ingatan ayah, ketika suaramu nyaring lepas dari rahim ibumu. Ketika
langkah-langkah tertatih, engkau memburu rindu kemudian berbaring manja di
pelukan ibumu. Berceloteh memilih kata yang lucu, dan sesekali mengadu dengan
iringan tangis.
Alangkah cepatnya
waktu berlalu, satu persatu rumah ini ditinggal penghuninya …. Hari ini,
seperti juga hari-hari berlalu … ayah dan ibumu menghantarkan engkau merengkuh
duniamu yang baru.
Anakku sayang,
Kini engkau telah
menjadi seorang istri. Menyeberangi kehidupan dewasa melalui sunnah yang sangat
indah, pernikahan…
Biduk itu telah
terlepas dari tambatannya,.. perlahan tapi pasti kalian berdua harus merengkuh
bahtera itu. Di depan kini hanya suamimu berdiri dengan gagah memandang tajam
kehidupan, mewaspadai badai dan topan…. Melengking sesekali suaranya untuk
memberikan komando.
Tugasmu adalah
mendampinginya, menjadi bagian dari tulang rusuknya. Memberi pelita ketika
gelap, memberikan kehangatan ketika mendung. Menjadi penghibur yang ulung untuk
terus memikat cintanya.
Kini,….. jangan
engkau tengok lagi pantai gersang di belakangmu, karena di depan sana…. Ya… di
depan sana dimana biduk mengarah, terhampar pantai harapan. Baker dan hanguskan
seluruh masa lalumu. Lumat dan campakkan segala jerat nafsu yang merayu untuk
tetap menoleh ke belakang.
Kini engkau
membawa biduk jaman dan kisahmu sendiri yang nyata dan pasti. Kalau engkau
tetap dalam bayangan masa lalumu,…. Ah kesia-siaan mana lagi yang lebih nista
dari penghayal ??
Dalam gersangnya
samudra luas, bisa jadi kalian berdua melihat gambaran indah, tetapi waspadalah
siapa tau itu hanyalah fatamorgana, permainan alam yang bisa membelokkan arah
kemana biduk mengarah.
Dalam kejenuhan
perjalanan, sesekali engkau bisa bertengkar. Tetapi janganlah larut dalam
perselisihan, karena itu tidak memberikan apapun kecuali sempitnya hati kalian
berdua.
Di tengah
kelelahan mengayuh biduk, tetaplah kalian hampiri sajadah yang sejak malam
pertamamu telah tergelar dengan syahdunya, seraya merindukan sentuhan keningmu
tersungkur dalam doa-doa yang panjang di setiap keheningan malam-malamu.
Jangan biarkan
ada penumpang asing di bidukmu. Dan jangan pula mudah mengadukan rahasia rumah
tanggamu. Karena sepandai-pandainya orang lain, sesungguhnya lebih pandai
engkau berdua dalam soal rumah tanggamu sendiri.
Pada saat
berbunga penuh wewangian, maka getarkan seluruh jagad dengan rasa syukurmu.
Manakala engkau terantuk onak duri dan sakit yang menggigit atau fitnah dan
musibah, maka topan dan badaikan kesabaranmu.
Iman dan ilmu
yang dibalut dengan keluhuran ahlak yang berhiaskan cinta, itulah pelita dan
kompas bahtera kehidupan rumah tanggamu kelak.
Maka jangan
sekalipun engkau ragu untuk merengkuh samudra luas. Karena dengan iman engkau
kayuh bidukmu, dan dengan ilmu engkau rengkuh samudra luas.
“Khudzilghaayaat
watruki almabadiya” raih tujuan dan tinggalkan tempat bertolak.
Selamat jalan
putriku,… semoga Allah SWT melimpahkan karunia-Nya serta nikmat-Nya yang akan
menghantarkan kalian berdua ke pantai harapan penuh berkah dan
hidayah-Nya. Amiiin Yaarobbal Alamiin.
Nashhaihul abi li
ibnatihi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.