Jumat, 04 Mei 2012

Belenggu itu bernama Egois




Hampir seluruh persoalan hidup ini bermula dari KETIDAK MAUAN mu menerima hidup ini apa adanya. Kamu sih, tak mau berkompromi dengan kenyataan. Kamu tak sudi melepaskan kacamata paradigma dan melihat realitas secara sederhana. Kamu lebih suka bermain-main dengan presepsi kamu sendiri, bahkan mencoba mengajari Tuhan akan apa yg sesungguhnya terbaik bagimu. Kamu lebih senang berlindung pada kebenaran pikiranmu sendiri. Padahal itu adalah bentuk lain dari belenggu sehari-hari yang membuat kamu menjadi seakan selalu membenci Tuhan karena sudah berlaku tidak adil pada dirimu. Padahal kamu sudah sedemikian total melayani hidup untuk pengabdian-Nya (menurutmu).
Mari sejenak kamu pejamkan mata. Temukan kesejukan pikiranmu. Menggali ketentraman perasaanmu. Menyentuh jiwa tenangmu. “nafsul muthmainnah”. Mensyukuri setiap tarikan nafasmu. Menyadari keadaan dan keterbatasan serta keniscayaanmu  di bumi ini. Meneguhkan kembali ikrar ikrar sucimu yg setidaknya tujuhbelas kali dalam keseharianmu ”inna sholaati wanusuki wamhyaya wamamaati lillahi rabbil ’alamiin” hidup dan matimu dengan menomer satukan tuhan dan menyadari bahwa letak kebaikanmu adalah dengan berarti dan bermanfaat bagi kehidupan ini berbuat yang terbaik tanpa putus asa lalu meyakini bahwa tangan – tangan-Nya selalu menuntun di tiap gerak sehari-harimu. Ihlaskan hidup tanpa beban membelenggu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.