KUNCI-KUNCI RIZKI
MENURUT AL-QUR’AN & AS-SUNNAH
Oleh : Dr.Fadhl
IlahiMENURUT AL-QUR’AN & AS-SUNNAH
MUKADIMAH
Sesungguhnya segala puji adalah milik
Allah. Kita memuji, memohon pertolongan dan meminta ampunanNya. Kita berlindung
kepada Allah dari kejahatan dan keburukan amal perbuatan kita. Siapa yang
ditunjuki Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan
Allah maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Aku ber-saksi bahwa tidak ada
sesembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. semoga shalawat, salam dan
keberkahan dilimpahkan kepada beliau, keluarga, sahabat dan segenap orang yang
mengikutinya. Amma ba’-du.
Di antara hal yang menyibukkan hati
kebanyakan umat Islam adalah mencari rizki. Dan menurut pengamatan, sejumlah
umat Islam memandang bahwa berpegang dengan Islam akan mengurangi rizki mereka.
Tidak hanya sebatas itu, bahkan lebih parah dan menyedihkan lagi bahwa ada
sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewa-jiban syari’at Islam tetapi
mereka mengira bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan dibidang materi dan
kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari sebagian hukum-hukum Islam,
terutama yang berkenaan dengan halal dan haram.
Mereka itu lupa atau pura-pura lupa bahwa
Sang Khaliq tidaklah mensyariatkan agamaNya hanya sebagai petun-juk bagi umat
manusia dalam perkara-perkara akhirat dan kebahagiaan mereka di sana saja. Tetapi Allah
mensyariat-kan agama ini juga untuk menunjuki manusia dalam urusan kehidupan
dan kebahagiaan mereka di dunia. Bahkan do’a yang sering dipanjatkan Nabi kita
, kekasih Tuhan Semes-ta Alam, yang dijadikanNya sebagai teladan bagi umat
ma-nusia adalah:
“Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada
kami kebaik-an di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api
Neraka.”
Allah dan RasulNya yang mulia tidak
meninggalkan umat Islam tanpa petunjuk dalam kegelapan, berada dalam keraguan
dalam usahanya mencari penghidupan. Tetapi se-baliknya, sebab-sebab rizki itu
telah diatur dan dijelaskan. Seandainya umat ini mau memahaminya, menyadarinya,
berpegang teguh dengannya serta menggunakan sebab-sebab itu dengan baik,
niscaya Allah Yang Maha Pemberi Rizki dan memiliki kekuatan akan memudahkannya
mencapai jalan-jalan untuk mendapatkan rizki dari setiap arah, serta akan
dibukakan untuknya keberkahan dari langit dan bumi.
Didorong oleh keinginan untuk mengingatkan
dan me-ngenalkan saudara-saudara sesama muslim tentang berbagai sebab di atas
dan untuk meluruskan pemahaman mereka ten-tang hal ini serta untuk mengingatkan
orang yang telah ter-sesat dari jalan yang lurus dalam berusaha mencari rizki,
maka saya bertekad dengan memohon taufik dari Allah un-tuk mengumpulkan
sebagian sebab-sebab untuk mendapat-kan rizki tersebut dalam buku kecil ini. Buku
ini saya beri judul “Mafaatiihur Rizqi fi Dhau’il Kitab was Sunnah”
(yang kami terjemahkan menjadi: “Kunci-kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan
As-Sunnah”).
Hal-Hal Yang Saya
Perhatikan Dalam Makalah Ini
Diantara hal-hal yang saya perhatikan –dengan karunia Allah– dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Rujukan utama dalam makalah ini adalah
Al-Qur’an dan As-Sunnah RasulNya yang mulia.
2. Saya menukil hadits-hadits dari
maraji’ (sumber) aslinya. Saya juga menyebutkan pandangan ulama tentang derajat
hadits tersebut (shahih, hasan, dha’if, dan lain sebagai-nya, pen.), kecuali
apa yang saya nukil dari shahihain
(Al-Bukhari dan Muslim). Sebab segenap umat Islam telah sepakat untuk menerima
(keshahihannya).
3. Ketika menggunakan dalil dari
ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits, saya berusaha mengambil faedah
(penje-lasan) dari kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab syarah (kete-rangan) hadits-hadits.
4. Saya memaparkan tentang apa yang
dimaksud dengan sebab-sebab yang disyari’atkan dalam mencari rizki dengan
bantuan keterangan-keterangan –setelah
memo-hon pertolongan dari Allah –
dari ucapan-ucapan para ulama, untuk menghilangkan keragu-raguan di dalamnya.
5. Saya tidak bermaksud membicarakan
manfaat-manfaat lain dari sebab-sebab yang Allah jadikan selain ma-salah rizki.
Kecuali disebutkan secara kebetulan. Mudah-mudahan Allah memudahkan saya untuk
membicara-kan hal-hal tersebut di masa yang akan datang.
6. Saya jelaskan beberapa kata asing
yang ada di dalam hadits-hadits, untuk lebih menyempurnakan manfaat, In-sya Allah.
7. Saya tuliskan beberapa maraji’ (sumber) yang cukup untuk
memudahkan siapa saja yang ingin kembali kepadanya.
8.
Saya
tidak bermaksud menyebutkan sebab-sebab rizki seluruhnya. Tetapi yang saya
bahas adalah apa yang dimudahkan oleh Allah padaku untu mengumpulkannya.Ucapan Terima Kasih dan Do’a
9.
Inilah
(karya sederhana itu), dan segala puji bagi Allah Yang Maha Esa, tempat
bergantung, yang semoga memberi nikmat kepada hambaNya yang lemah ini berupa
rahmat, ampunan dan kemuliaan untuk menyelesaikan pembahasan ini. Kami ucapkan
terimakasih sekaligus panjatan do’a kepada saudaraku Dr. Sayid Muhammad Sadati
Asy-Syinqithi. Saya banyak mengambil manfaat dari beliau dalam penulisan
makalah ini. Ucapan terimakasih serta penghargaan juga kami sampaikan kepada
para pengurus Maktab Ta’awuni lid Dakwah wal Irsyad (Kantor Urusan
Kerjasama Dakwah dan Penyuluhan) Divisi Orang-orang Asing di Bathha’, Riyadh
yang berada di bawah Koordinasi Departemen Urusan Agama Islam, Wakaf, Dakwah,
dan Penyuluhan Kerajaan Saudi Arabia. Di mana, sebelumnya makalah ini berasal
dari dua kali materi ceramah yang saya sampaikan di kantor tersebut. Do’a saya
juga untuk putra saya tersayang Hammad Ilahi serta anak-anak saya yang lain.
Mereka secara bersama-sama saya memeriksa naskah yang telah disetting dari buku
ini. Mudah-mudahan Allah melimpahkan balasan kepada semuanya dengan sebaik-baik
balasan di dunia maupun di akhirat.
Saya memohon kepada Allah yang memiliki
keagungan dan kemuliaan, semoga Ia menjadikan pekerjaanku ini benar-benar
ikhlas karena mencari ridhaNya. Serta menjadi-kannya sebagai simpanan saya dan
simpanan kedua orang tua saya pada hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan
anak-anak kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih. Sebagaimana
saya juga memohon kepada Rabb Yang
Maha Hidup lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, semoga Ia memberi taufik
kepada saya, juga kepada saudara-saudara, anak-anak, karib-kerabat saya serta
sege-nap umat Islam untuk berpegang dan mengambil manfaat dari sebab-sebab
rizki yang disyari’atkan. Semoga pula Ia memudahkan kebaikan bagi kita di dunia
dan di akhirat. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabul-kan. Amin.
Semoga shalawat, salam dan keberkahan
dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad , kepada keluarga, sahabat dan segenap
pengikutnya.
Dr. Fadhl
Ilahi
Pasal Pertama :
ISTIGHFAR DAN TAUBAT
ISTIGHFAR DAN TAUBAT
Diantara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah is-tighfar (memohon ampunan) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan). Untuk itu, pembahasan mengenai pasal ini kami bagi menjadi dua pembahasan:
a. Hakikat istighfar dan taubat.
b. Dalil syar’i bahwa istighfar dan taubat termasuk kunci rizki.
b. Dalil syar’i bahwa istighfar dan taubat termasuk kunci rizki.
A. Hakikat
Istighfar
dan
Taubat
Sebagian besar orang menyangka bahwa
istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mere-ka
mengucapkan,
“Aku memohon ampunan kepada Allah
dan bertaubat ke-padaNya”
Tetapi kalimat-kalimat di atas tidak
membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan.
Sesungguhnya istighfar dan
taubat jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta.
