Sabtu, 18 Agustus 2012

Teruskan I'tikafmu


Hari hari Ramadhan telah kita lalui dengan berbagai kegiatan yang tidak seperti hari hari di bulan lainnya mulai dini hari dengan ritual makan bersama dalam santap saur, sore ngabuburit membunuh waktu dengan aktifitas yang entah islami atau tidak yang penting dapat menghilangkan penat tuk menunggu saat adzan magrib untuk berbuka puasa yang galibnya lebih terlihat sangat penting dibanding sholat magrib itu sendiri. Sampai acara acara seremonial bukber, buka bersama tarling, tarawih keliling dan ceramah ceramah bahkan kegiatan kegiatan yg lain biasanya juga harus diupayakan agar dapat bernuansa Ramadhan setidaknya dilabeli dg label yang mengesankan keislaman dan ibadah semisal roadshow seribu bulan, safari ramadhan, konser ta’jil dan tablig akbar belum lagi acara acara tv yang dikemas sedemikian rupa agar terkesan meramadhan sekali lagi terkesan sangat ramadhan tak penting isi dan esensi yang penting disuka oleh semua dan rating tinggi dibarengi banyaknya iklan tak peduli sesungguhnya sangat jauh dari esensi ramadhan apalagi kebanykan kita juga tidak memperdulikan siapa artis pendukungnya.
Sebenarnya ada kegiatan yg sangat ramadhan namun untuk saat ini rasanya kegiatan tersebut semakin memudar, yaitu kegiatan ramadhan zaman Nabi dan para sahabatnya. I’tikaf berdiam diri tafakkur di rumah Allah “masjid”. Bahkan berdiam diri agaknya menjadi suatu yang mewah di zaman ini, zaman yg super gaduh dan hiruk pikuk ini. Berdiam diri melakukan kontemplasi dan tafakkur “perenungan” bisa jadi mungkin dianggap bukan kegiatan sama sekali karena yang dianggap kegiatan untuk saat ini adalah yang bersifat showhbiz termasuk masalah ibadah kepada Tuhan harus juga bersifat show dan show, begitulah kita sekarang digiring oleh nuansa pop culture yang hanya mengutamakan pencitraan diri.
Bulan ramadhan adalah bulan yang sangat tepat untuk melakukan I’tikaf dan kontemplasi tafakkur diri “perenungan” melebihi bulan bulan lainnya bulan paling kondusif untuk melakukan perenungan bulan yang citra, gaya dan nuansanya sama sekali berbeda dibanding sebelas bulan lainnya. Kalau bulan bulan yang lain lebih terasa sekali duniawinya maka bulan ramadhan ini lebih terasa benar ukhrawinya, keakhiratannya. Bahkan para pengusaha atausebenarnya banyak diantara kita yg bermental pebisnis termasuk membisniskan nilai nilai ukhrawi berusaha mencari celah untuk memperoleh keuntungan duniawi dengan memberi embel embel ukhrawi.
Boleh jadi karena minimnya perenungan ini kita jadi sering terkecoh bahkan oleh diri sendiri. Kita sering keliru dan salah dalam anggapan. Kita anggap diri kita dan kegiatan kegiatan kita sudah amat sangat islami dan amat sangat dekat dengan Allah padahal bisa jadi sesungguhnya kegiatan itu jauh dari nilai islami bahkan sangat tidak mendekatkan diri kepada Tuhan. Ini semua karena kegiatan rutin yang telah kita lakukan selama ini nyaris tanpa perenungan. Sikap atau kegiatan tersebut mendarah daging dlam diri kita tanpa sesekali kita renungkan sehingga kita anggap sudah sangat benar dan karenanya kita langsungkan terus menerus. Padahal bila kita mau menyempatkan diri untuk mengi’tikafi dan merenung akan terkuak kekerdilan dibalik ego amalan amalan kita. Entah dari sisi uswah nabi lebih lebih nilai ihlas didalamnya. Betapa amaliah kita lebih sreg bila dilihat dan dinilai sesama manusia dibanding dilihat Allah kita lebih senang berlama lama tadarrus karena pake loadspiker di masjid atau musholla dibanding merenungi ayat demi ayat dalam kesunyian. Kita sering arogan dan memaksakan diri dengan atas nama syiar islam, hingga apapun bukan hanya adzan kita loadspikerkan keseantero penjuru tak peduli hingga larut malam yg kadang juga mengganggu bahkan ada acara tabligh akbar yg sampai jam dua malam baru bubar dengan mengatas namakan syiar namun subuhnya tak ada yg jamaah ke masjid karena kesiangan sehabis tablig akbar dengan mendatangkan muballig ternama. Ada lagi yang sama sekali tak ada contoh dari Nabi namun karena berlangsung lama kita anggap itu sangat islami, yaitu anjuran untuk menghormati bulan puasa yang seringkali juga disertai sweeping oleh sekelompok orang yang dengan angkuhnya merasa paling benar dan paling mulia disisi Allah hanya dengan pakaian mirip Rasulullah dengan pemimpinnya yang fasih melafalkan satu dua ayat kemudian dengan lantang menyeru takbir di sepanjang jalan. Pasti mereka tidak sempat merenung misalnya bahwa Rasulullah yang pakaiannya mereka tiru itu sesungguhnya wajahnya amat sangat menyejukkan dan senantiasa tersenyum dan sama sekali tidak sangar dan menakutkan. Bahwa pribadi yang agamanya mereka bela adalah pribadi agung yang sangat santun beradab, baik di hadapan Allah maupun dihadapan ahmba-hambaNya. Pribadi yang tidak mencaci membabi buta dan menyakiti sesama bahkan sabdanya “almuslimu man salimal muslimuna min lisaanihi wayadihi” Muslim sejati ialah orang yang selalu menjaga agar lisan dan tangannya tidak menyakiti sesamanya. Karenanya tanpa perenungan kita bisa saja terjerumus pada perbuatan yang kita anggap ukhrawi padahal sesungguhnya amat duniawi, kita junjung junjung atas nama amar ma’ruf nahi mungkar padahal sebenarnya sangat anarki. Atau adakalanya kita sepelekan suatu perbuatan sebagai amaliah duniawi padahal sangat ukhrawi.
Apalagi kalo kita tarik garis vertikal akan tingkah polah para pemimpin pemimpin kita yg nyaris tanpa perenungan bagaimana ia nekat membangun kantor kantor mereka dengan fasilitas super mewah dengan biaya dari uang rakyat. Pasti mereka tidak sempat tafakkur tentang misalnya betapa besar biaya yang mereka keruk dari uang rakyat namun dengan kerja yang sama sekali tidak berpihak pada rakyat, apalagi berfikir tentang betapa tersakitinya rakyat yg mereka atas namai sebagai abdinya dan yang mereka wakili belum juga membaik nasibnya seperti dirinya.
Nah, begitu pentingnya I’tikaf perenungan diri bukan hanya selama Ramadhan tapi juga hari hari setelahnya agar kita dapat mengibadahkan hidup ini dengan benar dan penuh keihlasan karena apapun yang kita lakukan akan sia sia jika tanpa keihlasan. Saatnya kita renungkan kembali ramadhan kita ini agar kita dapat lahir kembali “aidil fitri” dengan ibadah yg lebih Islami, lebih samawi, dan lebih ilahi.
# Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin Kullu ‘aamin waantum bikhair #

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.