Huh..... kita tak bisa menyaingi mereka yang berdakwah dengan menyodorkan uang dan sembako. Kita tak bisa membiayai muballigh-muballigh untuk terjun total ke pedalaman atau masyarakat pelosok. Kita tak punya relasi Internasional yang memungkinkan kita mendirikan Masjid sebanyak-banyaknya atau mendirikan perpustakaan, badan amal, rumah sakit atau menugasi petugas-petugas keagamaan yang kita bungkus dengan pakaian “pembela orang miskin” Kita adalah umat yang untuk menyelesaikan sebuah masjid saja butuh waktu waktu bertahun-tahun, setelah setengah mati menyebar formulir pengemisan ke segenap pelosok dan tak kunjung ada balasan. Belum lagi dengan mengerahkan serombongan orang dipinggir jalan yang pada hakekatnya juga ngemis. Kita adalah umat yang mengandalkan kotak amal tiap Jum’at yang diseret-seret dari pojok ke pojok............”
TIDAAAAK !!! kita sama sekali tidak miskin coba tengok... dan perhatikan kitalah yang memenuhi mal-mal di seantero negeri ini, kitalah yang membelanjakan dan menghamburkan uang di pusat-pusat perbelanjaan. Kitalah yang menyerahkan bergunung-gunung uang kepada perusahaan rokok. Kitalah yang meningkatkan modal dan perolehan para produser film dan musik. Kitalah yang berani merogoh kocek amat dalam hanya untuk mode dan kecanggihan teknologi gadget tuk sekedar trend dan gaya (bukan guna). Kitalah yang menghabiskan uang untuk sekedar gengsi kebudayaan dan pabrik-pabrik konsumsi hidup yang artificial, kitalah yang memenuhi dealer-dealer motor dan mobil sampai harus inden. Kitalah yang rela menyerahkan hasil jerih payah kita untuk mengejar tahayul-tahayul konsumtifisme dan hedonisme sejarah. Kitalah yang berani berhutang ratusan juta bahkan miliaran rupiah hanya untuk sebuah prestise dan gengsi. Bahkan kitalah yang merangsang oksploitasi isi perut bumi dengan membabi buta hingga mengancam anak cucu kita. Tiap hari kita banyak mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan gengsi sekali lagi gengsi dan gengsi.
Namun untuk urusan mensejahtrakan Fuqara’ Masakin, Masjid, Musholla, Panti Asuhan, Madrasah, Pondok pesantren dll.............. Uhhh,..... Betapa pelitnya kita.... penuh perhitungan ... bahkan seakan tak percaya bahwa Tuhan itu ada, ANEH !!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.