Para ulama –
semoga Allah memberi balasan yang se-baik-baiknya kepada mereka telah
menjelaskan hakikat istighfar dan taubat.
Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan:
“Dalam istilah syara’, taubat adalah meninggalkan dosa karena ke-burukannya,
menyesali dosa yang telah dilakukan, berke-inginan kuat untuk tidak
mengulanginya dan berusaha mela-kukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika
keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna”
Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya
sendiri menje-laskan: “Para ulama berkata,
‘Bertaubat dari setiap dosa hu-kumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu
antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia
maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya
ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia
harus menyesali per-buatan (maksiat)nya. Ketiga,
ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya
hilang, maka taubatnya tidak sah.
Jika taubat itu berkaitan dengan manusia
maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan keempat, hendaknya ia
membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika ber-bentuk harta benda
atau sejenisnya maka ia harus mengem-balikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau seje-nisnya
maka ia harus memberinya kesempatan untuk mem-balasnya atau meminta maaf
kepadanya. Jika berupa ghibah
(menggunjing), maka ia harus meminta maaf.”
Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan
Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani adalah “Meminta (ampunan) dengan ucapan dan
perbuatan. Dan firman Allah:
“Mohonlah ampun
kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.” (Nuh: 10).
Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan
meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan.
Bahkan hingga dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan
saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta.
B. Dalil Syar’i Bahwa Istighfar dan Taubat Termasuk Kunci Rizki
Beberapa nash (teks) Al-Qur’an dan
Al-Hadits me-nunjukkan bahwa istighfar dan
taubat termasuk sebab-sebab rizki dengan karunia Allah . Di bawah ini beberapa
nash dimaksud:
1. Apa yang disebutkan Allah tentang Nuh
yang berkata kepada kaumnya :
“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia
adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan
lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu
kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.” (Nuh: 10-12).
Ayat-ayat di atas menerangkan cara
mendapatkan hal-hal berikut dengan istighfar.
1. Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya.
Berdasarkan fir-manNya: “Sesungguhnya
Dia adalah Maha Pengampun.”
2. Diturunkannya hujan yang lebat oleh
Allah. Ibnu Abbas radhiallaahu anhu berkata ” ” adalah (hujan) yang turun
dengan deras.
3. Allah akan membanyakkan harta dan
anak-anak. Dalam menafsirkan ayat:Atha’ berkata: “Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian”.
4. Allah akan menjadikan untuknya
kebun-kebun.
5.
Allah akan
menjadikan untuknya sungai-sungai. Imam Al-Qurthubi berkata: “Dalam ayat ini,
juga disebutkan dalam (surat
Hud) adalah dalil yang menunjukkan bah-wa istighfar merupakan salah satu sarana
meminta ditu-runkannya rizki dan hujan.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya
berkata: “Makna-nya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun
kepadaNya dan kalian senantiasa mentaatiNya niscaya Ia akan membanyakkan rizki
kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan
untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian,
melimpahkan air susu perahan untuk kalian, mem-banyakkan harta dan anak-anak
untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam-macam
buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun
itu (untuk kalian).”
Demikianlah, dan Amirul mukminin Umar bin
Khaththab juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika
beliau memohon hujan dari Allah .
Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi:
“Bahwasanya Umar keluar untuk memohon hujan bersama orang ba-nyak. Dan beliau
tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon
ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku
tidak mendengar Anda memohon hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon
diturunkannya hujan dengan majadih
langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan. Lalu beliau membaca
ayat:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,
sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan
kepadamu dengan lebat.” (Nuh: 10-11).
Imam Al-Hasan Al-Bashri juga
menganjurkan istighfar (memohon
ampun) kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan,
kefakiran, sedikitnya ketu-runan dan kekeringan kebun-kebun.
Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu
Shabih, bah-wasanya ia berkata: “Ada
seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi)
maka beliau berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” Yang lain
mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya,
“Beristighfarlah kepada Allah!” Yang lain lagi berkata kepadanya, “Do’akanlah
(aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!” Maka beliau mengatakan kepadanya,
“Beristighfarlah kepada Allah!” Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang
kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, “Beristighfarlah
kepa-da Allah!”
Dan kami menganjurkan demikian kepada
orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka
Ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya, ‘Banyak orang yang mengadukan
bermacam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab,
‘Aku tidak mengata-kan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah
berfirman dalam surat
Nuh:
“Mohonlah ampun
kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan
mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan
anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di
dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12).
Allahu Akbar! Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar! Ya Allah, jadikanlah kami termasuk
hamba-ham-baMu yang pandai beristighfar.
Dan karuniakanlah kepada kami buahnya, di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya
Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin, wahai Yang Maha Hidup dan
terus menerus mengurus MakhlukNya.
2. Ayat lain adalah firman Allah yang
menceritakan ten-tang seruan Hud kepada kaumnya agar beristighfar.
“Dan (Hud berkata),
‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya
Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan
kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa’.” (Hud:52).
Al-Hafizh Ibnu katsir dalam menafsirkan
ayat yang mulia di atas menyatakan: “Kemudian Hud memerintahkan kaumnya untuk
beristighfar yang dengannya dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian
memerintahkan mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi. Barangsiapa
memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan
urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman:
“Niscaya Dia menurunkan hujan yang
sangat lebat atas-mu”.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk
orang-orang yang memiliki sifat taubat dan istighfar, dan mudahkanlah rizki-rizki kami, lancarkanlah
urusan-urusan kami serta jagalah keadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha
Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Amin, wahai Dzat Yang Memiliki keagungan
dan kemuliaan.
3. Ayat yang lain adalah firman Allah:
“Dan hendaklah kamu
meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (jika kamu mengerjakan
yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus)
kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada
tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu
berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.” (Hud: 3).
Pada ayat yang mulia di atas, terdapat
janji dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang
baik kepada orang yang beristighfar dan
bertaubat. Dan maksud dari firmanNya:
“Niscaya
Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu.” Sebagaimana
dikatakan oleh Abdullah bin Abbas adalah, “Ia akan menganugerahi rizki dan
kelapangan kepada kalian”.
Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya
mengatakan: “Inilah buah dari istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberi
kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan
kemakmuran hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang
dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian.
Dan janji Tuhan Yang Maha Mulia itu
diutarakan dalam bentuk pemberian balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh
Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata: “Ayat yang mulia tersebut menunjukkan
bahwa beristighfar dan ber-taubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab
sehingga Allah menganugerahkan kenikmatan yang baik kepada orang yang
melakukannya sampai pada waktu yang ditentu-kan. Allah memberikan balasan (yang
baik) atas istighfar dan
taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat yang dite-tapkan”.
4. Dalil lain bahwa beristighfar dan taubat
adalah di antara kunci-kunci rizki yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad,
Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia
berkata, Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa memperbanyak istighfar
(mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya
jalan keluar dan untuk setiap kesempitan-nya kelapangan dan Allah akan
memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka”.
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang
jujur dan terpercaya, yang berbicara berdasarkan wahyu, mengabarkan tentang
tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang mem-perbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang
Maha Memberi rizki, yang Memiliki kekuatan akan mem-berikan rizki dari arah
yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik
dalam hatinya.
Karena itu, kepada orang yang mengharapkan
rizki hen-daklah ia bersegera untuk memperbanyak istighfar (memo-hon
ampun), baik dengan ucapan maupun perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim
waspada, sekali lagi hendaknya waspada, dari melakukan istighfar hanya
sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab itu adalah pekerjaan para pendusta.
Pasal Kedua :
TAQWA
TAQWA
Termasuk sebab turunnya rizki adala taqwa. Saya akan membicarakan masalah ini – dengan memohon taufik dari Allah– dalam dua bahasan:
a. Makna taqwa.
b. Dalil syar’i bahwa taqwa termasuk kunci rizki.
b. Dalil syar’i bahwa taqwa termasuk kunci rizki.
A. MAKNA TAQWA
Para ulama telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan
taqwa. Di antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani mendefinisikan: “Taqwa yaitu
menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan
meninggalkan apa yang dilarang, menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian
yang dihalalkan”.
Sedangkan Imam An-Nawawi mendefinisikan taqwa
dengan “Mentaati perintah dan laranganNya.” Maksudnya, menjaga diri dari
kemurkaan dan adzab Allah . Hal itu sebagaimana didefinisikan oleh Imam
Al-Jurjani “Taqwa yaitu menjaga diri dari pekerjaan yang mengakibatkan siksa,
baik dengan melakukan perbuatan atau meninggalkannya.”
