Rabu, 15 Maret 2017

KH. Hasyim Muzadi (sekilas biografi)

Inilah Profil, Biografi dan Biodata Lengkap KH. Hasyim Muzadi: Ulama Indonesia yang Nasionalis dan Pluralis. Berita duka baru saja menghampiri bangsa Indonesia ata meninggalnya KH Hasyim Muzadi. Tidak kata yang pantas diucapkan kecuali, “Inna lillahi wa inna ilaihi rahiun.”Kalimat penghambaan dan pengakuan umat manusia bahwa dirinya hidup dari Allah SWT dan akan kembali pada-Nya. Islam mengajarkan hikmah besar dari 3 pertanyaan yang oleh setiap orang menjawahnya. Dari mana kita berasal, dimana kita sekarang dan mau kemana kita setelah meninggal.
Mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Pusat itu telah menghebuskan nafas terakhir Kamis, 16 Maret 2017 di kediamnnya Malang sekitar pukul 16.15 WIB. Sepak terjang, kontribusi terhadap bangsa, dan ketokohannya akan senantiasa menjadi motivasi besar generasi penerus. KH Hasyim Muzaki dikenal bisa merangkul mengayomi dan berdiskusi dengan semua kalangan di Indonesia. Solusi dan masalah kebangsaan bukan barang baru arah pemikirannya mewarnai dinamika kehidupan berbangsa. KH Hasyim Muzadi juga merupakan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden saat ini.
Menelisik lebih jauh profil, biografi dan biodatanya akan menjadikan kita bangga memiliki tokoh yang satu ini. Berikut dari WartaSolo.com merangkumkan informasi profil, biografi dan biodata KH Hasyim Muzadi lengkap agar menjadi corong pembelajaran dari sosok bangsa yang penuh dengan kearifan, kebaikan dan kontribusi kepada Indonesia.
Inilah Profil, Biografi dan Biodata Lengkap KH. Hasyim Muzadi merupakan Ulama Indonesia yang Nasionalis dan Pluralis sebagai berikut:
Profil dan Biografi
KH Hasyim Muzadi merupakan ulama Indonesia yang sepak terjangnya diakui oleh dunia internasional. KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan KH. Hasyim Muzadi adalah juga seorang mantan Ketua Umum PBNU yang notabene adalah organisasi Islam terbesar bukan saja di Indonesia, namun juga di dunia. Pemikiran-pemikiran cerdas dari KH. Hasyim Muzadi ini begitu brilian dan sangat relevan dengan perkembangan Islam kekinian. Selalu banyak yang menantikan ulasan dan pendapat beliau terkait masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat maupun negara, terutama mengenai radikalisme.
KH Hasyim Muzadi dikenal memiliki cara pandang yang tenag dalam menghadapi masalah bangsa. Dalam perjalanan karirnya, KH. Hasyim Muzadi tak terlepas dari Nahdlatul Ulama. KH. Hasyim Muzadi semenjak masih muda sudah berkecimpung di ke NU an, dan ini kelihatannya sudah mendarah daging. Keilmuan beliau mengani Islam tentu kita sepakat bahwa beliau adalah Ulama besar yang sangat mumpuni di berbagai bidang ilmu agama.
Di Indonesia, sosok profil KH. Hasyim Muzadi ini dikenal sebagai seorang Ulama yang selalu membawa nafas nasionalis dan pluralis. Sama seperti pendahulunya, Gus Dur, KH. Hasyim Muzadi selalu membawa nafas nasionalisme anti radikalisme dan selalu menjaga kerukunan antar umat beragama melalu nafas pluralis. Perjuangan KH. Hasyim Muzadi untuk Nahdlatul Ulama dan Indonesia tentu kita semua sudah mengetahuinya, terutama dalam menjaga NKRI dari ancaman radikalisme.
Biodata Lengkap KH. Hasyim Muzadi
Nama                                  : KH Achmad Hasyim Muzadi (KH Hasyim Muzadi)
Tanggal Lahir                  : 8 Agustus 1944
Kota Lahir                         : Bangilan, Tuban,
Jabatan                               : Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (1999-2004 dan 2004-2009)
Istri                                      : Hj. Mutammimah
Anak                                   : Enam orang (3 putra dan 3 putri)
Ayah                                    : H. Muzadi
Ibu                                       : Hj. Rumyati
Kemampuan Bahasa     : Indonesia, Arab, Inggris
Riwayat Pendidikan KH. Hasyim Muzadi
Madrasah lbtidaiyah Tuban-Jawa Timur 1950-1953
SD Tuban-Jawa Timur 1954-1955
SMPN I Tuban-Jawa Timur 1955-1956
KMI Gontor, Ponorogo-Jawa Timur 1956-1962
PP Senori, Tuban-Jawa Timur 1963
PP Lasem-Jawa Tengah 1963
IAIN Malang-Jawa Timur 1964-1969
Bahasa 1972-1982
Perjalanan Karir KH. Hasyim Muzadi
Membuka Pesantren Al-Hikam di Jalan Cengger Ayam, Kodya Malang
Anggota DPRD Kotamadya Malang dari PPP
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), Malang
Anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur 1986-1987
Karir Organisasi KH. Hasyim Muzadi
Ketua Ranting NU Bululawang-Malang, 1964
Ketua Anak Cabang GP Ansor Bululawang-Malang 1965
Ketua Cabang PMII Malang 1966
Ketua KAMMI Malang 1966
Ketua Cabang GP Ansor Malang 1967-1971
Wakil Ketua PCNU Malang 1971-1973
Ketua DPC PPP Malang 1973-1977
Ketua PCNU Malang 1973-1977
Ketua PW GP Ansor Jawa Timur 1983-1987
Ketua PP GP Ansor 1987-1991
Sekretaris PWNU Jawa Timur 1987-1988
Wakil Ketua PWNU Jawa Timur 1988-1992
Ketua PWNU Jawa Timur 1992-1999
Ketua Umum PBNU 1999-2004
Ketua Umum PBNU 2004-2009
Anggota DPRD Tingkat II Malang-Jawa Timur
Sekarang menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden
Karya Tulis berupa Buku KH. Hasyim Muzadi
Membangun NU Pasca Gus Dur, Grasindo, Jakarta, 1999.
NU di Tengah Agenda Persoalan Bangsa, Logo, Jakarta, 1999.
Menyembuhkan Luka NU, Jakarta, Logos, 2002.

