Rabu, 01 Oktober 2014

Arafah dan puasa Arafah

Bagi anda yang masih bingung PUASA AROFAH itu harus mengikuti Pemerintah Arab Saudi atau Pemerintah Indonesia, berikut ini dijelaskan mengenai PUASA AROFAH serta MELURUSKAN pemahaman dari sekelompok orang yang mengatakan bahwa PUASA AROFAH itu HARUS mengikuti Jamaah Haji yang sedang berkumpul di Padang Arofah.

1. Wukuf di Arofah dan Puasa Arofah merupakan dua Syari'at yang BERBEDA. Wukuf di Arofah adalah salah-satu diantara pekerjaan-pekerjaan haji, sedangkan Puasa Arofah bukan salah satu bagian dari Ibadah haji, dan sama sekali bukan karena wukufnya para jamaah haji di padang Arafah.

Penamaan Arofah dari sisi historis bukan karena jamaah haji berkumpul di Arofah tetapi ada beberapa faktor yang menyebabkannya diantaranya Hari tersebut dinamakan Arafah berkaitan dengan peristiwa mimpinya Nabi Ibrahim yang diperintah untuk menyembelih anaknya pada pagi harinya .

Menurut Imam ar-Raghib, al-Baghawi, dan al-Kirmani Arafah adalah
إِسْمٌ لِلْيَوْمِالتَّاسِعِ مِنْ ذِي الحِجَّةِ
Nama hari ke-9 dari bulan Dzulhijjah.
فَعَرَفَ أَنَّهُ مِنَاللهِ فَسُمِّيَ يَوْمَ عَرَفَةَ
“Maka ia mengenal/mengetahui bahwa mimpi itu benar-benar (datang) dari Allah. Maka (hariitu) dinamakan hari Arafah”. Lihat, al-Mughni, III:58

Selain itu kenapa tempat itu dinamakan Arofah disebabkan karena tempat itu merupakan tempat PERTEMUAN ( Ta'aruf ) antara Nabi Adam AS dengan Siti Hawa, sebagaimana dijelaskan Ibnu Abbas ra

وَتَعَارَفَا بِعَرَفَاتِ فَلِذلِكَسُمِّيَتْ عَرَفَاتِ

Dan keduanya ta’aruf di Arafat, karena itu dinamai‘Arafat. (Lihat, al-Kamil fit Tarikh, I:12). Keterangan Ibnu Abas itu dijadikan pinjakan oleh para ulama, antara lain Yaqut bin Abdullah al-Hamuwidalam Mu’jam al-Buldan (IV:104), Ahmad bin Yahya bin al-Murtadha, dalam at-Tajal-Madzhab li Ahkam al-Madzhab, (II:89); ar-Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufradatfi Gharibil Quran (hal. 969)

Dari sini saja SUDAH TERLIHAT JELAS bahwa Hari AROFAH itu semata BUKAN KARENA BERKUMPULNYA JAMAAH HAJI DI PADANG AROFAH.

2. Waktu pelaksanaan PUASA AROFAH itu dalam berbagai literatur hadits penekanan utamanya adalah TANGGAL SEMBILAN DZULHIJJAH.nya bukan satu-satunya karena berkumpulnya jamaah haji di Padang Arofah.

Hal ini dikarenakan penentuan tanggal 1 Dzulhijjah tahun Qomariyyah SETIAP NEGARA berpotensi berbeda-beda. Ini juga DISUNNAHKAN oleh Rasulullah SAW melalui Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim dari Sahabat Kuraib yang berada di Syam (sekarang sekitar Negara Irak) melihat hilai Malam Jum'at kemudian berhari raya Hari Jum'at, ketika Kuraib kembali ke Madinah bertemu Sahabat Abdullah bin Abbas ra ternyata di Madinah melihat hilal Malam Sabtu dan berhari Raya Hari Sabtu. Riwayat ini yang kemudian di-QIYAS-kan oleh mayoritas ulama di dunia untuk penentuan tanggal 1 setiap bulan untuk Tahun Hijriyyah.

Jadi ini berarti MEMBANTAH konsep RUKYAT GLOBAL. Kalo kita Orang Indonesia mengikuti Rukyat Global dan waktunya harus disesuaikan dengan Saudi Arabia, berarti kalo di Indonesia orang sedang berpuasa Arofah kemudian berbuka puasa jam 18.00 WIB maka PUASANYA BATAL DONK karena di Saudi Arabia masih 14.00 siang.

Sekalian saja Sholat fardhu-nya ikut Saudi Arabia, contohnya ketika SHOLAT MAGHRIB di Indonesia pukul 18.00 WIB maka itu berarti masih SHOLAT DZUHUR karena di Saudi Arabia masih jam 14.00 Waktu Saudi.

Dijelaskan lebih lanjut dalam sebuah Hadits menyebutkan SHAUM TIS'A DZULHIJJAH ( Puasa Tanggal 9 Dzulhijjah )

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِالنَّبِيِّ r قَالَتْ كَانَرَسُولُ اللهِ r يَصُومُ تِسْعَ ذِيالْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ– رواهأبو داود وأحمد والبيهقي -

Dari sebagian istri Nabi saw., ia berkata, “Rasulullahsaw. shaum tis’a Dzilhijjah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan” H.r. Abu Daud, Sunan Abu Daud, Juz VI:418, No. 2081; Ahmad, Musnad Ahmad,45:311, No. 21302, 53:424. No. 25263, dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra,IV:285, Syu’abul Iman, VIII:268

3. Berdasarkan pengamatan hilal di negara-negara seluruh dunia pada hari Rabu, 24 September 2014 / 29 Dzulqo'dah 1435 H hampir di semua negara di seluruh dunia TIDAK DAPAT MELIHAT HILAL bahkan di semua negara di benua Afrika dan benua Eropa yang wilayahnya LEBIH BARAT dari Negara Saudi Arabia SEMUANYA TIDAK DAPAT MELIHAT HILAL karena ketinggian hilal masih di bawah 1 derajat.

Maka penentuan 1 Dzulhijjah 1435 H oleh Pemerintah Arab Saudi diproyeksikan BUKAN KARENA PENGAMATAN HILAL LANGSUNG di lapangan, karena dari sisi astronomis Hilal di bawah ketinggian 1 derajat TIDAK MUNGKIN TERLIHAT, dan itu MENJADI FAKTA di wilayah benua Eropa dan Afrika Hari Rabu sore, 24 September 2014 kemarin.

Tetapi kita WAJIB MENGHORMATI keputusan Pemerintah Saudi Arabia karena perbedaan dari sudut pandang FIQH. Dan juga kita TIDAK BOLEH MEMAKSA untuk harus ikut Pemerintah Saudi Arabia atau harus ikut Pemerintah Republik Indonesia.

Terakhir sebagai pengingat saja bahwa Pemerintah Republik Indonesia menetapkan 1 Dzulhijjah 1435 H jatuh hari Jum'at, 26 September 2014 SEHINGGA Puasa Arofah hari Sabtu, 4 Oktober 2014 dan Idul Adha hari Minggu, 5 Oktober 2014.

Sementara Saudi Arabia menetapkan 1 Dzulhijjah 1435 H jatuh hari Kamis, 25 September 2014 SEHINGGA Puasa Arofah untuk wilayah Saudi Arabia hari Jum'at, 3 Oktober 2014 dan Idul Adha hari Sabtu, 4 Oktober 2014.

Pustka Ilmu Sunni Salafiyah, KTB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.