Karena itu, siapa yang tidak menjaga
dirinya, dari perbuatan dosa, berarti dia bukanlah orang bertaqwa. Maka orang
yang melihat dengan kedua matanya apa yang diharamkan Allah, atau mendengarkan
dengan kedua telinganya apa yang dimurkai Allah, atau mengambil dengan kedua
tangan-nya apa yang tidak diridhai Allah, atau berjalan ke tempat yang dikutuk
Allah, berarti tidak menjaga dirinya dari dosa.
Jadi, orang yang membangkang perintah Allah
serta me-lakukan apa yang dilarangNya, dia bukanlah termasuk orang-orang yang
bertaqwa.
Orang yang menceburkan diri ke dalam
maksiat sehingga ia pantas mendapat murka dan siksa dari Allah, maka ia telah
mengeluarkan dirinya dari barisan orang-orang yang bertaqwa.
B. DALIL SYAR’I
BAHWA TAQWA TERMASUK KUNCI RIZKI
Beberapa nash yang menunjukkan
bahwa taqwa terma-suk di antara sebab rizki, Di antaranya:
1. Firman Allah:
“Barangsiapa yang
bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan
memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).
Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan
bahwa orang yang merealisasikan taqwa akan dibalas Allah dengan dua hal.
Pertama, “Allah akan mengadakan jalan
keluar baginya.” Artinya, Allah akan menyelamatkannya –sebagaimana
dika-takan Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu –
dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat. Kedua, “Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Artinya,
Allah akan memberi-nya rizki yang tak pernah ia harapkan dan angankan.
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya
mengatakan: “Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah de-ngan melakukan
apa yang diperintahkanNya dan mening-galkan apa yang dilarangNya, niscaya Allah
akan membe-rinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka,
yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya,”
Alangkah agung dan besar buah taqwa itu!
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Sesungguhnya ayat terbesar dalam hal pemberian
janji jalan keluar adalah:
“Barangsiapa
bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya”.
2. Ayat lainnya adalah firman Allah:
“Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada
me-reka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendus-takan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami
siksa mereka di-sebabkan perbuatan mereka sendiri”. (Al-A’raf: 96).
Dalam ayat yang mulia ini Allah
menjelaskan, seandai-nya penduduk negeri-negeri merealisasikan dua hal, yakni
iman dan taqwa, niscaya Allah akan melapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka
dan memudahkan mereka menda-patkannya dari segala arah.
Menafsirkan firman Allah:
“Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai berkah dari langit dan bumi, Abdullah bin Abbas mengatakan: “Niscaya Kami lapangkan kebaikan (ke-kayaan) untuk mereka dan Kami mudahkan bagi mereka untuk mendapatkan dari segala arah.”
“Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai berkah dari langit dan bumi, Abdullah bin Abbas mengatakan: “Niscaya Kami lapangkan kebaikan (ke-kayaan) untuk mereka dan Kami mudahkan bagi mereka untuk mendapatkan dari segala arah.”
Janji Allah yang terdapat dalam ayat yang
mulia tersebut terhadap orang-orang beriman dan bertaqwa mengandung beberapa
hal, di antaranya:
a. Janji Allah untuk membuka “ “ (keberkahan) bagi mereka. “” adalah bentuk jama’ dari
” ” Imam Al-Baghawi berkata, Ia berarti
mengerjakan sesuatu secara terus menerus. Atau seperti kata Imam Al-Khazin,
“Tetapnya suatu kebaikan Tuhan atas sesuatu.”
Jadi, yang dapat disimpulkan dari makna
kalimat ” ” adalah bahwa apa yang diberikan Allah disebabkan oleh keimanan dan
ketaqwaan mereka merupakan kebaikan yang terus menerus, tidak ada keburukan
atau konsekuensi apa pun atas mereka sesudahnya.
Tentang hal ini, Sayid Muhammad Rasyid
Ridha berkata: “Adapun orang-orang beriman maka apa yang dibukakan untuk mereka
adalah berupa berkah dan kenikmatan. Dan untuk hal itu, mereka senantiasa
bersyukur kepada Allah, ridha terhadapNya dan mengharapkan karuniaNya. Lalu
mereka menggunakannya di jalan kebaikan, bukan jalan keburukan, untuk perbaikan
bukan untuk merusak. Sehingga balasan bagi mereka dari Allah adalah ditambahnya
berbagai kenikmatan di dunia dan pahala yang baik di akhirat.”
Syaikh Ibnu Asyur mengungkapkan hal itu
dengan ucapannya: ” ” adalah kebaikan yang murni yang tidak ada konsekuensinya
di akhirat. Dan ini adalah sebaik-baik jenis nikmat.”
b. Kata berkah disebutkan dalam bentuk jama’ sebagai-mana firman Allah:
“Pastilah Kami akan melimpahkan
kepada mereka berbagai berkah.” Ayat
ini, sebagaimana disebutkan Syaikh Ibnu Asyur untuk menunjukan banyaknya berkah
sesuai dengan banyaknya sesuatu yang diberkahi.
c. Allah berfirman:
“Berbagai
keberkahan dari langit dan bumi”. Menurut Imam Ar-Razi, maksudnya
adalah keberkahan langit dengan turunnya hujan, keberkahan bumi dengan
tumbuhnya berba-gai tanaman dan buah-buahan, banyaknya hewan ternak dan
gembalaan serta diperolehnya keamanan dan keselamatan. Hal ini karena langit
adalah laksana ayah, dan bumi laksana Ibu. Dari keduanya diperoleh semua bentuk
manfaat dan kebaikan berdasarkan penciptaan dan pengurusan Allah .”
3. Ayat lainnya adalah firman Allah:
“Dan sekiranya
mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang
diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan
dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan
pertengah-an. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan
mereka”. (Al-Ma’idah:
66).
Allah mengabarkan tentang Ahli Kitab, ‘Bahwa
seandainya mereka mengamalkan apa yang ada di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an
–demikian seperti dikatakan oleh Abdullah bin Abbas c dalam
menafsirkan ayat terse-but,– niscaya Allah memperbanyak rizki
yang diturunkan kepada mereka dari langit dan yang tumbuh untuk mereka dari
bumi.
Syaikh Yahya bin Umar Al-Andalusi
berkata: “Allah menghendaki –wallahu
a’lam– bahwa
seandainya mereka mengamalkan apa yang diturunkan di dalam Taurat, Injil dan
Al-Qur’an, niscaya mereka memakan dari atas dan dari bawah kaki mereka.
Maknanya –wallahu’alam–, niscaya mereka diberi kelapangan
dan kesempurnaan nikmat du-nia,”
Dalam menafsirkan ayat ini, Imam
Al-Qurthubi mengata-kan, “Dan sejenis dengan ayat ini adalah firman Allah:
“Barangsiapa
bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan
memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq:2-3).
“Dan bahwasanya
jika mereka tetap berjalan di atas ja-lan itu (agama Islam), benar-benar Kami
akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang ba-nyak).” (Al-Jin: 16).
“Jikalau sekiranya
penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan
kepada me-reka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96).
Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di
atas, Allah menjadikan ketaqwaan di antara sebab-sebab rizki dan men-janjikan
untuk menambahnya bagi orang yang bersyukur.
Allah berfirman:
“Jika kalian
bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku atasmu.” (Ibrahim: 7).
Karena itu, setiap orang yang menginginkan
keluasan rizki dan kemakmuran hidup, hendaknya ia menjaga dirinya dari segala
dosa. Hendaknya ia menta’ati perintah-perintah Allah dan menjauhi
larangan-laranganNya. Juga hendaknya ia menjaga diri dari yang menyebabkan
berhak mendapat siksa, seperti melakukan kemungkaran atau meninggalkan
kebaikan.
Pasal Ketiga :
BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH
BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH
Termasuk di antara sebab diturunkannya rizki adalah bertawakkal kepada Allah dan Yang kepadaNya tempat bergantung. Insya Allah kita akan membicarakan hal ini melalui tiga hal:
a. Yang dimaksud bertawakkal kepada Allah.
b. Dalil syar’i bahwa bertawakkal kepada Allah termasuk di antara kunci-kunci rizki.
c. Apakah tawakkal itu berarti meninggalkan usaha?
b. Dalil syar’i bahwa bertawakkal kepada Allah termasuk di antara kunci-kunci rizki.
c. Apakah tawakkal itu berarti meninggalkan usaha?
A. Yang Dimaksud Bertawakkal kepada
Allah
Para ulama –semoga Allah membalas mereka dengan
sebaik-baik balasan– telah menjelaskan makna tawakkal. Di antaranya adalah Imam
Al-Ghazali, beliau berkata: “Tawak-kal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang di-tawakkali) semata.”
Al-Allamah Al-Manawi berkata: “Tawakkal
adalah me-nampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang di
tawakkali.”
