Tiba-tiba dia datang tengah malam dan berdiri di pojok ruang dengan tangan sendekap dan mata merah melotot menatap kearahku
”Masya Allah ada apa ini ...!!?
”ada apa.... ada apa Ndasmu ! ia membentakku dengan ketus
Belum hilang rasa kagetku dia kembali ia nerocos lagi .........
”Kali ini saya tidak bisa memaafkanmu dan aku tidak akan memohonkan ampun kepada Tuhan untukmu....... dan kalau nanti Tuhan bertanya kepada saya apakah sebaiknya kamu dimaafkan, akan saya kemukakan pendapat bahwa kamu harus membayar ongkos yang sangat mahal untuk mungkin memperoleh ampunan. Soalnya kamu ini main-main..............”
”Apa apaani ini ? main-main apa?”..... saya memotong
“Main-main apa ...... kamu ini artis, tapi merasa kiai, kamu ini pedagang tapi merasa juru da’wah, kamu pengemis tapi merasa penyantun.......
Lho,... lho omong apa ini, artis,... pedagang, pengemis...... bagaimana ini ?....
Kemudian, surban yang tersampir disandaran kursi diambilnya dengan kasar, ia lempar kearahku sembari berkata ”Selembar kain yang membuat orang-orang terserang tahayul !. Sehingga, mereka percaya kepada suatu yang tidak bisa dipercaya, hingga mereka merindukan hal-hal yang sejatinya tidak ada.
Belum hilang rasa takutku kembali ia memgangku dan berkata ....
”Dan anehnya kamu menikmati tahayul itu, kamu menikmati kebodohan masal orang-orang yang mengerumunimu di pelosok-pelosok kampung itu, hanya dengan uluk salam yang fasih dan kutipan satu dua firman ditambah kelicinan menggelitik telinga hingga sejenak membuat mereka rileks dan berhaha hihi hingga lupa akan kewajiban menanti, anehnya mereka percaya bahwa kamu adalah segala-galanya bagi umat ini...........
Saya tertunduk lemas, saya sungguh-sungguh tidak mengerti semua ini.
Kamu pikir kamu ini siapa ?!! Kamu adalah mahluk biasa ciptaan Tuhan yang disanjung-sanjung oleh jutaan orang. Tiap hari disanjung-sanjung tiap hari dijunjung-junjung, sehingga kamu sendiri akhirnya yakin bahwa kamu memang pantas untuk disanjung-sanjung. Berjuta orang beranggapan bahwa kamu sedemikian pentingnya bagi mereka, hampir melebihi pentingnya Tuhan itu sendiri. Maka, akhirnya kamu menomorsatukan dirimu, mengutamakan nama besarmu, melahap posisimu. Kamu lupa ,... bahwa kamu tidak penting. Kamu lupa bahwa jangankan kamu, bahkan alam semesta dan seluruh isinya inipun tidak penting yakni pada saat kamu tenggelam dalam kesunyian cintamu yang utuh kepada Tuhanmu : kamu lupa bahwa kamu ini bukan apa-apa...”
”Lantas, kamu pikir apa kamu ini ?” saya balik bertanya dengan nada yang keras pula
”Apa lagi aku !” ia mengejek ....”kamu saja tidak penting, apalagi aku. Justru karena aku tahu terus menerus bahwa aku bukan apa-apa, maka aku punya posisi dan kewajiban untuk mengingatkanmu bahwa kamu ini pun bukan apa-apa. Bodimu yang oke bukanlah ciptaanmu. Mulutmu yang manis bukan bikinanmu, suaramu yang melengking bukanlah produkmu. Retorika dakwah orasi romantikmu bukanlah hasil jerih payahmu. Dan yang paling parah dari semua ini dan yang tidak juga segera kamu sadari adalah kamu merasa paling dibutuhkan oleh mereka ,.. kamu merasa lebih baik dari mereka, kamu lebih alim dari mereka kamu lebih tinggi derajatnya dari mereka bahkan kamulah yang paling pantas masuk sorga duluan ketimbang mereka padahal kamu cuman omong doang yang pinter..... ibadahmu tidak ada apa-apanya dibanding mereka ... infaq zakat dan shodaqah dan kontribusimumu untuk agama ini tidak ada seujung kuku mereka..... kamu datang dijemput pulang diantar dan tak lupa amplop masuk disakumu.... heh... dan kamu lupa baahwa ”yadul ulya khoirun min yadus syufla....” lalu apa yang akan kamu katakan di hadapan Tuhanmu ....