KEHIDUPAN BELIAU

Kiai Hasyim, begitu ia akrab disapa, menempuh jalur pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada tahun 1950, dan menuntaskan pendidikannya tingginya di Institut Agama Islam Negeri IAIN Malang, Jawa Timur pada tahun 1969. Pria yang lahir di Tuban pada tahun 1944 ini, nampaknya memang terlahir untuk mengabdi di Jawa Timur. Sederet aktivitas organisasinya ia lakoni juga di daerah basis NU terbesar ini.

Organisasi kepemudaan semacam Gerakan Pemuda Ansor (GP-Ansor) dan organisasi kemahasiwaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pernah ia pimpin. Hal inilah yang menjadi struktural menjadi modal kuat Hasyim untuk terus berkiprah di NU.

Kiprah organisasinya mulai dikenal ketika pada tahun 1992 ia terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur yang terbukti mampu menjadi batu loncatan bagi Hasyim untuk menjadi Ketua PBNU pada tahun 1999.

Banyak yang mafhum, sebagai organisasi keagamaan yang memiliki massa besar, NU selalu menjadi daya tarik bagi partai politik untuk dijadikan basis dukungan. Hasyim pun tak mengelak dari kenyataan tersebut. Tercatat, suami dari Hj. Muthomimah ini pernah menjadi anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur pada tahun 1986, yang ketika itu masih bernaung di bawah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Namun, jabatan sebagai Ketua Umum PBNU lah yang membuat Hasyim mendadak menjadi pembicaraan publik dan laris diundang ke berbagai wilayah. Bisa dikatakan, wilayah aktivitas alumni Pondok Pesantren Gontor Ponorogo ini tidak hanya meliputi Jawa Timur, namun telah menasional. Basis struktural yang kuat itu, masih pula ditopang oleh modal kultural yang sangat besar, karena ia memiliki pesantren Al-Hikam, Malang, yang menampung ribuan santri.

Hasyim dikenal sebagai sosok kiai yang memosisikan dirinya sebagai seorang pemimpin Indonesia. Selain sebagai ulama, sosok Hasyim dikenal "nasionalis dan pluralis". Itu sebabnya, ketika terjadi peristiwa Black September, yakni tragedi runtuhnya gedung WTC di Amerika Serikat, yang menempatkan umat Islam sebagai pelaku teroris, kiai yang dikaruniai enam orang putra ini, tampil dengan memberikan penjelasan kepada dunia internasional bahwa umat Islam Indonesia adalah umat Islam yang moderat, kultural, dan tidak memiliki jaringan dengan organisasi kekerasan internasional. Ia adalah sekian dari tokoh umat di Indonesia yang dijadikan referensi oleh dunia barat dalam menjelaskan karakteristik umat Islam di Indonesia.