Menjelaskan makna tawakkal kepada Allah
dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali Al-Qori berkata: “Hendaknya kalian
ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali
Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik makhluk maupun rizki, pem-berian atau
pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat,
hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semua-nya itu adalah dari
Allah.”
B. Dalil syar’i
Bahwa Bertawakkal kepada Allah Termasuk Kunci Rizki
Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu
Al-Muba-rak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qhudha’i dan Al-Baghawi meriwayatkan
dari Umar bin Khaththab bahwa Rasulullah bersabda:
“Sungguh, seandainya kalian
bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi
rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan
lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah
yang ber-bicara dengan wahyu menjelaskan, orang yang bertawakkal kepada Allah
dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya dia akan diberi rizki oleh Allah
sebagaimana burung-burung diberiNya rizki. Betapa tidak demikian, karena dia
telah bertawakkal kepada Dzat Yang Maha Hidup, Yang tidak pernah mati. Karena
itu, barangsiapa bertawakkal kepada-Nya, niscaya Allah akan mencukupinya. Allah
berfirman:
“Dan barangsiapa
bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Se-sungguhnya
Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3).
Menafsirkan ayat tersebut, Ar-Rabi’ bin
Khutsaim me-ngatakan: “(Mencukupkan) diri setiap yang membuat sempit manusia”.
C. Apakah Tawakkal
itu Berarti Mening-galkan Usaha?
Sebagian orang mukmin ada yang berkata:
“Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rizki, maka kenapa
kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup
duduk-duduk dan bermalasan-malasan, lalu rizki kita datang dari langit?”
Perkataan ini sungguh menunjukkan
kebodohan orang yang mengucapkan tentang hakikat tawakkal. Nabi kita yang mulia
telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan di-beri rizki itu dengan burung
yang pergi di pagi hari dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak
memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan
tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Maha Esa dan Yang
kepadanya tempat bergantung. Dan sungguh para ulama –semoga Allah membalas
mereka dengan sebaik-baik kebaikan–
telah memperingatkan masa-lah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau
berkata: ” Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan untuk
meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan
perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka
berta-wakkal kepada Allah dalam kepergian, kedatangan dan usa-ha mereka, dan mereka mengetahui
kebaikan (rizki) itu di TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam
keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut.”
Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang
laki-laki yang hanya duduk di rumah atau masjid seraya berkata, ‘Aku tidak mau
bekerja sedikit pun, sampai rizkiku datang sendiri’. Maka beliau berkata, Ia
adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan
rizkiku melalui panahku.”
Dan beliau bersabda:
“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan se-benar-benar tawakkal, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan se-benar-benar tawakkal, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
Dalam hadits tersebut dikatakan,
burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka
men-cari rizki.
Selanjutnya Imam Ahmad berkata: “Para
Sahabat berda-gang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itu-lah
teladan kita”.
Syaikh Abu Hamid berkata: “Barangkali ada
yang mengi-ra bahwa makna tawakkal adalah , meninggalkan pekerjaan secara
fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkan diri di atas
tanah seperti sobekan kain yang di-lemparkan, atau seperti daging di atas
landasan tempat me-motong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua
itu adalah haram menurut hukum syari’at. Sedangkan syari’at memuji orang yang
bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin sesuatu derajat ketinggian dalam agama
dapat di-peroleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula?
Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini
dapat kita kata-kan, “Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak da-lam gerak
dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya”.
Imam Abul Qosim Al-Qusyairi berkata: “Ketahuilah
se-sungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah
hal itu tidak bertentangan dengan ta-wakkal yang ada di dalam hati setelah
seorang hamba me-yakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat
kesulitan, maka hal itu adalah karena taqdirNya, dan jika terdapat kemudahan
maka hal itu karena kemudahan dariNya.”
Di antara yang menunjukkan bahwa tawakkal
kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan
oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari
ayahnya , ia berkata:
“Seseorang berkata kepada Nabi , Aku
lepaskan unta-ku dan (lalu) aku bertawakkal?’ Nabi bersabda: ‘Ikatlah kemudian
bertawakkallah’.”
Dan dalam riwayat Al-Qudha’i disebutkan:
“Amr bin Umayah berkata: ‘Aku bertanya,’Wahai Rasulullah, Apakah aku ikat dahulu (tunggangan)ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?’ Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaran (unta)mu lalu bertawakkallah’.”
“Amr bin Umayah berkata: ‘Aku bertanya,’Wahai Rasulullah, Apakah aku ikat dahulu (tunggangan)ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?’ Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaran (unta)mu lalu bertawakkallah’.”
Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa
tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap muslim wajib
berpayah-payah, bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan.
Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan
usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan
bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata.
Pasal Keempat :
BERIBADAH KEPADA ALLAH SEPENUHNYA
BERIBADAH KEPADA ALLAH SEPENUHNYA
Di antara kunci-kunci rizki adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya. Saya akan membahas masalah ini –dengan memohon pertolongan kepada Allah– dari dua hal:
A. Makna beribadah kepada Allah
sepenuhnya.
B. Dalil syar’i bahwa beribadah kepada Allah sepenuhnya adalah di antara kunci-kunci rizki.
B. Dalil syar’i bahwa beribadah kepada Allah sepenuhnya adalah di antara kunci-kunci rizki.
A. Makna Beribadah Kepada Allah
Sepenuhnya.
Hendaknya seseorang tidak mengira bahwa
yang dimak-sud beribadah sepenuhnya adalah dengan meninggalkan usaha untuk
mendapatkan penghidupan dan duduk di masjid sepanjang siang dan malam. Tetapi
yang dimaksud – wallahu a’lam–
adalah hendaknya seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan
merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Esa, menghadirkan (dalam hati)
betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasa bahwa ia sedang bermunajat
kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Yakni beribadah
sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits:
“Hendaknya kamu beribadah kepada Allah
seakan-akan kami melihatNya. Jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia
melihatmu.”
Janganlah engkau termasuk orang-orang yang
(ketika beribadah) jasad mereka berada di masjid, sedang hatinya berada di luar
masjid.
Menjelaskan sabda Rasulullah :
“Beribadahlah sepenuhnya kepadaKu”. Al-Mulla Ali Al-Qari berkata, “Maknanya, jadikanlah hatimu benar-benar sepenuhnya (berkonsentrasi) untuk beribadah kepada Tuhan-mu”.
“Beribadahlah sepenuhnya kepadaKu”. Al-Mulla Ali Al-Qari berkata, “Maknanya, jadikanlah hatimu benar-benar sepenuhnya (berkonsentrasi) untuk beribadah kepada Tuhan-mu”.
B. DALIL SYAR’I BAHWA BERIBADAH KEPADA
ALLAH SEPENUHNYA TERMASUK KUNCI RIZKI
Ada beberapa nash yang menunjukkan bahwa beribadah
sepenuhnya kepada Allah termasuk di antara kunci-kunci rizki. Beberapa nash
tesebut di antaranya adalah:
1. Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad,
At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abu Hurairah , dari Nabi beliau
bersabda:
“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘wahai
anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang
ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak
kalian lakukan, nis-caya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku
penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)’.”
Nabi dalam hadits tersebut menjelaskan,
bahwasanya Allah menjanjikan kepada orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya
dengan dua hadiah, sebaliknya mengancam bagi yang tidak beribadah kepadaNya
sepenuhnya dengan dua siksa. Adapun dua hadiah itu adalah Allah mengisi hati
orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan keka-yaan serta memenuhi kebutuhannya.
Sedangkan dua siksa itu adalah Allah memenuhi kedua tangan orang yang tidak
beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan berbagai kesibuk-an, dan ia tidak mampu
memenuhi kebutuhannya, sehingga ia tetap membutuhkan kepada manusia.
2. Hadits riwayat Imam Al-Hakim dari Ma’qal bin
Yasar ia berkata, Rasulullah bersabda:
“Tuhan kalian berkata, ‘Wahai anak
Adam, beribadah-lah kepadaKu sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan
kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam, jangan
jauhi Aku sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua
tangamu dengan kesibukan.”
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang
mulia, yang berbicara berdasarkan wahyu mengabarkan tentang janji Allah, yang
tak satu pun lebih memenuhi janji daripadaNya, berupa dua jenis pahala bagi
orang yang benar-benar ber-ibadah kepada Allah sepenuhnya. Yaitu, Allah pasti
meme-nuhi hatinya dengan kekayaan dan kedua tangannya dengan rizki.
Sebagaimana Nabi juga memperingatkan akan
ancam-an Allah kepada orang yang menjauhiNya dengan dua jenis siksa. Yaitu
Allah pasti memenuhi hatinya dengan kefakiran dan kedua tangannya dengan
kesibukan.
