Hampir seluruh
persoalan hidup ini bermula dari KETIDAK MAUAN mu menerima hidup ini apa
adanya. Kamu sih, tak mau berkompromi dengan kenyataan. Kamu tak sudi
melepaskan kacamata paradigma dan melihat realitas secara sederhana. Kamu lebih
suka bermain-main dengan presepsi kamu sendiri, bahkan mencoba mengajari Tuhan
akan apa yg sesungguhnya terbaik bagimu. Kamu lebih senang berlindung pada
kebenaran pikiranmu sendiri. Padahal itu adalah bentuk lain dari belenggu
sehari-hari yang membuat kamu menjadi seakan selalu membenci Tuhan karena sudah
berlaku tidak adil pada dirimu. Padahal kamu sudah sedemikian total melayani hidup untuk pengabdian-Nya (menurutmu).
Mari sejenak kamu
pejamkan mata. Temukan kesejukan pikiranmu. Menggali ketentraman perasaanmu.
Menyentuh jiwa tenangmu. “nafsul muthmainnah”. Mensyukuri setiap tarikan nafasmu.
Menyadari keadaan dan keterbatasan serta keniscayaanmu di bumi ini. Meneguhkan kembali ikrar ikrar
sucimu yg setidaknya tujuhbelas kali dalam keseharianmu ”inna sholaati wanusuki
wamhyaya wamamaati lillahi rabbil ’alamiin” hidup dan matimu dengan menomer satukan tuhan dan menyadari bahwa letak kebaikanmu adalah
dengan berarti dan bermanfaat bagi kehidupan ini berbuat yang terbaik tanpa
putus asa lalu meyakini bahwa tangan – tangan-Nya selalu menuntun di tiap gerak
sehari-harimu. Ihlaskan hidup tanpa beban membelenggu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.