Integritas Hasyim yang lintas sektoral kini diuji. Ijtihad politik pria berusia 60 tahun ini yang menerima lamaran PDI Perjuangan untuk menjadi cawapres, merupakan bagian dari sosok dirinya yang moderat."Saya ingin menyatukan antara kaum nasionalis dan agama",” ujarnya ketika berorasi dalam deklarasi pasangan capres dan cawapres Megawati-Hasyim Muzadi.

Walaupun memang, tak sedikit yang mencibir dan menyayangkan langkah Hasyim yang terjun ke politik praktis, termasuk dengan pewaris darah biru kaum nahdliyin, Gus Dur. Bahkan, langkah politik pria yang selalu berpeci ini telah menguak perseteruan dirinya dengan Gus Dur yang telah terpendam lama. Namun di atas segalanya, hanya Hasyim yang tahu persis, makna di balik langkah politik menuju kursi kekuasaan yang kini tengah dirintisnya.

NU MENURUT BELIAU : 'NU BUKAN DEMI KEKUASAAN'

NU sebagai ormas terbesar dengan jumlah anggota mencapai 35 juta orang, warga NU tidak boleh dipertaruhkan untuk kepentingan sesaat. Kebesaran nama baik NU, bagi Muzadi, tidak boleh dipertaruhkan demi kepentingan kekuasaan. Ia juga ingin menjaga agar Umat Islam, terutama kaum nahdliyin, tidak terkotak-kotak dalam politik aliran. Namun, bila ada warga NU yang ingin aktif di politik, sama sekali tidak ada halangan. Tetapi, tidak membawa bendera NU secara kelembagaan dalam kiprah politiknya. Paling tidak, hal itu berlaku untuk masa sekarang.

Namun menurutnya, sepanjang mereka membawa visi nasional Indonesia secara utuh, akan disambut baik. NU akan merespons siapapun ketika yang dibicarakan itu masalah nasional dan utuh. Ketika mereka melakukan (atau) tampil sebagai partisan politik, itu ya terserah anggota saya, mau pilih atau tidak. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Muzadi dalam menjalankan organisasinya memiliki prinsip bahwa NU tidak akan berpolitik praktis dengan mengubah diri menjadi partai politik (parpol) pada Pemilu 2004. Menurut dia, pengalaman selama 21 tahun sebagai partai politik cukup menyulitkan posisi NU.

Pengalaman pahit selama 21 tahun menjadi partai politik periode 1952 sampai 1973, kata Muzadi menjadi pertimbangan signifikan dari pengurus besar untuk mengubah bentuk organisasi itu. Waktu itu, kata Muzadi yang sempat menjadi Ketua NU Cabang Malang, kerja orang-orang NU hanya memikirkan kursi legislatif. Sementara kerja NU lainnya seperti usaha memajukan pendidikan dan intelektual umat terabaikan. Menjelang Pemilu 2004, NU didorong oleh berbagai kelompok untuk menjadi partai politik. Desakan menjadBeliau ol juga datang dari kelompok dalam NU (kalangan nahdliyin), tetapi sikap NU tidak goyah. Politik merupakan salah satu kiprah dari sekian banyak sayap NU. Di mata Muzadi, partai politik erat kaitannya dengan kekuasaan dan kepentingan, sementara sifat kekuasaan itu sesaat. Di sisi lain NU dituntut memelihara kelanggengan dan kiprah sosialnya di masyarakat. Oleh karena itu, NU akan menolak setiap upaya perubahan menjadi partai politik.

Mengenai pemimpin bangsa, menurut Muzadi, NU itu tidak berpikir bagaimana mengajukan calon dari NU. Tapi, yang dipikirkan, adakah calon dari mana pun yang mampu melakukan recovery, penyembuhan terhadap Indonesia. Hal itu menurutnya harus lebih dulu dipikirkan daripada intern NU, apalagi ramai-ramai membuat NU terjun langsung di dunia politik.
Munculnya konflik di Indonesia, terutama yang membawa-bawa nama agama hingga pemerintah dan aparat kewalahan menanganinya merupakan masalah serius yang harus diselesaikan. Bila menyangkut konflik antaragama, ia mengatakan NU telah melakukan dialog lintas agama. Sebab, tidak mungkin masalah itu selesai hanya dengan peran satu kelompok saja. Harus melibatkan keduanya. Itu bila konflik ingin dituntaskan.