Dan semua mengetahui, siapa yang hatinya
dikayakan oleh Yang Maha Memberi kekayaan, niscaya tidak akan didekati oleh
kemiskinan selama-lamanya. Dan siapa yang kedua tangannya dipenuhi rizki oleh
Yang Maha Memberi rizki dan Maha Perkasa, niscaya ia tidak akan pernah pailit
selama-lamanya. Sebaliknya, siapa yang hatinya dipenuhi dengan kefakiran oleh
Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan, niscaya tak seorang pun mampu membuatnya
kaya. Dan siapa yang disibukkan oleh Yang Maha Perkasa dan Maha Memaksa,
niscaya tak seorang pun yang mampu memberinya waktu luang.
Pasal Kelima :
MELANJUTKAN HAJI DENGAN UMRAH ATAU SEBALIKNYA
Di antara perbuatan yang dijadikan Allah termasuk kunci-kunci rizki yaitu melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya. Pembicaraan masalah ini –dengan memohon pertolongan Allah– akan saya lakukan melalui dua poin bahasan:
A. Yang dimaksud melanjutkan haji dengan
umrah atau sebaliknya.
B. Dalil syar’i bahwa melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya termasuk pintu-pintu rizki.
B. Dalil syar’i bahwa melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya termasuk pintu-pintu rizki.
A. Yang Dimaksud Melanjutkan Haji
Dengan Umrah Atau Sebaliknya
Syaikh Abul Hasan As-Sindi menjelaskan
tentang mak-sud melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya berkata:
“Jadikanlah salah satunya mengikuti yang lain, di mana ia dilakukan sesudahnya.
Artinya, jika kalian menunaikan haji maka tunaikanlah umrah. Dan jika kalian
menunaikan umrah maka tunaikanlah haji, sebab keduanya saling mengikuti.
B. Dalil Syar’i Bahwa Melanjutkan Haji
Dengan Umrah Atau Sebaliknya Termasuk Kunci Rizki
Di antara hadits-hadits yang menunjukkan
bahwa melan-jutkan haji dengan umrah atau sebaliknya termasuk kunci-kunci rizki
adalah :
1. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu
Hibban meriwayatkah dari Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah bersabda:
“Lanjutkanlah haji dengan umrah,
karena sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagai-mana
api dapat menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji
yang mabrur itu melainkan Surga”.
Dalam hadits yang mulia tersebut Nabi yang
terper-caya, yakni berbicara dengan wahyu menjelaskan bahwa buah melanjutkan
haji dengan umrah atau sebaliknya adalah hilangnya kemiskinan dan dosa. Imam Ibnu
Hibban mem-beri judul hadits ini dalam kitab shahihnya dengan:
“Keterangan Bahwa Haji dan Umrah
Menghilangkan Dosa-dosa dan Kemiskinan dari Setiap Muslim dengan Sebab
Keduanya.”
Sedangkan Imam Ath-Thayyibi dalam
menjelaskan sabda Nabi :
“Sesungguhnya keduanya menghilangkan
kemiskinan dan dosa-dosa”, dia
berkata, “Kemampuan keduanya untuk menghilangkan kemiskinan seperti kemampuan
amalan ber-sedekah dalam menambah harta.”
2. Hadits riwayat Imam An-Nasa’i dari Ibnu
Abbas c, ia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Lanjutkanlah haji dengan umrah atau
sebaliknya. Kare-na sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kemis-kinan dan
dosa-dosa sebagaimana api dapat menghi-langkan kotoran besi.”
1.
Maka
orang-orang yang menginginkan untuk dihilangkan kemiskinan dan dosa-dosanya,
hendaknya ia segera melan-jutkan hajinya dengan umrah atau sebaliknya.
Dua hari yang lalu saya mengikuti Shalat Tarawih
berjamaah di Masjid dekat kos saya. Seperti biasa, jeda antara Shalat Isya’ dan
Shalat Tarawih selalu diisi dengan ceramah singkat oleh Imam yang memimpin
Shalat pada hari itu. Saya selalu suka sesi ini karena banyak hal baru dan
menarik yang saya dapatkan tanpa harus membaca buku-buku agama terlebih dahulu.
Hehe. Setelah beberapa hari sebelumnya diisi dengan ceramah tentang Jaminan
Sosial dalam Islam yang menurut saya sangat insightful, hari itupun saya
mendapat ceramah yang sangat mencerahkan karena tema hari itu adalah tentang
rezeki. Haha.
Cerita punya cerita kondisi saya beberapa waktu
belakangan ini tepat seperti yang digambarkan Imam tersebut, sedang frustasi
dengan ketidakberuntungan yang menimpa. Tiket pesawat yang hangus sia-sia,
pengeluaran yang sangat membengkak, sampe kasir yang salah memasukkan harga
belanjaan pun dapat membuat saya marmos. Tapi ya begini lah nasib fresh
graduate yang belum settle, seret pendapatan.
Makanya ketika sang Imam memberikan wejangan bagi
para manusia yang sedang frustasi dengan rezekinya, saya langsung fokus.
Menurut imam tersebut, terdapat beberapa jenis rezeki di dalam Islam dan cara
mengupayakannya. Pertama, rezeki dasar yang memang sudah ditentukan
Tuhan untuk setiap makhluknya. Jadi meskipun mungkin kita bermalas-malasan,
kalo emang udah rezeki kita, ya ada aja yang bisa kita dapat. Yang perlu
menjadi catatan adalah bahwa adanya rezeki jenis pertama ini jangan sampai
menjadikan kita fatalis, tidak merasa perlu bekerja karena beranggapan bahwa
apa-apa telah diatur Tuhan. Bagaimanapun rezeki dasar ini hanya untuk basic
individu saja. Justru adanya rezeki ini membuat kita selalu optimis karena
Tuhan telah memberikan bekal rezeki untuk masing-masing kita. Kedua,
rezeki yang akan Tuhan berikan ketika kita mengupayakannya. Sebagai makhluk
sosial, kebutuhan kita sangat banyak dan Tuhan telah menyatakan secara tegas,
dan sekali kali manusia tidak akan mendapatkan selain apa yang telah dia
upayakan. Tuhan memiliki neraca perhitungannya sendiri dan malaikatpun tak
pernah lengah mencatat setiap perbuatan manusia, oleh karena itu bekerja
keraslah jikalau kita ingin mencapai sesuatu. Tidak pernah ada yang sia-sia
dari apa yang kita usahakan. Meskipun demikian, beberapa golongan orang
rasionalis terlalu berlebihan dalam menilai rezeki sebagai usaha manusia
sebagaimana golongan tradisionalis menilai bahwa rezeki telah ditentukan Tuhan
sehingga banyak sekali orang hanya beroperasi pada kedua wilayah ini. Padahal
masih terdapat tambahan-tambahan rezeki lain yang diberikan oleh Sang Maha
Pemberi Rizki. Jenis rezeki ketiga adalah rezeki yang akan Tuhan
tambahkan bagi hambanya yang bersyukur. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa Tuhan
akan melipatgandakan nikmat untuk para ahli syukur. Hal ini sangat penting
untuk menghindarkan manusia dari keputusasaan terhadap rezeki dari Tuhan ketika
usahanya mentok. Ketika memang kita sudah berupaya semaksimal mungkin namun
rezeki belum juga menghampiri, kita harus bertawakal dan bersyukur dengan apa
yang masih kita miliki saat ini. Keempat, Tuhan memberikan rezeki
kepada setiap orang yang bertakwa. Betapa kita sebagai umat Islam sangat
dilimpahi rezeki dan nikmat dari Tuhan karena setiap perbuatan kita di jalan
Tuhan akan membuahkan kebaikan untuk kita. Tuhan telah menyatakan bahwa jika
kita membantu dan mempermudah urusan saudara kita, Tuhan pun akan mempermudah
urusan kita. Bahwa jika kita mendekati Tuhan satu langkah, Tuhan akan mendekati
kita dua langkah. Subhanallah. Kelima, Tuhan memberikan rezeki pada orang yang
mengemban tugas berat dari Tuhan seperti para nabi dan orang-orang yang
mendedikasikan hidupnya demi agama dan umat seperti para sahabat Nabi dan para
ulama. Dan meskipun dalam taraf yang berbeda, poin kelima ini pun dapat kita
artikan bahwa sebenarnya setiap umat Islam dapat memperjuangkan rizki Tuhan
dengan berjuang untuk agamanya yang memang sudah seharusnya dilakukan. Saat ini
tak bisa disangkal bahwa peradaban Islam sedang mengalami kemunduran dan banyak
yang bisa dilakukan oleh umat untuk turut merevitalisasi agama kita. Namun
tetap, yang menjadi catatan, bukan dengan kekerasan atau cara-cara sempit lain.
