Hari hari Ramadhan telah kita lalui dengan berbagai kegiatan yang tidak seperti hari hari di bulan lainnya mulai dini hari dengan ritual makan bersama dalam santap saur, sore ngabuburit membunuh waktu dengan aktifitas yang entah islami atau tidak yang penting dapat menghilangkan penat tuk menunggu saat adzan magrib untuk berbuka puasa yang galibnya lebih terlihat sangat penting dibanding sholat magrib itu sendiri. Sampai acara acara seremonial bukber, buka bersama tarling, tarawih keliling dan ceramah ceramah bahkan kegiatan kegiatan yg lain biasanya juga harus diupayakan agar dapat bernuansa Ramadhan setidaknya dilabeli dg label yang mengesankan keislaman dan ibadah semisal roadshow seribu bulan, safari ramadhan, konser ta’jil dan tablig akbar belum lagi acara acara tv yang dikemas sedemikian rupa agar terkesan meramadhan sekali lagi terkesan sangat ramadhan tak penting isi dan esensi yang penting disuka oleh semua dan rating tinggi dibarengi banyaknya iklan tak peduli sesungguhnya sangat jauh dari esensi ramadhan apalagi kebanykan kita juga tidak memperdulikan siapa artis pendukungnya.
Sebenarnya ada kegiatan yg
sangat ramadhan namun untuk saat ini rasanya kegiatan tersebut semakin memudar,
yaitu kegiatan ramadhan zaman Nabi dan para sahabatnya. I’tikaf berdiam diri
tafakkur di rumah Allah “masjid”. Bahkan berdiam diri agaknya menjadi suatu
yang mewah di zaman ini, zaman yg super gaduh dan hiruk pikuk ini. Berdiam diri
melakukan kontemplasi dan tafakkur “perenungan” bisa jadi mungkin dianggap
bukan kegiatan sama sekali karena yang dianggap kegiatan untuk saat ini adalah
yang bersifat showhbiz termasuk masalah ibadah kepada Tuhan harus juga bersifat
show dan show, begitulah kita sekarang digiring oleh nuansa pop culture yang
hanya mengutamakan pencitraan diri.
Bulan ramadhan adalah bulan yang
sangat tepat untuk melakukan I’tikaf dan kontemplasi tafakkur diri “perenungan”
melebihi bulan bulan lainnya bulan paling kondusif untuk melakukan perenungan
bulan yang citra, gaya dan nuansanya sama sekali berbeda dibanding sebelas
bulan lainnya. Kalau bulan bulan yang lain lebih terasa sekali duniawinya maka
bulan ramadhan ini lebih terasa benar ukhrawinya, keakhiratannya. Bahkan para
pengusaha atausebenarnya banyak diantara kita yg bermental pebisnis termasuk membisniskan
nilai nilai ukhrawi berusaha mencari celah untuk memperoleh keuntungan duniawi
dengan memberi embel embel ukhrawi.
Boleh jadi karena minimnya
perenungan ini kita jadi sering terkecoh bahkan oleh diri sendiri. Kita sering
keliru dan salah dalam anggapan. Kita anggap diri kita dan kegiatan kegiatan
kita sudah amat sangat islami dan amat sangat dekat dengan Allah padahal bisa
jadi sesungguhnya kegiatan itu jauh dari nilai islami bahkan sangat tidak
mendekatkan diri kepada Tuhan. Ini semua karena kegiatan rutin yang telah kita
lakukan selama ini nyaris tanpa perenungan. Sikap atau kegiatan tersebut
mendarah daging dlam diri kita tanpa sesekali kita renungkan sehingga kita
anggap sudah sangat benar dan karenanya kita langsungkan terus menerus. Padahal
bila kita mau menyempatkan diri untuk mengi’tikafi dan merenung akan terkuak
kekerdilan dibalik ego amalan amalan kita. Entah dari sisi uswah nabi lebih
lebih nilai ihlas didalamnya. Betapa amaliah kita lebih sreg bila dilihat dan
dinilai sesama manusia dibanding dilihat Allah kita lebih senang berlama lama
tadarrus karena pake loadspiker di masjid atau musholla dibanding merenungi
ayat demi ayat dalam kesunyian. Kita sering arogan dan memaksakan diri dengan
atas nama syiar islam, hingga apapun bukan hanya adzan kita loadspikerkan
keseantero penjuru tak peduli hingga larut malam yg kadang juga mengganggu
bahkan ada acara tabligh akbar yg sampai jam dua malam baru bubar dengan
mengatas namakan syiar namun subuhnya tak ada yg jamaah ke masjid karena
kesiangan sehabis tablig akbar dengan mendatangkan muballig ternama. Ada lagi
yang sama sekali tak ada contoh dari Nabi namun karena berlangsung lama kita
anggap itu sangat islami, yaitu anjuran untuk menghormati bulan puasa yang
seringkali juga disertai sweeping oleh sekelompok orang yang dengan angkuhnya
merasa paling benar dan paling mulia disisi Allah hanya dengan pakaian mirip
Rasulullah dengan pemimpinnya yang fasih melafalkan satu dua ayat kemudian
dengan lantang menyeru takbir di sepanjang jalan. Pasti mereka tidak sempat
merenung misalnya bahwa Rasulullah yang pakaiannya mereka tiru itu sesungguhnya
wajahnya amat sangat menyejukkan dan senantiasa tersenyum dan sama sekali tidak
sangar dan menakutkan. Bahwa pribadi yang agamanya mereka bela adalah pribadi agung
yang sangat santun beradab, baik di hadapan Allah maupun dihadapan
ahmba-hambaNya. Pribadi yang tidak mencaci membabi buta dan menyakiti sesama
bahkan sabdanya “almuslimu man salimal muslimuna min lisaanihi wayadihi” Muslim
sejati ialah orang yang selalu menjaga agar lisan dan tangannya tidak menyakiti
sesamanya. Karenanya tanpa perenungan kita bisa saja terjerumus pada perbuatan
yang kita anggap ukhrawi padahal sesungguhnya amat duniawi, kita junjung
junjung atas nama amar ma’ruf nahi mungkar padahal sebenarnya sangat anarki.
Atau adakalanya kita sepelekan suatu perbuatan sebagai amaliah duniawi padahal
sangat ukhrawi.
Apalagi kalo kita tarik garis
vertikal akan tingkah polah para pemimpin pemimpin kita yg nyaris tanpa
perenungan bagaimana ia nekat membangun kantor kantor mereka dengan fasilitas
super mewah dengan biaya dari uang rakyat. Pasti mereka tidak sempat tafakkur
tentang misalnya betapa besar biaya yang mereka keruk dari uang rakyat namun
dengan kerja yang sama sekali tidak berpihak pada rakyat, apalagi berfikir
tentang betapa tersakitinya rakyat yg mereka atas namai sebagai abdinya dan
yang mereka wakili belum juga membaik nasibnya seperti dirinya.
Nah, begitu pentingnya I’tikaf
perenungan diri bukan hanya selama Ramadhan tapi juga hari hari setelahnya agar
kita dapat mengibadahkan hidup ini dengan benar dan penuh keihlasan karena
apapun yang kita lakukan akan sia sia jika tanpa keihlasan. Saatnya kita
renungkan kembali ramadhan kita ini agar kita dapat lahir kembali “aidil fitri”
dengan ibadah yg lebih Islami, lebih samawi, dan lebih ilahi.
# Selamat Idul Fitri mohon maaf
lahir dan batin Kullu ‘aamin waantum bikhair #

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.