Hasyim dikenal sebagai sosok kiai yang cukup tulus memosisikan dirinya sebagai seorang pemimpin Indonesia. Selain sebagai ulama, sosok Hasyim cukup “nasionalis” dan pluralis. Apa saja yang dianggap perlu bagi agama, Indonesia, dan NU, Hasyim ikhlas melakukan. Itu sebabnya, dalam kunjungan di AS ini, Hasyim benar-benar seperti mengabdikan diri bagi kepentingan lebih besar. Salah satunya ia tunjukkan dalam bentuk memberikan penjelasan kepada dunia internasional bahwa umat Islam Indonesia adalah umat Islam yang moderat, kultural, dan tidak memiliki jaringan dengan organisasi kekerasan internasional.

Ketika terjadi peristiwa ditabraknya gedung WTC 11 September 2001, di mana AS langsung menuduh gerakan Al Qaeda sebagai pelakunya dan menangkapi orang-orang dan kelompok Islam yang diduga terkait dengan jaring Al Qaeda, posisi Islam moderat Indonesia luput dari tuduhan. Namun hal itu bukan berarti persoalan selesai. Hasyim Muzadi memiliki pandangan, dunia internasional perlu mengetahui kondisi Islam di Indonesia dan perilaku mereka yang tidak menyetujui tindak kekerasan.

Untuk itu perlu upaya komunikasi dengan dunia luar secara intensif. Tak terkecuali dengan AS. Makin banyak dan intens komunikasi maupun kontak ormas-ormas moderat Indonesia dengan internasional dan AS, itu makin positif. Apalagi, di tengah keterpurukan ekonomi, sosial, dan keamanan di Indonesia saat ini, kerja sama internasional jauh lebih berfaedah daripada keterasingan internasional. Hasyim Muzadi pun menjadi tokoh yang mendapat tempat diundang pemerintah AS untuk memberi penjelasan tentang pemahaman masyarakat Islam di Indonesia. Ia cukup gamblang menjelaskan peta dan struktur Islam Indonesia. AS beruntung mendapat gambaran itu langsung dari ormas muslim terbesar Indonesia. Indonesia juga bersyukur karena seorang tokoh ormas muslimnya menjelaskan soal-soal Islam Indonesia kepada pihak luar. “Saya gambarkan, umat Islam di Indonesia itu pada dasarnya moderat, bersifat kultural, dan domestik. Tak kenal jaringan kekerasan internasional,” ujar Hasyim.

Soal kelompok-kelompok garis keras di Indonesia-betapapun jumlah dan kekuatannya cuma segelintir-Hasyim mengingatkan AS bahwa mengatasinya harus tidak sembarangan. Jangan sekali-kali menggunakan represi. Bukan hanya kontraproduktif, tapi bisa memunculkan radikalisme betulan. Sekali AS bertindak, seperti dilakukannya di Afghanistan atau negara-negara Timur Tengah, dengan intervensi langsung, hasilnya bisa runyam. Indonesia tidak bisa dipukul rata dengan Timur Tengah atau negara-negara lain.

Apa alternatif pendekatannya jika represi ditanggalkan? “Saya minta supaya pendekatannya pendekatan pendidikan, kultural, dan social problem solving. Dijamin, gerakan-gerakan kekerasan akan hilang,” tutur Hasyim.

Di sisi lain, AS sadar perlunya menggalang pengertian dan kerja sama dengan Islam moderat di dunia. Di AS sendiri, ada sekitar 5 juta penganut Islam dan kini menjadi agama yang paling cepat pertumbuhannya dibandingkan agama-agama lain. Muzadi juga mengakui, pejabat AS memang memiliki pandangan sendiri tentang masa depan, dunia Islam, dan terorisme. Namun banyak senator AS yang berharap Indonesia menjadi komunitas muslim yang pada masa depan bisa bersahabat dengan dunia. Itu istilahnya mereka, katanya. Sedangkan ukuran AS adalah Indonesia bisa mengatur diri, sehingga tak menjadi sarang “kekerasan.” Namun, menurut Muzadi, yang cukup menggembirakan adalah tidak ada rencana AS sedikit pun untuk menyerang Indonesia.

Lengkap sudah apa yang menjadi pertanyan banyak orang perihal KH Hasyim Muzadi. Sosok bangsa yang bisa “mengemong” seluruh kalangan, menenangkan dan juga menjadi sorotan dunia internasional. Selamat jalan, semoga Allah SWT mengampuni dan memberimu kehidupan yang baik di akhirat. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.