Begitulah, banyak cara mengejar rezeki Tuhan
sehingga tidak seharusnya ada keputusasaan ketika apa yang kita harapkan belum
tercapai. Catatan kecil ini lebih sebagai pengingat untuk diri saya dan semoga
juga bermanfaat untuk pembaca. Selamat berpuasa =)
Hakikat istighfar dan taubat.
Dalil syar’i bahwa istighfar dan taubat termasuk kunci
rezeki.
Hakikat Istighfar dan Taubat Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar
dan taubat hanyalah cukup dgn lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan “Aku
memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.” Tetapi kalimat itu
tidak membekas di dalam hati juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota
badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adl perbuatan orang-orang
dusta. Para ulama semoga Allah memberi balasan
yg sebaik-baiknya kepada mereka telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat.
Imam ar-Raghib al-Ashfahani menerangkan “Dalam istilah syara’ taubat adl
meninggalkan dosa krn keburukannya menyesali dosa yg telah dilakukan
berkeinginan kuat utk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yg bisa
diulangi . Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah
sempurna.” Imam an-Nawawi dgn redaksionalnya sendiri menjelaskan “Para ulama berkata ‘Bertaubat dari tiap dosa hukumnya adl
wajib. Jika maksiat itu antara hamba dgn Allah yg tidak ada sangkut pautnya dgn
hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama hendaknya ia menjauhi maksiat
tersebut. Kedua ia harus menyesali perbuatan nya. Ketiga ia harus berkeinginan
utk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang maka taubatnya tidak
sah. Jika taubat itu berkaitan dgn manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga
syarat seperti di atas dan keempat hendaknya ia membebaskan diri hak orang
tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus
mengembalikannya. Jika berupa had tuduhan atau sejenisnya maka ia harus
memberinya kesempatan utk membalasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah
maka ia harus meminta maaf.” Adapun istighfar sebagaimana diterangkan Imam
ar-Raghib al-Ashfahani adl “Meminta dgn ucapan dan perbuatan. Allah SWT
berfirman “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu sesungguhnya Dia Maha Pengampun.”
. Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dgn lisan
semata tetapi dgn lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan memohon ampun
hanya dgn lisan saja tanpa disertai perbuatan adl pekerjaan para pendusta. Dalil Syar’i bahwa Istighfar dan Taubat Termasuk Kunci Rezeki Beberapa nash Alquran dan hadis menunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rezeki dgn karunia Allah. Di bawah ini beberapa nash dimaksud
Apa yg disebutkan Allah tentang Nuh yg berkata kepada
kaumnya “Maka aku katakan kepada mereka ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’
sesungguhnya Dia adl Maha Pengampun niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu
dgn lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun
dan mengadakan untukmu sungai-sungai’.” . Ayat-ayat di atas menerangkan
cara mendapatkan hal-hal berikut dgn istighfar.
Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan firman-Nya “Sesungguhnya
Dia adl Maha Pengampun.”
Diturunkannya hujan yg lebat oleh Allah. Ibnu Abbas
Radhiallaahu anhu berkata “Adalah yg turun dgn deras.”
Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak. Dalam
menafsirkan ayat Atha’ berkata “Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan
anak-anak kalian.”
Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun.
Allah akan menjadikan untuknya sungai-sungai.
Imam al-Qurthubi berkata “Dalam ayat ini juga disebutkan dalam adl dalil yg
menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta diturunkannya
rezeki dan hujan.” Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata “Maknanya jika
kalian bertaubat kepada Allah meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa
menaati-Nya niscaya Ia akan membanyakkan rezeki kalian dan menurunkan air hujan
serta keberkahan dari langit mengeluarkan utk kalian berkah dari bumi
menumbuhkan tumbuh-tumbuhan utk kalian melimpahkan air susu perahan utk kalian
mem-banyakkan harta dan anak-anak utk kalian menjadikan kebun-kebun yg di
dalamnya bermacam-macam buah-buahan utk kalian serta mengalirkan sungai-sungai
di antara kebun-kebun itu .” Demikianlah dan Amirul mukminin Umar bin Khaththab
juga berpegang dgn apa yg terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon
hujan dari Allah. Muthrif meriwayatkan dari asy-Sya’bi “Bahwasanya Umar keluar
utk memohon hujan bersama orang banyak. Beliau tidak lbh dari mengucapkan
istighfar lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya “Aku tidak
mendengar Anda memohon hujan.” Maka ia menjawab “Aku memohon diturunkannya
hujan dgn majadih langit yg dengannya diharapkan bakal turun air hujan. Lalu
beliau membaca ayat “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu sesungguhnya Dia adl Maha
Pengampun niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dgn lebat.” . Imam
al-Hasan al-Bashri juga menganjurkan istighfar kepada tiap orang yg mengadukan
kepadanya tentang kegersangan kefakiran sedikitnya keturunan dan kekeringan
kebun-kebun. Imam al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih bahwasanya ia
berkata “Ada
seorang laki-laki mengadu kepada al-Hasan al-Bashri tentang kegersangan maka
beliau berkata kepadanya ‘Beristighfarlah kepada Allah!’ Yang lain mengadu
kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya ‘Beristighfarlah
kepada Allah!’ Yang lain lagi berkata kepadanya ‘Doakanlah kepada Allah agar ia
memberiku anak!’ Maka beliau mengatakan kepadanya ‘Beristighfarlah kepada
Allah!’ Dan yg lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka
beliau mengatakan kepadanya ‘Beristighfarlah kepada Allah!’ Dan kami
menganjurkan demikian kepada orang yg mengalami hal yg sama. Dalam riwayat lain
disebutkan Maka ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya ‘Banyak orang yg
mengadukan bermacam-macam dan Anda memerintahkan mereka semua utk beristighfar.
Maka al-Hasan al-Bashri menjawab ‘Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku
sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu
sesungguhnya Dia adl Maha Pengampun niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu
dgn lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu
kebun-kebun dan mengadakan untukmu sungai-sungai’.” . Allahu Akbar! Betapa
agung besar dan banyak buah dari istighfar! Ya Allah jadikanlah kami termasuk
hamba-hamba-Mu yg pandai beristighfar. Dan karuniakanlah kepada kami buahnya di
dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.
Amin wahai Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus Makhluk-Nya.
Ayat lain adl firman Allah yg menceritakan tentang seruan
Hud kepada kaumnya agar beristighfar. “Dan ‘Hai kaumku mohonlah ampun kepada
Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya niscaya Dia menurunkan hujan yg sangat
lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah
kamu berpaling dgn berbuat dosa’.” . Al-Hafizh Ibnu katsir dalam
menafsirkan ayat yg mulia di atas menyatakan “Kemudian Hud memerintahkan
kaumnya utk beristighfar yg dengannya dosa-dosa yg lalu dapat dihapuskan
kemudian memerintahkan mereka bertaubat utk masa yg akan mereka hadapi.
Barangsiapa memiliki sifat seperti ini niscaya Allah akan memudahkan rezekinya
melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman “Niscaya
Dia menurunkan hujan yg sangat lebat atasmu.” Ya Allah jadikanlah kami
termasuk orang-orang yg memiliki sifat taubat dan istighfar dan mudahkanlah
rezeki-rezeki kami lancarkanlah urusan-urusan kami serta jagalah keadaan kami.
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Amin wahai Dzat
Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.
Ayat yg lain adl firman Allah “Dan hendaklah kamu meminta
ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. niscaya Dia akan memberi keni’matan
yg baik kepadamu sampai kepada waktu yg telah ditentukan dan Dia akan memberi
kepada tiap-tiap orang yg mempunyai keutamaan keutamaannya. Jika kamu berpaling
maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.” . Pada
ayat yg mulia di atas terdapat janji dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha
Menentukan berupa keni’matan yg baik kepada orang yg beristighfar dan
bertaubat. Maksud dari firman-Nya “Niscaya Dia akan memberi keni’matan yg baik
kepadamu” sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas adalah “Ia akan
menganugerahi rezeki dan kelapangan kepada kalian.” Sedangkan Imam al-Qurthubi
dalam tafsirnya mengatakan “Inilah buah dari istighfar dan taubat. Yakni Allah
akan memberi keni’matan kepada kalian dgn berbagai manfaat berupa kelapangan
rezeki dan kemakmuran hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yg
dilakukan-Nya terhadap orang-orang yg dibinasakan sebelum kalian. Janji Tuhan
Yang Maha Mulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian balasan sesuai dgn
syaratnya. Syekh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi berkata “Ayat yg mulia tersebut
menunjukkan bahwa beristighfar dan bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa adl
sebab sehingga Allah menganugerahkan keni’matan yg baik kepada orang yg
melakukannya sampai pada waktu yg ditentukan. Allah memberikan balasan atas
istighfar dan taubat itu dgn balasan berdasarkan syarat yg ditetapkan.”