”Masya Allah ada apa ini ...!!?
”ada apa.... ada apa Ndasmu ! ia membentakku dengan ketus
Belum hilang rasa kagetku dia kembali ia nerocos lagi .........
”Kali ini saya tidak bisa memaafkanmu dan aku tidak akan memohonkan ampun kepada Tuhan untukmu....... dan kalau nanti Tuhan bertanya kepada saya apakah sebaiknya kamu dimaafkan, akan saya kemukakan pendapat bahwa kamu harus membayar ongkos yang sangat mahal untuk mungkin memperoleh ampunan. Soalnya kamu ini main-main..............”
”Apa apaani ini ? main-main apa?”..... saya memotong
“Main-main apa ...... kamu ini artis, tapi merasa kiai, kamu ini pedagang tapi merasa juru da’wah, kamu pengemis tapi merasa penyantun.......
Lho,... lho omong apa ini, artis,... pedagang, pengemis...... bagaimana ini ?....
Kemudian, surban yang tersampir disandaran kursi diambilnya dengan kasar, ia lempar kearahku sembari berkata ”Selembar kain yang membuat orang-orang terserang tahayul !. Sehingga, mereka percaya kepada suatu yang tidak bisa dipercaya, hingga mereka merindukan hal-hal yang sejatinya tidak ada.
Belum hilang rasa takutku kembali ia memgangku dan berkata ....
”Dan anehnya kamu menikmati tahayul itu, kamu menikmati kebodohan masal orang-orang yang mengerumunimu di pelosok-pelosok kampung itu, hanya dengan uluk salam yang fasih dan kutipan satu dua firman ditambah kelicinan menggelitik telinga hingga sejenak membuat mereka rileks dan berhaha hihi hingga lupa akan kewajiban menanti, anehnya mereka percaya bahwa kamu adalah segala-galanya bagi umat ini...........
Saya tertunduk lemas, saya sungguh-sungguh tidak mengerti semua ini.
Kamu pikir kamu ini siapa ?!! Kamu adalah mahluk biasa ciptaan Tuhan yang disanjung-sanjung oleh jutaan orang. Tiap hari disanjung-sanjung tiap hari dijunjung-junjung, sehingga kamu sendiri akhirnya yakin bahwa kamu memang pantas untuk disanjung-sanjung. Berjuta orang beranggapan bahwa kamu sedemikian pentingnya bagi mereka, hampir melebihi pentingnya Tuhan itu sendiri. Maka, akhirnya kamu menomorsatukan dirimu, mengutamakan nama besarmu, melahap posisimu. Kamu lupa ,... bahwa kamu tidak penting. Kamu lupa bahwa jangankan kamu, bahkan alam semesta dan seluruh isinya inipun tidak penting yakni pada saat kamu tenggelam dalam kesunyian cintamu yang utuh kepada Tuhanmu : kamu lupa bahwa kamu ini bukan apa-apa...”
”Lantas, kamu pikir apa kamu ini ?” saya balik bertanya dengan nada yang keras pula
”Apa lagi aku !” ia mengejek ....”kamu saja tidak penting, apalagi aku. Justru karena aku tahu terus menerus bahwa aku bukan apa-apa, maka aku punya posisi dan kewajiban untuk mengingatkanmu bahwa kamu ini pun bukan apa-apa. Bodimu yang oke bukanlah ciptaanmu. Mulutmu yang manis bukan bikinanmu, suaramu yang melengking bukanlah produkmu. Retorika dakwah orasi romantikmu bukanlah hasil jerih payahmu. Dan yang paling parah dari semua ini dan yang tidak juga segera kamu sadari adalah kamu merasa paling dibutuhkan oleh mereka ,.. kamu merasa lebih baik dari mereka, kamu lebih alim dari mereka kamu lebih tinggi derajatnya dari mereka bahkan kamulah yang paling pantas masuk sorga duluan ketimbang mereka padahal kamu cuman omong doang yang pinter..... ibadahmu tidak ada apa-apanya dibanding mereka ... infaq zakat dan shodaqah dan kontribusimumu untuk agama ini tidak ada seujung kuku mereka..... kamu datang dijemput pulang diantar dan tak lupa amplop masuk disakumu.... heh... dan kamu lupa baahwa ”yadul ulya khoirun min yadus syufla....” lalu apa yang akan kamu katakan di hadapan Tuhanmu ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.