Dalil lain bahwa beristighfar dan taubat adl di antara
kunci-kunci rezeki yaitu hadis yg diriwayatkan Imam Ahmad Abu Dawud an-Nasa’i
Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata Rasulullah bersabda “Barangsiapa
memperbanyak istighfar niscaya Allah menjadikan utk tiap kesedihannya jalan
keluar dan utk tiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki
dari arah yg tiada disangka-sangka.” Dalam hadis yg mulia ini Nabi yg jujur
dan terpercaya yg berbicara berdasarkan wahyu mengabarkan tentang tiga hasil yg
dapat dipetik oleh orang yg memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu bahwa
Allah Yang Maha Memberi rezeki yg Memiliki kekuatan akan memberikan rezeki dari
arah yg tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik
dalam hatinya. Karena itu kepada orang yg mengharapkan rezeki hendaklah ia
bersegera utk memperbanyak istighfar baik dgn ucapan maupun perbuatan. Dan hendaknya
tiap muslim waspada sekali lagi hendaknya waspada dari melakukan istighfar
hanya sebatas dgn lisan tanpa perbuatan. Sebab itu adl pekerjaan para pendusta.
Sumber Kunci-Kunci Rizki menurut Alquran dan as-Sunnah Dr. Fadhl Ilahi
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
sumber file al_islam.chmEmpat Orang yang Dilaknat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
Oleh Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari – hafizhahullah-Naskah ini diangkat berdasarkan khutbah Jum’at Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari – hafizhahullah- di Masjid al Akbar Surabaya, 18 Muharram 1427H bertepatan 17 Februari 2006. Narasi khutbah tersebut diterjemahkan oleh Abdurrahman Thayyib, kemudian kami tulis kembali dalam bentuk naskah, dengan penyesuaian seperlunya, tanpa mengurangi substansi materi. Judul di atas adalah dari Redaksi. Semoga bermanfaat. (Redaksi).
_________________________________________________________
Dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَعَنَ اللهُ مَن ذَبَحَ لِغَيرِ اللهِ, و لَعَنَ اللهُ مَن سَبَّ وَالِدَيهِ, و لَعَنَ اللهُ مَن غَيَّرَ مَنَارَ الأَرضِ,
لَعََنَ اللهُ مَن آوَى مُحدِثَا
Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang mencaci-maki kedua orang- tuanya. Allah melaknat orang yang merubah tanda batas tanah (orang lain), dan Allah melaknat orang yang melindungi orang yang mengada-adakan perkara baru dalam agama (bid’ah).
TAKHRIJ HADITS
- HR Bukhari di Adabul Mufrad, bab (8) man la’ana Allah man la’ana walidaih, no. 17.
- Muslim, dalam Shahih Muslim, kitab al adhahi, no. 3657, 3658, 3659.
- An Nasa-i, dalam as Sunan, kitab adh dhahaya, no. 4346, dan
- Ahmad di berbagai tempat dalam Musnad-nya.[1]
SYARAH HADITS
Di antara nikmat Allah yang terbesar dan anugerahNya yang paling agung, yaitu dijadikannya kita sebagai kaum Muslimin dan kaum Mukminin yang hanya beribadah kepadaNya, dan yang hanya mengikuti NabiNya Shallallahu ‘alaihi was sallam, serta menjadi pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Islam adalah agama yang mulia, tegak di atas al Qur`an dan Sunnah.
Allah berfirman dalam al Qur`an :
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
Dan Kami turunkan kepadamu al Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. [an Nahl : 44].
Al Qur`an adalah dzikr, dan Sunnah adalah dzikr, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Ketahuilah, bahwa aku telah diberi al Qur`an dan yang semisal dengannya”.
Al Qur`an adalah Kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan mukjizat, dan membacanya terhitung sebagai suatu ibadah. Demikian pula Sunnah (hadits) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti yang telah Dia firmankan :
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى , إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى .
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). [an Najm : 3-4].
Dan sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Amru bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya dia pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil bertanya : “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya, Anda terkadang berkata dalam keadaan marah dan terkadang dalam keadaan ridha. Apakah boleh kita menulis semua yang Anda katakan?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Tulis semuanya, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah yang keluar dariku melainkan haq (benar),” sambil menunjuk ke arah mulut beliau yang suci.
Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tafsir bagi ayat-ayat yang global dalam al Qur`an dan pengkhusus bagi ayat-ayat yang umum, serta pengikat bagi ayat-ayat yang mutlak, dan dia adalah wahyu Allah Ta’ala. Di antara wahyu tersebut adalah diberinya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jawaami’ul kalim, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim, Pent), beliau bersabda : “Aku diutus dengan jawaami’ul kalim”. Arti jawaami’ul kalim adalah ucapan singkat, tetapi padat maknanya.
Di antara jawaami’ul kalim tersebut adalah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan pembahasan kita sekarang yang tercantum dalam Shahih Muslim, dari seorang sahabat yang mulia dan seorang khalifah yang mendapat petunjuk, yaitu Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَعَنَ اللهُ مَن ذَبَحَ لِغَيرِ اللهِ, و لَعَنَ اللهُ مَن سَبَّ وَالِدَيهِ, و لَعَنَ اللهُ مَن غَيَّرَ مَنَارَ الأَرضِ, لَعََنَ اللهُ مَن آوَى مُحدِثَا و
Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang mencaci-maki kedua orang- tuanya. Allah melaknat orang yang merubah tanda batas tanah (orang lain), dan Allah melaknat orang yang melindungi orang yang mengada-adakan perkara baru dalam agama (bid’ah).
Hadits ini amat singkat, namun mengandung banyak perkara yang berharga, karena menjelaskan hak-hak yang agung, yang menjadi landasan sosial masyarakat muslim. Jika kaum Muslimin telah mundur ke belakang, maka dengan mewujudkan hak-hak ini, mereka akan kembali menjadi umat yang maju di tengah umat-umat yang lain.
Di dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang hak ibadah, hak sunnah, hak nafs (jiwa), dan hak orang lain. Jika kita mau merenungi keempat hak-hak di atas, maka kita akan mendapatkan hal tersebut telah mencakup semua hak muslim, baik yang berkaitan dengan dirinya, orang lain, dan yang berkaitan dengan Rabb-nya serta NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hak ibadah adalah tauhid yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah”. Bagaimana dia bisa mengarahkan sembelihan kepada selain Allah? Sedangkan tindakan tersebut termasuk ibadah. Dan ibadah adalah sebuah nama yang mencakup hal-hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin, sebagaimana yang telah Allah Azza wa Jalla firmankan :
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(162)لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku (sesembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [al An'am : 162-163].
Menjaga hak tauhid dan ibadah, adalah kewajiban yang harus ditanamkan di dalam hati dan akal pikiran, lalu diwujudkan dalam amal perbuatan dengan penuh keyakinan, tanpa ada sedikit pun keraguan. Bagaimana tidak demikian, sedangkan kita tidaklah diciptakan, melainkan hanya untuk beribadah kepadaNya saja, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. [adz Dzariyaat : 56-58].
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengajarkan kepada sahabat-sahabat beliau yang masih kecil, apalagi kepada yang dewasa tentang hak ibadah ini agar ditanamkan dalam hati, dan tumbuh di dalam akal pikiran serta anggota badan.
Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu –sepupu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya : “Wahai, anak kecil. Aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa perkara. (Yaitu) jagalah Allah, maka pasti Allah menjagamu. Jagalah Allah, pasti engkau akan mendapatiNya di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika engkau memohon pertolongan, mintalah kepada Allah”.
Maka, tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah. Tidak ada yang berhak dimintai pertolongan melainkan Allah. Tidak ada yang berhak dijadikan sumpah melainkan Allah. Dan tidak ada yang berhak diistighasahi, melainkan Allah. Tidak ada yang berhak diserahi sesembelihan dan nadzar, melainkan Allah. Tidak boleh bernadzar kepada Nabi, wali maupun siapa saja, meskipun tinggi kedudukannya. Dengan ini, (seorang muslim) bisa menjaga hak ibadah dan tauhidnya.
Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah melaknat orang yang melindungi muhditsan”.
Al muhdits, adalah orang yang mengada-adakan hal baru dalam agama (bid’ah) dan yang merubah Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal ini, terdapat pemeliharaan terhadap hak Sunnah dan ittiba’ (mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ketika kita mengikrarkan kalimat tauhid Laa ilaha illallah Muhammaddur Rasulullah. Maka, ucapan ini mengandung hak-hak, kewajiban-kewajiban serta konsekuensi-konsekuensi. Dan kalimat tersebut, bukan hanya sekedar huruf-huruf yang digandeng, atau ucapan yang terlepas begitu saja dari lisan. Tetapi, dengan kalimat inilah berdiri langit dan bumi. Tidak diciptakan manusia, melainkan untuk mewujudkan kandungan kalimat tersebut. Dan tidaklah diturunkan kitab-kitab Allah serta diutus para rasul, melainkan karenanya.
Kalimat Laa ilaha illallahu, maknanya tidak ada yang berhak disembah dengan benar, kecuali Allah. Dan kalimat Muhammadur Rasulullah, maknanya tidak ada yang berhak diikuti, melainkan Rasulullah. Sebaik-baiknya perkara adalah apa yang disunnahkannya. Dan sejelek-jeleknya perkara adalah apa yang beliau tinggalkan (bid’ah, Pent). Tidaklah beliau meninggal dunia, melainkan beliau telah menjelaskan segala kebaikan kepada kita dan melarang dari segala kejelekan.
Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dari sahabat Abu Dzar al Ghifari Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata : “Tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kita, sampai-sampai burung yang terbang di udara telah beliau jelaskan kepada kita ilmunya”.
Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang hak Sunnah yaitu hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang berhak diikuti, melainkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaulah suri tauladan yang baik dan yang sempurna bagi kita; bagaimana tidak, sedangkan Allah telah berfirman tentang beliau :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [al Ahzab : 21].
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan, bahwa satu-satunya jalan petunjuk, yang seorang hamba selalu memohonnya lebih dari sepuluh kali sehari semalam di kala shalat fardhu, sunnah maupun nafilah, yaitu اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (Tunjukilah kami jalan yang lurus), adalah dengan mengikuti sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada jalan yang lurus melainkan dengan mengikuti Sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang telah Allah firmankan وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا (Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. –an Nuur : 54). Apabila kalian mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kalian akan mendapat hidayah yang selalu kalian minta kepada Rabb kalian dikala siang dan petang hari. Inilah hak Allah, dan inilah hak RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta hak agamaNya. Maka apakah kita telah menjalankan semua hak-hak ini?
Di bagian yang lain dari hadits ini terdapat peringatan adanya dua kewajiban lain.
Yang pertama, yang merupakan urutan kedua dari hadits di atas, yaitu sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Allah melaknat orang yang mencela kedua orang tuanya”. Ini adalah kewajibanmu dan anda mesti menjadi pemeliharanya dengan baik. Yaitu engkau berbakti kepada keduanya, mendoakan mereka dan menjaga hak-hak mereka, tidak meremehkannya serta tidak menjadi penyebab engkau mencaci kedua orang tuamu.
Hak kedua orang tua, terkadang bisa secara langsung disia-siakan oleh anak yang durhaka, yaitu dengan mencaci-maki ayah atau ibunya karena mencari ridha sang istri, hawa nafsu maupun setannya. Dan sangat disesalkan, hal ini terjadi (di tengah masyarakat kita, Pent).
Adapun yang kedua, secara tidak langsung, yaitu engkau berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain mencaci-maki kedua orang tuamu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci-maki kedua orang tuanya,” para sahabat bertanya,”Bagaimana seseorang bisa mencaci-maki kedua orang tuanya?” maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Dia mencaci-maki ayah orang lain, lalu orang lain itu mencaci maki kembali orang tuanya”. Dan ini (termasuk) di antara arah tujuan syariat, yaitu menutup segala pintu (kejelekan) serta membendung kerusakan. Engkau tidak boleh berbuat suatu yang mengakibatkan kerusakan yang besar di kemudian hari. Tetapi amat disayangkan, perkara ini secara global banyak disepelekan oleh sebagian kaum Muslimin, bahkan oleh Islamiyyin (orang-orang yang bersemangat membela Islam tanpa bekal ilmu yang benar, Pent). Kita melihat, mereka bersemangat dalam banyak perkara dan banyak berbuat sesuatu, dan mereka mengira hal tersebut sebagai suatu bentuk hidayah dan kebenaran, namun hakikatnya tidak seperti itu [2]. Mereka melakukan dengan semangat membara, yang mengakibatkan umat Islam menjadi santapan lezat bagi umat-umat yang lain, dan menjadikan orang-orang kafir menguasai kaum Muslimin dan merampas harta kekayaan mereka.
Ini termasuk menutup segala pintu kejelekan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melarang kita mencaci-maki orang tua, sebuah tindakan yang termasuk dosa, maka bagaimana jika kita melakukannya lebih dari itu? Yaitu mencaci-maki orang tua orang lain, lalu orang tersebut mencaci-maki kedua orang tua kita? Ini termasuk dosa besar. Jika kita melaksanakan ketaatan kepada mereka maka ini termasuk menjaga hak jiwa pribadi (nafs) . Adapun meremehkan dan menyia-nyiakan mereka, maka akibat buruknya akan menimpa dirinya sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : [وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا] Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra’ : 23).
Di dalam ayat ini Allah menyatukan antara ketaatan kepada kedua orang tua dengan ibadah hanya kepada-Nya saja, karena didalamnya terdapat unsur pemeliharaan terhadap hak jiwa sendiri, ayah dan anak.
Adapun hak yang terakhir yang disebutkan dalam hadits ini adalah yang berkaitan dengan hak orang lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadits ini empat hak yaitu : (1). Hak Allah (2). Hak Nabi (3). Hak nafs (4). Hak orang lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah melaknat orang yang merubah tanda batas tanah orang lain” maksudnya dia melanggar hak (tanah) orang lain baik itu tetangganya, kerabat, saudaranya ataupun orang yang jauh darinya. Barangsiapa yang melanggar hak orang lain meski kelihatannya sepele, niscaya akan terkena ancaman dalam hadits ini. Jika melanggar hak tanah orang lain saja yang berkaitan dengan masalah dunia mengakibatkan terlaknat, maka bagaimana kalau pelanggaran tersebut berkaitan dengan hak yang lebih besar dari itu seperti melanggar kehormatan atau kemuliaan orang lain dengan menggunjingnya, mengadu domba, berdusta atas namanya ?
Renungilah sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam : [إِنَّ أربَى الرِبَا استِطَالَة الرَجُلِ فِي عِرضِ أَخِيهِ المُسلِم] Artinya : “Dosa riba yang paling besar adalah seseorang melanggar kehormatan saudaranya muslim” yaitu dengan menggunjingnya, berdusta atas namanya, berburuk sangka kepadanya atau dengan mengadu domba antara dia dengan orang lain. Semua ini terlarang dan merupakan sebab perampasan hak orang lain dan termasuk dosa besar.
Jika kita mengetahui sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Satu dirham (hasil) riba yang dimakan oleh seseorang yang tahu (hukum-nya-pent) lebih besar dosanya di sisi Allah dari pada 36 kedustaan” Apabila ini tingkat paling rendah akibat harta riba, maka bagaimana dengan riba yang paling besar ? Ini semua dalam rangka menjaga hak-hak orang lain baik kerabat maupun orang yang jauh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpesan kepada Mu’adz bin Jabal, beliau bersabda : “Dan pergauli manusia dengan akhlak yang baik”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan (pergaulilah) orang-orang mukmin atau muslimin atau yang berpuasa saja atau orang-orang shalih atau shadiqin saja, tapi beliau malah mengatakan (pergaulilah manusia) maksudnya semua manusia baik dia mukmin atau kafir, shaleh atau tholeh. Karena dengan akhlakmu disertai pemeliharaan terhadap hakmu dan hak orang lain, engkau dapat mengambil hati mereka sehingga engkau bisa menyerunya (kepada kebenaran).
_______
Footnote
[1]. Takhrij ini merupakan tambahan dari Redaksi
[2]. Hal ini seperti yang dilakukan oleh harokiyyin yang selalu semangat dalam mengobarkan api jihad melawan orang-orang kafir dengan melakukan peledakan-peledakan atau pembantaian warga sipil. Mereka kira, dengan semua itu dapat memuliakan Islam dan kaum Muslimin, padahal jika mereka mau merenungi kembali, justru mereka telah menyebabkan kaum Muslimin semakin ditindas dan mencoreng nama Islam. Sungguh benar yang Allah firmankan tentang mereka ini :
[قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا(103)الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. -al Kahfi : 103-104. (Redaksi)
[3]. Kemudian khutbah ini beliau tutup dengan doa. (Redaksi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.